Pandan Menjadi “Napas” Warga Pesinggahan

Pandan Menjadi “Napas” Warga Pesinggahan

Pandan berduri tumbuh subur di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung. Sejak bertahun-tahun hingga sekarang masih menjadi “napas” untuk sejumlah warga. Itu disulap menjadi kerajinan tikar yang cukup laku di pasaran. Pesinggahan merupakan desa paling timur di Kabupaten Klungkung. Berbatasan dengan Kabupaten Karangasem. Saat dijelajahi, desa ini memiliki banyak potensi. Tak hanya sektor perikanan. Tak

Pandan berduri tumbuh subur di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung. Sejak bertahun-tahun hingga sekarang masih menjadi “napas” untuk sejumlah warga. Itu disulap menjadi kerajinan tikar yang cukup laku di pasaran. Pesinggahan merupakan desa paling timur di Kabupaten Klungkung. Berbatasan dengan Kabupaten Karangasem. Saat dijelajahi, desa ini memiliki banyak potensi.

Tak hanya sektor perikanan. Tak juga hanya pertanian yang masih tumbuh subur. Tak hanya pula usaha perdagangan kuliner yang banyak dijumpai di pinggir jalan menawarkan masakan yang mampu menggoda perut. Namun, di desa ini juga banyak tumbuh pandan berduri. Terlihat memadati lahan di pinggur jalan. Sekilas, itu hanya nampak sebagai tanaman liar yang hanya berfungsi untuk pembatas pekarangan.

Rupanya, tanaman yang juga cocok tumbuh di pinggiran pantai ini justeru sangat berarti. Mampu menjadi “napas” sejumlah warga sejak bertahun-tahun. Tekstur daunnya yang mirip daun lontar menjadikannya sangat baik untuk kerajinan anyaman, salah satunya tikar. Itulah yang digeluti Wayan Katos. Warga asal Dusun Sangluh. “Dari dulu, pandan sudah biasa dijadikan anyaman,” tuturnya, belum lama ini.

Pria yang termasuk Rumah Tangga Miskin (RTM) ini melanjutkan ceritanya. Menjadi penganyam bukan tanpa alasan. Usianya yang telah menginjak 80 tahun, membuat tak bisa lagi melakoni pekerjaan lain. Namun, beberapa bulan belakangan, ia tak bisa bekerja banyak. Yang bisa dilakukan hanya sebatas menyiapkan bahan baku. “Sudah sering sakit, sekarang hanya menggulung pandan. Yang menganyam orang lain. Nanti hasil penjualannya dibagi,” ucapnya sembari bersandar pada tembok rumahnya.

Uang yang bisa dikantongi tak menentu. Bahkan, sangat sering tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya, Ketut Simpen (75), yang kini sudah sakit-sakitan. Tapi itu tetap disyukuri. “Kalau hasil tak seberapa. Untuk kebutuhan hidup, ada beberapa bantuan dari pemerintah,” imbuh pria satu anak ini.

READ  Badung Gebrak Pasar Wisata Eropa; Dimulai dari Amsterdam, Belanda

Warga lain, Ketut Sudani, menyebutkan kerajinan ini masih digeluti sekitar 30 KK. Harga jual tikar ukuran 1×1,5 meter yang dikerjakan setengah hari hanya Rp 18 ribu. “Kalau dulu harus dijual ke pasar. Tapi sekarang dicari langsung oleh pengepul. Untuk hasil penjualan dibagi dengan pemberi bahan baku. Jadi kecil,” katanya.

Penghasilannya yang demikian menyebabkan generasi muda tak tertarik untuk menekuni. Mereka lebih memilih mengadu nasib ke perkotaan dengan alasan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. “Yang menekuni sudah tua-tua. Kalau yang muda, milih ke kota,” tandasnya. (KMB)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Duuran Gemilang – United Colour of Pottery

Latest Posts

Most Commented

Soham Welness Center
Wapa Di Ume
Pramana