Begini Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih di Era Pandemi

Begini Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih di Era Pandemi

Ketika denyut pariwisata tidak terasa lagi akibat pandemi Covid-19, para pekerja disektor jasa itu harus berpaling untuk bisa bertahan hidup. Pahit memang! Namun, semua itu mesti mereka lakukan sebagai bentuk perjuangan di masa pandemi yang belum tampak akhirnya ini. Apalagi dibumbui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan serial yang berbeda-beda, membuat sumber penghidupan mereka semakin tidak jelas.. “Saya berjualan bahan dapur, seperti bawang merah dan bawang putih. Saya juga menawarkan telur ayam, serta sebagai reseller untuk buah-buahan,” kata Desak Putu Ernawati, Senin (30/8)

Sak Tu, demikian sapaan akrabya, memang masih berstatus sebagai pekerja hotel tepatnya di Jimbaran Puri a Belmond Hotel.khusus dibagian restaurant. Jauh sebelum pandemi, ia memang sebagai wanita kreatif yang sudah berjualan kecil-kecilan sebagai tambahan ekonomi keluarga. Usaha yang terbilang kecil-kecilan itu memang sudahj dilakoni sejak dulu. Maklum, ia merupakan putri seorang pemilik warung yang menjual berbagai perlengkapan dapur. “Di masa pandemi ini, usaha itu kami lakoni dengan lebh serius, walau hasilnya jauh menurun ketimbang sebelum pandemi,” paparnya.

Usaha itu, ia lakukan karena sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok, serta tidak ada pengelolaan secara khusus, sehingga tidak membutuhklan tenaga ekstra. Ia juga biasa menjual bawang yang sudah dikupas, dengan sistem request. Bawang itu didapatnya dari pengepul. Untuk buah-buah dijual dalam bentuk paket dalam box. Sementara untuk telur mengambil dari sepupunya. “Saya memasarkan melalui Sosial Media (Sosmed) kepada teman-teman kerja, mereka lalu memasannya melalui WhatsApp, mesenger dan lainnya. Untuk telur, saya dulu sempat berjualan d pinggir Jalan Gatot Subroto (Gatsu),” ungkapnya.

Dalam usaha ini, Sak Tu yang tinggal di Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan ini tidak memiliki warung khusus. Ia memanfaatkan meja kecil dekat garase rumah. Terkadang nitip juga di warung orang tua yang menjual snack, gula, beras, gas, air mineral dan lainnya. Walau demikian, ia memiliki ruang khusus untuk mensortir dan membersihkan bawang merah ataupun bawan putih serta barang lainnya sebelum dipasarkan, sebagai bentuk servis terhadap para pelanggan.

Wanita kelahiran, Denpasar 9 April 1987 ini mengaku, menekuni usaha kecil-kecilan ini, hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga. Namun, jika dibandingkan dengan penghasilan sebagai pekerja hotel masih tidak sebanding. Sebagai seorang pegawaiu hotel itu, selain mendapatkan gaji, juga mendapatkan bonus serta service. karena itu, ia sangat bersyukur masih bisa bertahan sebagai pekerja hotel. Walau saat ini kondisi pariwisata sangat menyedihkan. “Karena efek pandemi ini, saya masih bekerja secara bergiliran. Sementara suami yang bekerja di hotel kawasan Kuta masih dirumahkan,” pungkas.suami dari Putu Dwi Prasetya Tirta ini. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us