Dewi Sinta Hotel & Restaurant Pentaskan Kecak Setiap Hari

Dewi Sinta Hotel & Restaurant Pentaskan Kecak Setiap Hari

Menyaksikan keunikan seni tradisional Cak atau biasa juga disebut Kecak, tak mesti harus pergi ke Batubulan ataupun ke Uluwatu. Kesenian klasik yang menyajikan jalinan suara manusia sebagai kekhasannya bisa juga disaksikan di Objek Wisata Tanah Lot, tepatnya di Dewi Sinta Hotel & Restaurant. “Kami kembali mempersembahkan Cak kepada wisatawan setelah fakum beberapa tahun,” kata I

Menyaksikan keunikan seni tradisional Cak atau biasa juga disebut Kecak, tak mesti harus pergi ke Batubulan ataupun ke Uluwatu. Kesenian klasik yang menyajikan jalinan suara manusia sebagai kekhasannya bisa juga disaksikan di Objek Wisata Tanah Lot, tepatnya di Dewi Sinta Hotel & Restaurant. “Kami kembali mempersembahkan Cak kepada wisatawan setelah fakum beberapa tahun,” kata I Gst Gede Aryadi pemilik Dewi Sinta Hotel & Restaurant.

Kesenian Kecak ini disajikan kepada wisatawan setiap hari sekitar pukul 18.30 wita atau setelah menyaksikan sunset di objek wisata Tanah Lot. Sebagai pendukungnya adalah masyarakat setempat yang lebih banyak berprofesi sebagai petani, dengan nama Sekaa Kecak Candra Bhuana Tanah Lot. Dalam penampilannya, sekaa yang melibatkan seniman cilik dan remaja ini mengusung ceritera Ramayana dengan kisah Rama dan Sinta.

Walau mereka bukan seniman akademis, namun kesenian kecak yang mereka bawakan tergolong kreatif dan inovatif yang mampu memukau penonton. Dalang yang menggunakan bahasa Bali, Indonesia dan kadang-kadang berbahasa Inggris membuat wisatawan cukup mengerti, sehingga pada adegan tertentu mereka tertawa bahkan memberi celetukan dengan maksud memberi semangat pada sang tokoh. “Wisatawan sangat puas dengan pertunjukan kecak ini,” aku Aryadi.

Tokoh raksasa yang kocak sering kali menggoda wisatawan dengan gerak lucunya. Mereka terkadang memadukan gerak tari dengan goyang artis yang menjadi trend di jaman ini. Hal ini tentu tak lepas dari budaya tontonan dan hiburan yang atraktif. Apalagi masih dalam adegan bermain, penari raksasa itu menyerahkan tapelnya kepada wisatawan kemudian menari secara bersama-sama. “Terkadang ada tamu yang ingin menari, maka kami melibatkan mereka sebagai penari dayang-dayang,” uangkap I Putu Erawan, Ketua Sekaa Kecak itu.

READ  Hungary Promosikan ‘’Wine’’ di Bali

Tak hanya itu, wisatawan yang ingin terlibat dalam menari kecak juga diberikan kesempatan. Mereka disiapkan pakaian sama seperti penari kecak lalu menari secara bersama-sama. “Dulu ada tamu dari Jepang yang ingin menari Kecak, kami berikan. Mereka sangat senang, karena selain menonton juga bisa terlibat dan merasakan sebagai penari secara langsung,’ ujar Putu Erawan.

Adegan yang paling disukai wisatawan, ketika para penari memainkan api. Api itu muncul pada saat Sang Hanoman membakar Kerajaan Alengka sehingga api berserakan. Saat itu penari cak bermain api, seperti dalam Tari Sanghyang di Bali. Lalu, Sang Rahwana keluar kemudian di panah oleh Sang Ramadewa, sehingga Rahwana tewas. Terus ada tamu yang dari makassar ikut menari menjadi sita. Terus menjadi dayang. Bisa merasakan menari baru maka diberikan kesempatan. Kadang wisatawan jepang ikut main cak menari api.

Selain untuk memberikan menghibur wisatawan, adanya sekaa kecak ini juga untuk melestarikan kesenian Bali. Juga untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak muda terlibat dan ikut menari kecak. “Kecak ini berdiri sejak 2009. Sebelumnya pentas di areal Surya Mandala kini di open stage Dewi Sinta Hotel dan Restaurant,” pungkas Putu Erawan. (BTN/bud)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Lataliana Villa

Latest Posts

Most Commented

Soham Welness Center
Wapa Di Ume
Pramana