Candi Cetho Karanganyar, Peninggalan Kerajaan Hindu Menjadi Tujuan Wisata

Candi Cetho Karanganyar, Peninggalan Kerajaan Hindu Menjadi Tujuan Wisata

Candi Cetho merupakan salah satu tempat wisata yang belakangan ini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Lokasinya ada di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Letaknya yang berada pada ketinggian dengan aneka tanaman lokal, perkebunan teh, bawang dan lainnnya membuat suasana adem dengan panorama yang sangat indah. Pemandangan pengunungan yang mengitari

Candi Cetho merupakan salah satu tempat wisata yang belakangan ini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Lokasinya ada di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Letaknya yang berada pada ketinggian dengan aneka tanaman lokal, perkebunan teh, bawang dan lainnnya membuat suasana adem dengan panorama yang sangat indah.

Pemandangan pengunungan yang mengitari areal Candi tampak sangat indah. Ada Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Wisatawan juga disuguhkan dengan pemandangan luas Kota Surakarta dan Kota Karanganyar yang terbentang luas di bawah. Apalagi di malam hari, akan tampak kebyar-kebyar lampu penerangan jalan dan rumah.

Wisatawan domestik terutama dari Pulau Dewata sering memanfaatkan tempat bersejarah ini untuk melakukan kegiatan wisata spiritual. Sebut saja pada Rabu (19/4), Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta bersama rombongan disela-sela kegiatan Pekan Iinformasi Pembangunan (PIP) di Kabupaten Kudus dan Kabupaten Bantul melakukan persembahyangan bersama di candi yang menyerupai bentuk punden berundak. Sementara wisatawan asing hanya mengabadikan momen yang ada.

Harsono, seorang petugas pariwisata di dusun itu mengatakan, dalam setiap hari selalu saja ada wisatawan yang berkunjung ke daya tarik wisata Candi Cetho ini. Pada hari-hari libur nasional, wisatawan domestik dari Surabaya dan di kota-kota lain di Jawa biasa mengunjungi candi ini. Demikian pula terhadap wisatawan asing. “Pada bulan ini kunjungan wisatawan asing bisa dihitung dengan jari, tetapi berbeda mulai Juni kunjungan wisatawan asing mengalir datang,” ucapnya.

Kompleks candi biasanya digunakan oleh penduduk setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen.

Jero Mangku Gede Ceto mengatakan, pada saat berlangsungnya piodalan di Candi Cetho ada kegiatan unik yang menjadi daya tarik tersendiri buat wisatawan. Piodalan yang dilaksanakan setiap 210 hari tepatnya pada Anggara Kasih Medangsia itu diikuti oleh semua umat yang ada di Dusun Cetho. Tak hanya warga Hindu, tetapi juga warga yang beragama Islam dan Kristen. Mereka melakukan kegiatan spiritual itu berdasarkan Adat Dusun Cetho yang bekerja dengan bahu membahu.

READ  "Makepung" Permainan Petani di Jembrana

Dusun Cetho yang terdiri dari 100 kepala keluarga (KK) sebanyak 70 KK memeluk Agama Hindu itu mula-mula menghaturkan pejati yang berisi ayam panggang. Sesajen itu dibuat oleh masing-masing KK, setelah dihaturkan kemudian megibung (makan bersama). Syaratnya, masing-masing KK tidak boleh menikmati ayam pamgganya sendiri, malinkan buatan KK yang lain. “Aktivitas ini masih lestari hingga kini sebagai wujud toleransi diantara warga,” jelas Harsono.

Sejarah Candi Cetho Karanganyar ini dibangun sekitar abad ke-15 di akhir masa kejayaan Kerajaan Majapahit Hindu. Candi Cetho ditemukan seorang arkeolog  Belanda yang bernama Van de Vlies sekitar tahun 1842. Pertama kali ditemukan keadaan candi cetho sangat memprihatinkan, hanya terdapat 14 teras dengan kondisi batuan sudah ditutupi oleh lumut. Pemugaran selanjutnya dilakukan oleh Humardani seorang asisten pribadi Presiden Soeharto pada tahun 1970. (BTN/bud)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Furama Ubud

Latest Posts

Most Commented

Soham Welness Center
Wapa Di Ume
Pramana