“Basur: Tresnasih Kembang Sokasti” Disajikan Sanggar Mahasaba

“Basur: Tresnasih Kembang Sokasti” Disajikan Sanggar Mahasaba

Sanggar Mahasaba Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menampilkan Sesolahan Sastra bertajuk “Basur: Tresnasih Kembang Sokasti” serangkaian Bulan Bahasa Bali 2021. Garapan seni sastra berbentuk Drama Film ini ditayangan melalui You Tube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mulai, Rabu (17/2) pukul 09.00 WITA.

Garapan seni sastra ini, tak hanya mengutamakan keindahan, tetapi juga syarat pesan moral. Semua plot adegan ditata apik, sesuai dengan tema cerita yang diangkat. Musik sebagai pendukung suasana, sangat atraktif. Gending, tembang klasik yang memberikan suasana sedih, yang mengajak setiap penikmatnya larut. Demikian pula ketika Gede Basur marah, suara cak dengan sayup-sayup suara gong sangat mendukung suasana.

Drama ini mengisahkan Ni Sokasti dan keluarganya sangat terkejut dengan datangnya Gede Basur ke rumahnya. Tujuan sosok yang dikenal sakti dan ditakuti ini untuk melamar Ni Sokasti agar mau bersanding dgn anaknya I Tigaron. Permintaan lamarannya ditolak oleh Nyoman Karang dan Ni Sokasti, karena Ni Sokasti sudah dijodohkan dengan I Tirta dari Banjar Sari. Gede Basur tersinggung dan marah. Ia menuju kuburan untuk menyakiti Ni Sokasti. Walau sudah disakiti Ni Sokasti dapat diselamatkan oleh Kaki Balian. Dan Gede Basur sadar bahwa tindakannya menggunakan ilmu hitam untuk menyakiti orang adalah kejahatan.

Drama Film ini melibatkan 30 orang sebagai pemain dan crew. Drama ini disutradari Dewa Jayendra. Ia yang mengurus semua yang berkaitan dengan film ini. Termasuk melatih anak-anak Mahasaba dalam beracting serta melatih vokal dan ekspresi. Musik merupakan dari komposer Kadek Suardana (alm) bersama I Wayan Sadra (alm) dan Ari Wijaya Palawara. Musik yang digarap oleh para komposer itu dipilih Sang Sutradara, yang kemudian dipilah, sehingga cocok untuk menguatkan adegan.

Dewa Jayendra mengatakan, garapan “Basur Tresnasih Kembang Ni Sokasti” sesungguhnya upaya mengajak penonton mengungkap kebenaran diri, yaitu pengendalian diri, mawas diri, dan menasehati diri. Dengan dasar tersebut, ia mencoba menuangkan lewat skenario dan menampilkan secara visual lewat audio visual. “Harapan saya lewat garapan secara virtual dengan mudah pesan tersampaikan,” ucapnya.

Drama film ini melibatkan 30 orang. Dalam proses pembuatan garapan ini membutuhkan kesabaran dan ketabahan. Walaupun kendala tetap ada seperti kesibukan pemain, crew dan saat shooting alam yang kurang bersahabat hujan misalnya. “Sebagai sutradara saya berupaya merangkul bagaimana berproses dalam berkesenian apalagi beberapa pemain belum mengenal dunia akting. Menanggalkan egoisme adalah jalan terbaik mempercepat proses produksi. Pengertian inilah yang saya terapkan pada seluruh pendukung. Melalui media virtual ini saya ingin cerita-cerita rakyat yang penuh dengan tuntunan dengan mudah ditonton berulang-ulang,” terangnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us