40 Karya Kartun Warnai Pemeran Bali Bangkit

40 Karya Kartun Warnai Pemeran Bali Bangkit

Jika sedang mengunjungi Pameran Bali Bangkit V, mampirlah ke salah satu ruang pameran yang terletak di Barat Laut areal di Art center, Taman Budaya Denpasar Provinsi Bali. Gedung munggil tepatnya di lantai atas sebelah kanan Wantilan itu memajang sebanyak 40 karya kartun dari 12 kartunis asal Bali. Tema yang diangkat sangat beragam, namun masing-masing karya memiliki kekhasan, sehingga menjadi sebuah sajian seni yang dapat memberi warna lain dari Pameran Bali Bangkit V 2021 itu.

Para kartunis yang memamerkan karyanya merupakan kartunis lintas generasi, seperti Jango Paramartha, Gus Martin, Wied N, Pingky Sinanta, Agus Yudha, Putu Ebo Supardhi, Nyoiman Mayartayas, Anang Jatmiko, Klesuma T, Yere Agusto dan Tusuaria. Jumlah karya yang dipamerkan masing-masing kartinis tidak sama, karya itu juga ada yang dibuat baru dan ada yang sudah ada sebelumnya. Namun, menyimak dari sajikan pameran itu, tampak sekali para kartunis ini memiliki ide yang sama, yakni membangkitkan generasi kartunis Bali utamanya.

Ruang pameran itu sangat bersih dan rapi. Karya-karya kartun itu dipasang melingkar di sepanjang tembok kaca gedung munggil itu. Sementara di lantaui bawah, merupakan bursa buku yang juga ditata dengan rapi. Meski pameran kartun ini, baru kembali digelar, namun masyarakat khususnya seniman dan penggiat seni menyambut gembira. Ajang itu, menjadi hiburan sekaligus mengedukasi pengunjung Taman Budaya. “Pameran ini terselenggara berkat tawaran Ibu Gubernur Ni Putu Putri Suastini Koster untuk menampilkan karya-karya kartun di pameran Bali Bangkit ke V,” kata memang Jango Paramartha, Minggu (28/11).

Karya- karya yang ditampilkan mengungkap kondisi masyarakat saat pandemi. Berbagai sektor terdampak, sisi-sisi kehidupan serba terbatas yang banyak dijadikan topik oleh para kartunis itu. Beberapa diantaranya, ilustrasi belajar secara daring, upacara juga berlangsung virtual dan banyak momen menarik yang dituangkan dalam kartun secara humor. Kartun-kartun ini tak hanya menawarkan goresan dan warna yang sangat indah, tetapi pesan dan kritik yang disampaikan cukup menggelitik.

Ruang pameran bagi para kartunis di Bali, memang menjadi sebuah impian yang cukup lama didambakan. Apalagi pandemi melanda semua lini, nyaris segala kegiatan dibatasi. Persoalan lain, dihadapi dunia kartun atau jurnalis visual, yakni redupnya regenerasi kartun belakangan ini. “Perkembangan kartun saat ini memang jomplang. Di satu sisi regenerasi meredup, jomplang dalam artian pengertian atau definisi kartun yang keliru. Kartun itu cerdas bagi kita membahasakan atau jurnalis visual, bukan sekadar ilustrasi saja,” kata Jango didampingi Putu Ebo.

Diberikan ruang ini, maka Taman Budaya tidak hidup saat Pesta Kesenian Bali (PKB) saja, tetapi juga pada hari-hari biasa. Apalagi ditambah dengan aturan baru sekarang menjadi pusat pembinaan oleh pemerintah, hal ini patut diapresiasi “Kami berharap dengan tempat ini yang sejak lama kita nantikan, kedepan kegiatan teman-teman kartunis di Bali semakin rutin mempromosikan baik melalui pameran, diskusi, workshop dan sebagainya, kita harapkan regenerasi kartunis khususnya di Bali akan bangkit kembali,” tandasnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us