Atraktif Sajian Seni Baleganjur Dalam Festival Seni Budaya Badung Ke-11

Atraktif Sajian Seni Baleganjur Dalam Festival Seni Budaya Badung Ke-11

Para seniman muda ini tak hanya lihai memainkan alat music gamelan Bali, tetapi juga piawai menari. Sambil memainkan alat musik gamelan, mereka juga matembang (menyanyi) atau melontarkan suara-suara polos, namun sarat makna. Mereka menari membentuk formasi, sesuai kebutuhan tema garapan. Uniknya lagi, mereka terkadang menggambarkan tema lewat lagu/tembang, tari, komposisi, selain tabuh-tabuh itu sendiri. Begitulah aksi para

Para seniman muda ini tak hanya lihai memainkan alat music gamelan Bali, tetapi juga piawai menari. Sambil memainkan alat musik gamelan, mereka juga matembang (menyanyi) atau melontarkan suara-suara polos, namun sarat makna. Mereka menari membentuk formasi, sesuai kebutuhan tema garapan. Uniknya lagi, mereka terkadang menggambarkan tema lewat lagu/tembang, tari, komposisi, selain tabuh-tabuh itu sendiri.

Begitulah aksi para seniman muda dalam lomba baleganjur tingkat SMP, SMA dan kelompok umum se-Bali yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Badung serangkaian Festival Seni Budaya (FSB) Kabupaten Badung ke-11 tahun 2017. Lomba yang dipusatkan  di Jaba Sisi Pura Lingga Bhuwana, Puspem Badung itu juga dalam rangka memeriahkan HUT Ibukota Badung Mangupura yang ke-8.

Lomba Baleganjur yang dibuka Senin (13/11) itu berlangsung selama tiga hari. Hari pertama melombakan beleganjur untuk tingkat SMP sebanyak 5 sekaa dan SMA sebanyak 7 sekaa. Hari kedua menampilkan 15 sekaa dari kelompok umum dan hari ketiga juga 15 sekaa umum. Penampilan peserta mendapat sambutan penonton, karena mampu menyajikan garapan terbaik.

Masing-masing peserta mampu mengemas garapan yang menarik. Sebab, tak hanya menata tabuh, tetapi juga mampu mengemas menjadi sebuah pertunjukan atraktif. Pembawa bandrang, pajeng dan gebogan yang biasa tampil sebagai pelengkap, namun kini ditata yang menjadi bagian dari garapan, sehinga menjadi sebuah garapan seni yang utuh. Musik yang dimainkan dengan irama energik, diikut dengan gerak tari serta formasi menjadi sajian seni yang hidup.

Para komposer yang menata garapan tabuh itu juga mempertimbangkan variasi busana, tata rias dan terkadang membawa property tambahan untuk mendukung suasana. Garapan yang berjudul Pemungkas menyajikan ogoh-ogoh besar untuk menggambarkan suasana menyeramkan. Baleganjur berjudul Konta Wijaya dan Gatut kaca yang lebih banyak memainkan alat music denga system pukul yang beda, sehingga menghasilkan suara-suara aneh.

READ  Tukang Gali Kubur di Desa Bengkala, Turun-temurun Dilakukan Warga "Kolok"

Sementara Baleganjur yang berjudul Kebo Jereng lebih banyak mempermainklan tempo, serta menampilkan hiasan alat music. Demikian pula Beleganjur berjudul Ciung Wenara lebih banyak menampilkan permainan gamelan tanpa menggunakan tempo. Keahlian dan kecekatan penabuh dalam mengiat lagu betul-betul dituntut, sehingga sajian sekaa ini mendapat sambutan yang luar biasa meriahnya.

Lomba baleganjur ini mengangkat tema Heroik (Kepahlawanan). Bentuk garapan tetap mempertahankan struktur tabuh, namun bisa dikembangkan dari tradisi (dikreasikan), variatif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Artinya, penabuh dibolehkan mengolah permainan instrumen diluar tradisi. Masing-masing peserta dengan durasi garapan 7-8 menit dan diwajibkan menampilkan tabuh secara utuh (kawitan, pengawak, pengecet dan  penyuwud).

Kreteria penilaian meliputi; ide/gagasan, bentuk/komposisi garapan, teknik gegebug dan tetekep, ornamentasi/pepayasan gending, suara gambelan, ekspresi penampilan dan keserasian kostum penabuh. Sebagai dewan juri Nyoman Sutama, S.Skar, I Wayan Darya, SSn, I Made Subandi, SSn, I Ketut Lanus, SSn, MSi, dan I Ketut Gde Rudita, SSn, MSi. (BTN/bud)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Duuran Gemilang – United Colour of Pottery

Latest Posts

Most Commented

Wapa Di Ume
Soham Welness Center
Pramana