” Maprani ”, Tradisi yang Tak Boleh Hilang

” Maprani ”, Tradisi yang Tak Boleh Hilang

Krama Bali di Denpasar Timur umumnya menggelar upacara Maprani sebelum melakukan Tawur Agung Kasanga dan ngarak ogoh-ogoh saat Pangerupukan. Prosesi ini dipusatkan di balai banjar atau di wantilan desa adat. Di Desa Adat Kesiman, prosesi Maprani selain dilakukan secara mandiri tiap banjar, namun juga ada yang bergabung antarbanjar panyatusan. Seperti yang dilakukan krama Banjar Kedaton

Krama Bali di Denpasar Timur umumnya menggelar upacara Maprani sebelum melakukan Tawur Agung Kasanga dan ngarak ogoh-ogoh saat Pangerupukan. Prosesi ini dipusatkan di balai banjar atau di wantilan desa adat. Di Desa Adat Kesiman, prosesi Maprani selain dilakukan secara mandiri tiap banjar, namun juga ada yang bergabung antarbanjar panyatusan. Seperti yang dilakukan krama Banjar Kedaton dan Bukitbuwung.

Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun kedua pangelingsir banjar untuk menjaga paiketan dan pasemetonan dalam bingkai manyama braya. Bahkan sejak membuat olahan lawar hingga ngelawar, kedua krama banjar ini melakukannya secara bersama-sama dan dipusatkan secara bergiliran. Namun, upacara Maprani dilakukan bersama di wantilan Pura Petilan, seperti yang dilakukan Senin (27/3).

Upacara Maprani ini, menurut tokoh Puri Ageng Pemayun Kesiman Gusti Ngurah Gede, S.H., secara spiritual untuk mengucapkan syukur kepada semua makhluk hidup (sarwaprani). Sedangkan secara sosial untuk memperkuat hubungan kekeluargaan antarumat manusia. Konsep basudewa kutumbakam (kita semua bersaudara), benar-benar ditanamkan untuk dilanjutkan pada generasi berikutnya. Makanya, jangan heran baik orang dewasa dan anak-anak diikutkan di acara ini sebagai proses pengenalan bahwa kita adalah bersaudara dan manyama braya. Ini yang membuat tradisi ini tak boleh hilang.

Karena ini tradisi kuno dan memiliki nilai relevansi sepanjang zaman, Klian Adat Banjar Kedaton Kesiman A.A. Ketut Agung, S.H. dan Klian Banjar Bukitbuwung I Wayan Mudita tak berani menghapuskan tradisi mebat dan maprani bersama. Lagi pula, kata A.A. Ketut Agung, tradisi ini sangat mahal di tengah makin memudarnya rasa persatuan bangsa dewasa ini. Ciri-ciri penguatan persaudaraan saat maprani diisi dengan saling menukar menu makanan dan makan bersama-sama. (kmb)

READ  Nusa Penida Festival Siap Digelar


Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Duuran Gemilang – United Colour of Pottery

Latest Posts

Most Commented

Wapa Di Ume
Soham Welness Center
Pramana