“Ngrebeg” di DTW Alas Kedaton

“Ngrebeg” di DTW Alas Kedaton

Sudah menjadi tradisi, prosesi “ngebek” bagian dari piodalan (upacara) di Pura Dalem Kahyangan Kedaton yang terletak di kawasan wisata Daya Tarik Wisata (DTW) Alas kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan menjadi daya tarik wisatawan. Tak hanya menarik bagi wisatawan mancanegara, tetapi juga wisatawan domestic bahkan masyarakat lokal. Maka jangan heran, pada saat piodalan yang jatuh

Sudah menjadi tradisi, prosesi “ngebek” bagian dari piodalan (upacara) di Pura Dalem Kahyangan Kedaton yang terletak di kawasan wisata Daya Tarik Wisata (DTW) Alas kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan menjadi daya tarik wisatawan. Tak hanya menarik bagi wisatawan mancanegara, tetapi juga wisatawan domestic bahkan masyarakat lokal. Maka jangan heran, pada saat piodalan yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia, Selasa (27/9) dipadati wisatawan.

Piodalan tersebut memiliki keunikan tersendiri. Diawali dengan mapeed yang dilakukan oleh bu-ibu dengan pakaian adat dengan menjunjung gebogan (sesajen) secera beriringan. Mereka berjalan dari masing-masing banjar menuju pura dangan iringan gamelan baleganjur. Dari 12 banjar adat sebagai peserta maped prani, 5 banjar adat yang ngiring Tapakan Ida Bhatara berupa Barong Ket dan Barong Landung dengan suasana magis.

 8

Piodalan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton hasus selesai pada saat sandikala (pergantian waktyu dari siang ke malam), sekitar pukul 18.20 wita. Karama ada pantangan untuk tidak menyalakan api sebagai penerangan. Maka pada saat sembahyang, pemedek (orang yang hendak bersembahyang) tidak memakai dupa (api-apian) dan kwangen. Juga tidak membuat penjor dan tamiang (sarana upacara) harus dibuat dari daun pisang emas, bukan dari janur seperti tamiang biasanya.

Setelah prosesi piodalan selesai, kemudian dilanjutkan dengan tradisi “ngrebeg”. Diawali dengan membunyikan kulkul (kentongan). Anak-anak dan remaja sudah siap dengan membawa peralatan upacara seperti tedung, bandrang, lelontek dan tombak. Jika ada yang tidak mendapatkan sarana upacara itu, mereka mengambil ranting-ranting pohon untuk perkakas “ngerebeg”. Tabapakan Ida Bhatara seperti Barong Ket dan Barong Landung tedun (keluar) dari balai paruman untuk menyaksikan prosesi “ngerebeg” .

Seluruh pemangku se-Desa Kukuh mempersiapkan tirta di dalam bumbung, juga menyiapkan tuak, arak, berem yang dipersembahkan kepada bhuta kala. Ketika pemangku memerciki tirta, masyarakat bersorak membahana. Sementara anak-anak, remaja dan orang tua yang telah membawa tumbak, lelontek, tedung dan ranting pohon melesat berlari mengitari areal pura sebanyak tiga kali.

READ  ISI Denpasar Lepas 305 Seniman Akademis

Bendesa Adat Kukuh, I Gede Subawa, menjelaskan, “ngerebeg” sebagai symbol ungkapan suka cita karena seluruh rangkain upacara di Pura Kahyangan Kedaton usai dengan labda karya sidaning don (sempurna). “Ngrebeg” bermakna greget merupakan tradisi yang telah diwarisi secara turun temurun. “Tradisi ini sudah kami warisi sejak nenek moyang,” jelasnya. (BTN/015)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Furama Ubud

Latest Posts

Most Commented

Soham Welness Center
Wapa Di Ume
Pramana