Membandingkan Dampak Bom Bali dengan Erupsi Gunung Agung terhadap Pariwisata

Membandingkan Dampak Bom Bali dengan Erupsi Gunung Agung terhadap Pariwisata

Bencana Gunung Agung benar-benar menjadi bencana. Tidak saja terhadap penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB), juga berdampak pada Bali. Pasca-erupsi, puluhan ribu wisatawan yang tinggal di Bali langsung angkat koper. Bahkan, wisatawan Cina yang selama ini mendominasi, langsung dijemput tujuh pesawat yang disewa pemerintah tirai bambu tersebut. Ahhasil, hunian hotel jeblok. Bahkan lebih

Bencana Gunung Agung benar-benar menjadi bencana. Tidak saja terhadap penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB), juga berdampak pada Bali. Pasca-erupsi, puluhan ribu wisatawan yang tinggal di Bali langsung angkat koper. Bahkan, wisatawan Cina yang selama ini mendominasi, langsung dijemput tujuh pesawat yang disewa pemerintah tirai bambu tersebut. Ahhasil, hunian hotel jeblok. Bahkan lebih parah dari dampak Bom Bali I.

Sanur, Kuta dan Nusa Dua, ikon pariwisata di Denpasar dan Badung. Ketiganya kini merasakan dampak tidak langsung dari erupsi Gunung Agung. Hunian hotel di kawasan tersebut turun drastis. Di Sanur, misalnya. Hunian hotel berkisar antara 10 sampai 12 persen. Bahkan beberapa hotel tingkat huniannya hanya satu digit saja.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Denpasar I.B. Gede Sidharta Putra, Selasa (5/12)  menyebutkan, dampak erupsi Gunung Agung sudah mulai terasa. Ironisnya, jauh lebih parah ketimbang Bom Bali 2012 lalu. Pada saat itu, hunian hotel masih berkisar pada angka 30 persen ke atas. ‘’Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi kita pelaku pariwisata. Karena untuk bisa operasional secara penuh, minimal tingkat hunian berkisar antara 40 sampai 45 persen,’’ ujar Sidharta Putra yang juga Ketua PHRI Denpasar dan Ketua Yayasan Pembangunan Sanur ini.

Hal serupa juga diakui Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Maria Antonia Dezire. Ia mengatakan, bencana erupsi Gunung Agung dipastikan berdampak besar terhadap kunjungan wisatawan ke Denpasar. ‘’Mau tidak mau, kita pasti kena dampaknya,’’ ujar mantan Kabag Pengadaan Barang dan Jasa ini.

Selain Sanur, Kuta juga mengalami hal serupa. GM Grand Istana Rama Hotel Adi Soenarno mengakui mengalami imbas dari erupsi Gunung Agung. Dia mengatakan, okupansinya mencapai kisaran 40 persen dari normalnya 80 persen. ‘’Okupansi saat ini mencapai 40 persen,’’ katanya saat berkunjung ke Kantor Bali Post bersama jajaran manajemen Grand Istana Rama Hotel, Selasa (7/12).

READ  Yuk... Mampir di Pasar Senggol Grand Istana Rama

Ia mengaku penurunan okupansi ini masih lebih baik dibandingkan dengan sejumlah hotel di kawasan Kuta. Sebab, di sejumlah hotel, okupansi bahkan menyentuh persentase 1 digit. Untuk itu pelaku pariwisata harus berupaya untuk meyakinkan dunia bahwa Bali masih aman dikunjungi. Selain itu, di masa sepi wisatawan ini, ia menilai perlu diadakan sejumlah kegiatan yang bisa menarik wisatawan untuk datang ke Bali.

Bendesa Adat Kuta I Wayan Swarsa mengatakan, kondisi sepi seperti sekarang ini bukan dirasakan di Kuta saja, namun di semua daerah wisata di Bali juga mengalami hal yang sama. Sesuai data yang diterimnya, di Kuta hunian kamar hotel memang sampai angka 1 digit. Bahkan ada juga yang sampai nol atau tidak ada sama sekali. Kondisi ini sangat dirasakan setelah penutupan bandara. Pihaknya berharap agar pemerintah gencar melakukan komunikasi dengan pihak maskapai internasional untuk menyatakan bahwa Bali aman.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum I DPP IHGMA I Made Ramia Adnyana menambahkan, saat ini memang kunjungan wisatawan agak menurun. Diperkirakan kondisi ini akibat kendala penerbangan. Bahkan saat dilakukan gathering Senin lalu, sudah disepakati untuk seluruh pelaku pariwisata maupun maskapai agar mengadakan promosi besar-besaran untuk akhir tahun. ‘’Ini langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk memulihkan kembali kondisi pariwisata.

Selain itu kami juga sudah usulkan supaya pihak maskapai penerbangan diajak komunikasi dan diberikan keyakinan bahwa Bandara Ngurah Rai sudah beroperasi seperti biasa. Termasuk juga melakukan komunikasi dengan pihak Konsulat,’’ katanya.

Sementara di Nusa Dua juga terjadi penurunan kunjungan. Hal ini juga berdampak pada tingkat hunian hotel. Sejumlah pekerja mengakui, di sejumlah hotel sudah dilakukan penjadwalan kembali jam kerja. Artinya, kalau sebelumnya sekali seminggu dapat libur, kini ditambah dua kali seminggu. Namun, diakuinya, belum ada hotel yang merumahkan karyawan. ‘’Belum ada yang sampai merumahkan. Masih diatur jam kerja dan liburnya saja,’’ tegasnya. (BTN/Tim BP)

READ  Desa Adat Kuta Gelar Upacara ‘’Nangluk Merana’’


Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Furama Ubud

Latest Posts

Most Commented

Wapa Di Ume
Soham Welness Center
Pramana