Bali Open Border, akan Gairahkan Kegiatan Seni Budaya

Bali Open Border, akan Gairahkan Kegiatan Seni Budaya

Rencana pemerintah membuka kembali Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai bagi kunjungan wisatawan mancanegara mulai 14 Oktober 2021, tak hanya disambut hangat oleh kalangan pariwisata, tetapi juga para seniman dan penggiat seni. Mereka menyambut dengan berbagai aktivitas seni yang mendidik, sekaligus menghibur. Sebut saja yang dilakukan oleh Wianta Foundation dengan gelaran Art Camp 2021. Kegiatan seni bertajuk “Open Border” ini berlangsung di kediaman maestro perupa Made Wianta (alm) di Banjar Apuan, Desa Apuan, Baturiti Tabanan, Senin (4/10).

Art Camp 2021 itu menampilkan berbagai seni yang mendidik sekaligus menghibur. Berbagai seni yang disajikan seakan tanpa batas. Semua peserta duduk di halaman hijau, baik penyaji ataupun yang menonton. Walau demikian, penerapan Protokol Kesehatan (Prokes), seperti menjaga jarak tetap menjadi hal utama. Disamping itu, para peserta memakai masker, dan mencuci tangan sebelum memasuki areal kegiatan seni, sehingga tidak terjadi kluster baru dalam penyebaran Covid-19.

Setelah dibuka Bendesa Adat Desa Pekraman Apuan, I Ketut Murtana, S.Sn. yang sekaligus seniman itu suasana hari itu menjadi lebih hangat. Bendesa Adat yang lulusan ISI Denpasar ini juga memberi sarasehan singkat mengenai kesenian dan kebudayaan yang berkembang di Desa Apuan. Sejumlah seniman yang hadir kemudian berbagi pengetahuan seni dan pengalaman berkesenian. I Made Bakti Wiyasa yang memaparkan pengalaman seni menggambar yang mengkolaborasikan dengan kegiatan peduli lingkungan, dan Iwan Wijono yang Ketua Performance Art Yogyakarta berbagi pengalamannya berkeliling dunia dengan kegiatan berkesenian.

I Wayan Tastra, dalang wayang kulit dari Banjar Apuan berbagi pengalaman menjadi seniman dalang secara otodidak. Wayang yang dimainkan itu tak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan, budi pekerti dan merupakan total teater. Aktivis lingkungan, I Ketut Sudarwata berbicara tentang gerakan lingkungan yang dimulai dari diri sendiri, Jedink Alexander berbicara mengenai proses kreatifnya di era digital, dan Made Adnyana Ole bicara tentang proses kreatif dalam penulisan kegiatan seni.

Performance art yang menampilkan seniman-seniman local yang memiliki talenta mengeksplor ruang dengan kreativitas seni. Baik itu dalam bentuk seni tari dan seni karawitan tradisional yang memiliki makna mendalam. Para peserta juga menyaksikan pemuteran video karya kreativitas seniman, art action dan pagelaran lainnya. “Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong dengan Desa Adat Apuan, seniman, akademisi, budayawan, aktivis lingkungan, penggiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), petani, dan sekaa teruna setempat,” kata Manager Project I Gede Made Surya Darma (Lepud Art Management) bersama I Kadek Dedy Sumantra Yasa, Ketua Performance Klub Bali.

Surya Darma dengan melibatkan berbagai kalangan itu mengkemas kegiatan seni itu, untuk lebih menggairahkan kegiatan seni budaya di masa pandemic Covid-19. Kegiatan itu, juga untuk mengenang menjelang setahun berpulangnya Made Wianta, pelukis kenamaan asal desa setempat. “Pandemic Covid-19 telah melanda dunia sejak awal 2020, dan itu berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Namun demikian, pandemi hendaknya tidak sampai melemahkan gairah berkesenian,” ucapnya.

Art Camp 2021 sebagai ajang untuk mengobati rasa rindu bagi semua pihak yang merindukan pulihnya kehidupan seperti sedia kala. Sebab, hampir dua tahun masyarakat sudah beradaptasi menjalani kehidupan new normal dengan prokes yang ketat. “Untuk bisa melewati masa krisis ini, peranan semua pihak sangat diperlukan. Nah, kami merespons isu tersebut dengan menuangkan kegelisahan estetik dengan melakukan kegiatan kesenian dengan tema “Open Border” ini,’’ ujar Surya Darma yang perupa ini.

Tema ini mengandung makna, mesti membuka diri dan membiasakan diri dengan kehidupan new normal. Dengan kata lain, open border mengandung makna membiasakan kehidupan baru dengan membuka hati dan beradaptasi dengan lingkungan. Karena itu, selain diskusi seni dan budaya, dalam kegiatan ini juga dimeriahkan dengan performance art, pembacaan puisi, art action, video screening dan gerakan lingkungan,” paparnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us