Karangasem Cuma Dapat Ampas dari Pariwisata Lho, Mengapa Bisa Begini?

Karangasem Cuma Dapat Ampas dari Pariwisata Lho, Mengapa Bisa Begini?

Kabupaten Karangasem menuntut adanya keberpihakan terhadap gemerincing dolar dari pesatnya perkembangan pariwisata di Bali. Sebab, meski kunjungan pariwisata Bali sangat tinggi, nyatanya Karangasem tak dapat apa-apa. Bumi Lahar ini, begitu Karangasem sering disebut, hanya dapat ampas dari geliat pariwisata Bali. Hal itu menjadi sorotan Ketua Badan Pengelola Taman Soekasada Ujung, Ida Made Alit, saat hadir

Kabupaten Karangasem menuntut adanya keberpihakan terhadap gemerincing dolar dari pesatnya perkembangan pariwisata di Bali. Sebab, meski kunjungan pariwisata Bali sangat tinggi, nyatanya Karangasem tak dapat apa-apa.

Bumi Lahar ini, begitu Karangasem sering disebut, hanya dapat ampas dari geliat pariwisata Bali. Hal itu menjadi sorotan Ketua Badan Pengelola Taman Soekasada Ujung, Ida Made Alit, saat hadir pada  koordinasi pengembangan destinasi pedesaaan dan perkotaan pemerintah pusat di Karangasem, Selasa (22/8).

Menurutnya, sebagian besar objek maupun daya tarik wisata terkenal yang ada di Bali, ada di Karangasem. Seperti Pura Agung Besakih, Tirtagangga, Taman Soekasada Ujung, Tulamben, Amed, Candidasa, Tenganan dan masih banyak lagi  lainnya.

Bahkan, kini sudah berkembang menjadi 57 objek dan daya tarik wisata. Dengan banyaknya pilihan objek, baik itu heritage, atraksi budaya, agrowisata dan lainnya, kunjungan wisatawan memang dirasakan meningkat ke Karangasem. Tetapi, selama ini kata Ida Made Alit, wisatawan tidak pernah menginap di Karangasem. ‘

’Kalau ke Bali, wisatawan menginap di Badung, Denpasar, atau Gianyar. Berkunjungnya ke Karangasem. Yang punya potensi kami. Tapi yang dapat dolarnya mereka. Bagaimana seharusnya kami mengatasi situasi ini?’’ keluh Ida Made Alit.

Persoalan ini sebenarnya sudah terjadi dan disadari sejak lama. Tapi, hingga sekarang belum ada solusi  tepat untuk mengatasinya. Saat ini, Karangasem memang sedang giat membangun pariwisata agar bisa menggantikan sektor galian C sebagai penyumbang PAD terbesar di Karangasem.

Bahkan, Karangasem berani menargetkan kunjungan satu juta wisatawan per tahun. Meski dukungan akomodasi pariwisata cukup baik, tetapi Karangasem masih belum bisa ‘’memaksa’’ wisatawan agar menginap di Karangasem.

Pembangunan pariwisata agar maksimal menjadi penyumbang PAD, juga menjadi sorotan Dinas Kebudayaan. Sekretaris Disbud Karangasem, Komang Subadra, mengatakan apa yang menjadi modal Karangasem dengan destinasi maupun seni budayanya, seharusnya bisa berbanding lurus dengan berkontribusi besar untuk menyumbang PAD kepada pemerintah daerah.

READ  SMP TUNAS HARAPAN JAYA ''GOES INTERNATIONAL''

‘’Tujuan akhir pemerintah daerah terhadap pembangunan pariwisata kan agar dapat menunjang PAD ini. Jadi, kita punya potensi, tapi yang menikmati wilayah lain. Ini kan masalah besar,’’ katanya. Pembicara dari Universitas Pancasila Jakarta, Dr. Devi Krisnandha Kausar, pada   pertemuan itu juga belum bisa memberikan solusi yang dibutuhkan Karangasem. Atas persoalan ini, Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila itu   mengatakan, masalah kewilayahan ini sudah menjadi masalah klasik di Indonesia.

Dia melihat ini disebabkan karena wilayah Bali relatif kecil. Jadi, jarak antarkabupaten/kota tidak terlalu jauh. Ini membuat wisatawan enggan  memilih menginap di Karangasem, karena jarak Denpasar – Karangasem saat ini sudah bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam.

‘’Tidak hanya di Bali. Masalah serupa juga dialami teman-teman kita di Jawa. Kita juga tidak mungkin memaksa wisatawan menginap di daerah kita walau wisatawan itu berkunjung ke wilayah kita sendiri,’’ katanya. (BTN/kmb)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Furama Ubud

Latest Posts

Most Commented

Soham Welness Center
Wapa Di Ume
Pramana