Wayang Wong Tejakula Diakui UNESCO

Wayang Wong Tejakula Diakui UNESCO

Kabupaten Buleleng memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah di Bali yang kaya dengan kesenian unik dan sakral. Salah satu kesenian itu adalah wayang wong (wayang orang-red) yang merupakan kesenian unik dan disakralkan oleh umat Hindu  di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula. Untuk melestarikan kesenian dari ujung timur Buleleng ini, selain dipentaskan pada upacara di pura

Kabupaten Buleleng memang layak dijadikan sebagai salah satu daerah di Bali yang kaya dengan kesenian unik dan sakral. Salah satu kesenian itu adalah wayang wong (wayang orang-red) yang merupakan kesenian unik dan disakralkan oleh umat Hindu  di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula.

Untuk melestarikan kesenian dari ujung timur Buleleng ini, selain dipentaskan pada upacara di pura pemaksan di desa setempat, kesenian yang setiap pementasannya mengambil cerita Rayamayana ini kini mulai sering dipentaskan dalam beberapa even lokal maupun nasional. Pelestarian semakin optimal dengan pengakuan UNESCO yang mengkategorikan Wayang Wong Tejakula sebagai warisan budaya dunia.

Gede Komang salah satu penari wayang wong yang dituakan belum lama ini menceritakan, kesenian wayan wong ini semula berasal dari tarian gambuh. Saat itu penarinya tidak menggunakan penutup muka (tapel,red). Tarian ini dibawakan dengan serasi yang memadukan antara gerak penari dan lantunan tabuh gong. Pementasan tari gambuh ini sempat ditonton dari kalangan kerajaan di Kabupaten Bangli sekitar abad ke -18. Rupanya,

Penonton dari kalangan raja yang dingat dengan nama Anak Agung ini tertarik dengan penampilan tarian gambuh. Saat itu dia menyumbangkan sebuah tapel untuk penari. Pemberian tapel itu kemudian menginspirasi penari gambuh untuk mengkombinasikan tari gambuh menjadi wayang wong. “ Sejak itu rupanya tapel itu menginspirasi untuk merubah tarian gambuh menjadi kesenian wayang wong dan sampai sekarang tapel pemberiannya itu disakralkan bersama tapel-tapel yang lain,” katanya.

Sejak dikreasikan menjadi kesenian wayang wong, lanjut Gede Komang, penari dan penabuhnya pun semakin bersemangat untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian wayang wong. Tapel dari tokoh-tokoh wayang yang dimainkannya terus dilengkapi dan dipelihara. Hanya saja waktu itu pementasannya pada saat akan digelar upacara piodalan di Pura Pemaksan Desa Tejakula dan memenuhi undangan pementasan di pura-pura besar di Bali. Pura di luar Buleleng yang menjadi langganan dan harus mementaskan kesenian wayang wong adalah Pura Dangka Ratu Gede Sambangan, Pura Khayangan Dangsil, dan Pura Beji. “Itu beberapa pura yang selalu mementaskan wayang wong, ketika akan menggelar piodalan dan kami sebagai penari tidak pernah menolak karena sipafnya pementasan untuk alam niskala, dan kami tulus ngayah untuk pentas,” tegasnya.

READ  Found, Ancient Jar Containing Chinese Perforated Coins

Dalam perjalanannya, kesenian wayang wong mulai pentas di luar kepentingan ritual di pura. Menurut Gede Komang, bagi penari dan penabuhnya pentas dalam artian bukan untuk kepentingan niskala, adalah satu kesempatan untuk melestarikan dan memperkenalkan kepada publik terhadap kesenian wayang wong. Sehingga sekitar tahun 1970-an, akhirnya dibentuk sanggar seni Wayang Wong Teja Murti Tejakula. Sanggar ini terdiri dari 30 orang penari dan ditambah 15 orang penabuh. Sejak dibentuk, sanggar ini mulai mementaskan tarian wayang wong dalam even lokal seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), maupun even promosi pariwisata yang dilakukan pemeirntah daerah di luar daerah.

Setiap pementasannya, lanjut Gede Komang, wayang wong selalu menampilkan cerita pewayangan tersohor yakni Ramayana, pementasnanya terkadang mengambil satu episode saja dengan durasi 2,5 jam . Bagaimana dengan ketertarikan generasi penerus untuk mempelajari tarian wayang wong, kata Gede Komang penerus tarian sakral ini secara otomatis sudah memiliki penerus. Hal ini dibuktikan dengan anak atau cucu dari penari dan penabuh wayang wong yang tertarik untuk meneruskan kesenian yang menjadi warisan leluhurnya. Hal ini juga dikuatkan dengan adanya kepercayaan di kalangan warga kalau seseorang mencoba untuk  tidak mau meneruskan kesenian ini, maka bisa saja hidupnya akan tidak bahagia seperti mengalami sakit. “Karena ini menjadi kesenian sakral dan sifatnya turun temurun, jadi penerus itu pasti ada dan sekarang saja sudah ada anak-anak atau cucu-cucu dan keponakan kami yang ikut menari atau menabuh,” jelasnya. (BTN/kmb)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Duuran Gemilang – United Colour of Pottery

Latest Posts

Most Commented

Wapa Di Ume
Soham Welness Center
Pramana