Biasa, Monyet “Jalan Jalan” ke Hotel. Bukan karena Kurang Pakan

Biasa, Monyet “Jalan Jalan” ke Hotel. Bukan karena Kurang Pakan

Di masa pandemi, dan di tengah sepinya kunjungan wisatawan, monyet penghuni Daya Tarik Wisata (DTW) Monkey Forest Ubud ada yang jalan-jalan ke hotel dekat objek itu. Melihat fenomena itu, tak sedikit yang beranggapan monyet jalan-jalan ke hotel karena kekurangan makanan. Padahal, ketika pariwisata normal, artinya sebelum Covid-19 monyet sudah biasa jalan-jalan ke hotel. “Kalau pertanyaan sering masuk hotel, itu relative. Dari dulu perilaku monyet juga seperti itu. Hanya saja, ketika pariwisata masih normal tidak terasa mengganggu. Buktinya, ada beberapa tamu hotel yang suka melihat monyet,” kata General Manager Nyoman Sutarjana, Jumat (29/1).

Monyet yang jalan-jalan ke hotel satu atau dua ekor itu mungkin sudah biasa, tetapi kalau secara bergerombolan dalam jumlah banyak itu belum pernah terjadi. Karena, hotel-hotel dikawasan itu belum ada yang menyampaikan ataupun lewat keluhan. Beberapa hotel yang dikunjungi monyet 1 atau 2 ekor, justru menjadi daya tarik di hotel itu. “Monyet itu memiliki karakter mirip dengan manusia. Walaupun sudah kita kasi makan, ada kalanya habis makan mereka jalan-jalan keluar areal sekitar hutan untuk mencari suasana yang berbeda,” ungkapnya.

Karena itu, pihak pengelola mempunyai karyawan yang khusus bertugas menghalau monyet yang keluar objek, untuki kembali ke dalam hutan. Walau demikian, terkadang juga ada beberapa ekor yang bisa lolos. “Dalam kondisi pariwisata sedang sepi sekarang ini, mungkin saja masyarakat merasa terganggu, jika ada monyet sampai ke hotel. Nah, kami harap kerjasamanya untuk menghubungi kami agar bisa menugaskan karyawan konservasi untuk mengusirnya. Jujur, kalau kita sama-sama sadari keberadaan monyet-monyet ini berdampak positif bagi hotel dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sutarjana mengatakan, satwa kera ekor panjang yang ada di Monkey Forest Ubud ini sangat dikeramatkan oleh penduduk setempat. Utamanya oleh Desa Adat Padangtegal, sehingga betul-betul dipelihara dengan baik. Karena itu, pengelola memberi makan paling sedikit 5 kali dalam sehari. Pagi-pagi memberikan makan berupa ketela manis. Pada saat penyela antara pagi dan siang memberikan pisang atau jagung manis. Siang hari memberikan ketela manis dan penyela antara siang dan sore memberinya jagung atau pisang. Sorenya, memberikan ketela manis lagi.

Jenis makanan itu terkadang ditambah dengan daun pepaya dan buah local musiman. Pihak pengelola menyediakan 14 tempat makan tersebar di dalam kawasan, sehingga memudahkan team lapangan dan konservasi untuk memberikan makan pada jam yang sudah di tentukan. Untuk sekitar 1100 ekor monyet itu, pihak pengelola membeli pakan monyet itu dari suppliers dan beberapa ada dari hasil panen tanah desa. Dalam sehari kami menghabiskan 1500 Kg ketela manis, 800 biji jagung manis, 600-700 sisir pisang serta ditambah daun pepaya dan buah musiman. “Kalau penasaran, boleh berkunjung ke Monkey Forest sekalin melihat aktifitas pemberian makan monyet,” ucapnya berpromosi.

Sementara untuk kesehatan monyet, pihak pengelola memiliki in house klinik untuk satwa dan untuk pengunjung juga. Untuk klinik hewan bekerjasama dengan dokter hewan secara khusus. “Untuk biaya pakan monyet ini, masih disubsidi dari Desa Padangtegal, Ubud, karena kunjungan wisatawan sangat minim, menurun jauh dari sebelumnya. Dalam sehari itu rata-rata ada 100 orang pengunjung,” imbuhnya sambil menghela nafas panjang. (BTN/bud

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us