Berwisata ke Jembrana di Saat Pandemi. Selalu Ada yang Menarik dan Unik

Berwisata ke Jembrana di Saat Pandemi. Selalu Ada yang Menarik dan Unik

Sebulan lebih sudah border internasional untuk Bali dibuka oleh pemerintah. Namun, kebijakan itu belum juga memberi tanda-tanda akan adanya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Dewata. Hal itu, membuat penghelola hotel lebih memaksimalkan untuk mengelola pasar domestik, sehingga dapat memperpanjang nafas bisnis akomodasi ini. “Kami pengelola hotel di Bali Barat memikat wisatawan domestik denagn promo dan mengkemas produk-produk wisata lain dari yang lain,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jembrana, Gede Sukadana, Rabu (24/11).

Di masa pandemi ini, pariwisata di Kabupaten Jembrana boleh dibilang ada sedikit ada kemajuan untuk berbenah. Hasilnya memang tidak secepat seperti yang diharapkan, tetapi semua itu perlu proses untuk sebuah kemanjuan. Hal itu dibuktikan dengan jumlah kunjungan wisatawan mulai ada pergerakan dari bulan-bulan sebelumnya. Sedikit pergerakan itu khususnya dari wisatawan domistik. “Kalau dibandingkan dengan bulan sebelumnya ada pertumbuhan kunjungan kisaran 2%. Pertumbuhan ini cukup menarik, mengingat masa pandemi belum berlalu,” ucap General Manager Wide Sands Beach Retreat Jembrana ini penuh syukur.

Kalau saja dikemas dengan baik, kunjungan wisatawan domestik ini bisa menutupi minimnya kunjungan wisatawan mancanera ke Bali. Caranya dengan melakukan kerjasama yang solid dengan dinas-dinas terkait. Upatya itu diyakini pasti bisa menggerakan kepariwisataan di daerah Jembrana. Apalagi didukung dengan adanya Daya Tarik Wisata (DTW) alam yang fantastis serta lestarinya seni dan budaya khas Jembrana yang memang unik. “Kalau daya tarik, Jembrana memiliki kekhasan yang memang menarik,” sebutnya.

Wisatawan domestik yang menghidupkan pariwisata Jembrana itu datangnya dari berbagai kota di Indonesia. Namun, lebih banyak datang dari Denpasar, Surabaya, Jakarta, Bandung, Semarang, Malang dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Para wisatawan ini pada umumnya transit dan melakukan kunjungan kerja. “Kalau gambaran kunjungan wisatawan diakhir tahun 2021 ini, kami melihat belum ada perkembangan yang segnifikan,” ucap pria kalem da penuh enerjkik itu.

Lalu terkait adanya kabar, lonjakan Covid-19 diprediksi terjadi menjelang akthir tahun sehingga ada sinyal untuk melakasanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 akan kembali diberlakukan, Gede Sukadana hanya menjawab, ”Kita dari pelaku wisata dalam kondisi kejepit, mau atau tidak tetap wajib mentaati aturan”. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us