“ Tumpek Krulut ” Otonan Gemelan Memuja Dewa Iswara

“ Tumpek Krulut ”  Otonan Gemelan Memuja Dewa Iswara

Umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Tumpek Krulut setiap enam bulan sekali atau dalam kurun waktu 210 hari. Upacara tersebut jatuh pada Saniscara, kliwon, wuku Krulut atau pada, Sabtu 20 Mei 2017. Pada hari Tumpek Krulut, sering pula dsisebut dengan odalan atau otonan gong, karena umat Hindu di Bali melaksanakan upacara terhadap perangkat suara tersebut,

Umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Tumpek Krulut setiap enam bulan sekali atau dalam kurun waktu 210 hari. Upacara tersebut jatuh pada Saniscara, kliwon, wuku Krulut atau pada, Sabtu 20 Mei 2017. Pada hari Tumpek Krulut, sering pula dsisebut dengan odalan atau otonan gong, karena umat Hindu di Bali melaksanakan upacara terhadap perangkat suara tersebut, sehingga memiliki suara yang indah dan taksu.

Prof.Dr.Drs. I Made Surada, MA, dosen Institut Hindu Dhrama Negeri (IHDN) Denpasar mengatakan, secara harviah krulut berasal dari kata lulut yang artinya tresna, kasih sayang.Pada saat itu umat Hindu melaksanakan upacara terhadap segala jenis gamelan, memuja Tuhan dalam manistasinya sebagai Dewa Iswara. “Tumpek krulut sesungguhnya melaksanakan pemujaan terhadap Sanghyang Iswara yang diyakini sebagai dewa dari suara yang muncul dalam kesemian yang berupa musik atau gong,” jelasnya.

Pada upacara Tumpek Krulut, umat Hindu memberikan sesajen banten kepada gamelan, mulai dari galeman gong kebyar, semara pagulingan, gong gede, kebua, gender dan gamelan yang lainnya. “Dengan melaksanakan upacara itu, memohon agar gamelan tersebut dapat berfungsi sebagaimana dapat memberikan rasa keindahan, keseimbangan dan keharmonisan dalam bekesenian. Karena hidup ini tak dapat dipisahkan dari rasa keindahan,” imbuhnya.

Lalu dijaman kini, kasih sayang sering dikaitkan dengan valentine day. Umat Hindu di Bali, sesungguhnya mempunyai hari kasih sayang yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. “Upacara tersebut untuk mengingatkan kembali Umat Hindu agar saling mengasihi pada sesama, sehingga muncul rasa bahagia, tenang, senang dan sejahtera. Tanpa hidup senang dan saling mengasihi, tujuan hidup tidak akan tercapai. Kalau di India dikaitkan dengan hari Raksa Bandan yang juga saling sebagai hari kasih sayang,” paparnya.

READ  Inna Bali “PhotoHunt” 2016

Prof. Surada mengatakan, memaknai upacara Tumpek Krulut secara kedalam atau pada diri maka Iswara itu apa yang ada dalam sabda manusia, suara manusia maka manusia disebut ada. Manusia ada dengan ciri adanya suara. Ketika manusia mengadakan kontak kepada orang lain itu didominasi oleh suara. “Maka itu ada sesenggak (pepatah), munyi ane medasar terus diingat (dengan suara memakai logika dan etika akan selalu diingat),” ujarnya.

Munyi, suara juga dapat mencelakai diri manusia sesndiri jika bersuara sembarangan. Bahkan bisa berakibat kematian. Begitu juga sebalikanya, jika suara bagus bisa mendapat teman dan sesuatu yang bermanfaat. Memaknai upacara Tumpek Krulut tak hanya pada gamelan saja atau pada sisi luar saja, tetapi yang paling penting ke dalam diri yaitu sadar akan suara itulah yang menyatakan eksistensi orang.

Maka itu sangat jelas disebutkan dalam ajaran Hindu disebutkan ; wasista nimitanta menemu pati (karena berbicara engkau menemukan kematian), wasista nimitanta menemu mitra (karena berbicara engkau mendapatkan teman), dan wasista nimitanta manemu laksmi (karena berbicara engkau menemukan kebahagiaan).

Dalam melaksankan upacara Tumpek Krulut, disesuaikan dengan desa kala patra. Kalau di kost cukup menghaturkan sesajen di pelanggkiran. Jika di rumah bisa di Sanggah Rongtelu Sanggah kemimitan karena Umat Hindu yakin Bhatara Hyang Guru. Kalau ditemoat lain, ditentukan dengan semaya (kesepakatan). Boleh di Pura Desa atau dimanakpun bisa. Dan yang penting melaksanakan upacara dengan ketulusan. “Asal adanya keseimbangan keluar dank e dalam diri. Kita Bisa ngelinggihang Ida Bhatara Gamalen di dalam diri,” tambahnya.

Begitulah cara Umat Hindu mengyikapai upacara agar dapat membantu dalam memberikan kebahayagaian. Tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga benda dihormati dengan upacara. “Dan yang perlu diingat, pada upacar Tumpek Krulut tak memuja gamelan, tetapi mempersembahkan kepada Dewa Gamelan agar berfungsi untuk memberi keindahan juga bermaftaat pada manusia,” pungkasnya. (BTN/bud)

READ  PT XL Axiata Dukung Pariwisata Bali


Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Duuran Gemilang – United Colour of Pottery

Latest Posts

Most Commented

Wapa Di Ume
Soham Welness Center
Pramana