Entil Menu Centil Yang Menggoda

Entil Menu Centil Yang Menggoda

Pernah mencicipi entil? Menu tradisional Bali yang menyerupai lontong ini tampak sederhana, namun memiliki rasa yang begitu menggoda. Bentuknya pipih persegi empat panjang seperti bantal dan memiliki warna hijau karena dibungkus dengan telengidi (daun bambu). Aromanya sangat khas, sehingga mampu membangkitkan selera makan. Makan entil cukup dengan sambal (basa genep dan sambal sera) dan akan

Pernah mencicipi entil? Menu tradisional Bali yang menyerupai lontong ini tampak sederhana, namun memiliki rasa yang begitu menggoda. Bentuknya pipih persegi empat panjang seperti bantal dan memiliki warna hijau karena dibungkus dengan telengidi (daun bambu). Aromanya sangat khas, sehingga mampu membangkitkan selera makan. Makan entil cukup dengan sambal (basa genep dan sambal sera) dan akan lebih baik bilai dilengkapu sayur urap.

Entil dibungkus dengan daun telengidi yang dapat memciptakan rasa Entil menjadi semakin enak. Zat warna hijau pada daun itu meresap kedalam beras saat dimasak, sehingga menghasilkan  warna kehijau-hijauan. Memang, dalam membuatnya membutuhkan waktu yang lama, terutama saat merebusnya. Semaki lama merebusnya maka Entil  akan semakin lama bertahan, tidak cepat basi.

Menu Entil memang terkenal di daerah Pupuan, namun di Desa Tengkudak, Kecaman Penebel, Kabupaten Tabanan juga ada masyarakat yang membuatya. Bahkan, makanan tradisional sederhana ini dapat dijumpai di warung-warung tradisional di desa tersebut. Entil juga sering menjadi menu event kuliner dalam ajang festival yang digelar Pemerintah Kabupaten Tabanan. Sebut saja pada Tanah Lot Kreatifood Festival lalu, menu ini disukai pengunjung.

Penyajiannya terdiri dari sebungkus Entil, lalu ditaburin sambal kelapa dan sambal goreng. Bisa pula dipadu dengan sayu urap Bali dengan kecambah, irisan bayam dan irisan kacang panjang dengan campran bumbu. Bagi mereka yang sudah tua atau yang giginya tidak kuat, biasa dicampur dengan kuah lengkap bumbunya. “Kami biasa membuat Entil untuk dijual,” kata Ni Nyoman Sutiani (63), pembuat Entil asal Banjar Denuma, Tengkudak, Penebel.

Sutiani mengaku, profesi membuat Entil sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Awalnya, ia membantu orang tuanya, kemudian menjadi pewaris berikutnya. “Keberadaan Entil sudah ada sejak lama dan tidak ada yang mengetahui kapan dan dimana awal mula pembuatannya. Entil ini kami buat secara turun-menurun, dari generasi ke generasi hingga sampai saat ini. Entil masih banyak peminatnya,” papar Sutiani.

READ  Melepas Tukik di Pantai Candidasa

Menurut Sutiani, Entil biasanya disajikan pada hari-hari tertentu, seperti Hari Raya Nyepi yang pada saat itu masyarakat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian yaitu tidak menghidupkan api, ,tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak melakukan hiburan, sehingga perlu stok makanan. Maka dari itu, Entil dipilih karena tahan lama dan tidak mudah basi. “Sekarang Entil dijual di pasar dan warung tradisional, seperti saya,” ungkapnya.

Bahan Entil adalah beras, lengidi (daun bambu), kelapa parut dan tali untuk mengikatnya. Dulu biasa menggunakan tali tiying (tali bambu) atau tali guntung (tali dari pelepah kelapa), namun kini banyak yang menggunakan tali plastik. Sementara bumbunya, meliputi basa genep (bumbu lengkap), seperti bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, kunyit, kencur, laos dan bumbu lainya. Ditambah dengan parutan kelapa, untuk dijadikan base urap.

Cara membuatnya, pertama merendam beras semalaman. Beras kemudian taruh diatas daun lalu bungkus dengan telengidi dan diikat dengan tali. Dalam satu ikatan terdiri dari dua lipatan telengidi yang didalamnya sudah beriri beras. Lalu diresbus sekitar 3 jam atau lebih. Selanjutnya membuat bumbu yang diawali dari mengulek hingga halus. Lalu dicampur dengan kelapa parut. Sebagaian lagi dibuat menjadi sambal goreng. Setelah jadi, lalu siap dihidangkan. (BTN/arya)



Destination

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply
Bebek Sungai

Latest Posts

Most Commented

Soham Welness Center
Wapa Di Ume
Pramana