“Blind In Paradise” di Griya Santrian Sanur

“Blind In Paradise” di Griya Santrian Sanur

Atraktif dan mampu membius pengunjung. Perupa I Gede Made Surya Darma tak hanya piawai menggores di atas kanvas, tetapi juga lihai dalam seni pertunjukan. Lihat saja, olah kreatifnya dalam Performance Art bertajuk “Blind In Paradise” di Kolam Renang Griya Santrian Resort Sanur, Rabu (6/1) sore. Karya seni yang disajikan sebagai bentuk respon terhadap pandemic Covid-19 yang melanda dunia. Olah gerak tak terlalu rumit, namun sarat dengan pesan. Maksud yang disampaikan kadang diungkap lewat bunga, kertas dan karya lukisnya sendiri.

Menariknya lagi, performance art ini menerapkan protocol kesehatan dengan memakai masker dan menjaga jarak. Pemain yang sedang memainkan alat musik atau alat gamelan serta Surya Darma yang sebagai pemain utama tetap menggunkan masker, bahkan masker seakan menjadi bagian dari pertunjukan seni itu. Penonton yang hadir, seakan larut dalam karya yang sungguh natural itu. Pengunjung yang hadir sangat terpesona dengan bunga pacar berwarna warni di permukaan air yang juga mirip sebuah lukisan yang mempesona.

Karya performance art Surya Darma kali ini pernah dibuat di Museum Nasional Bangalore, India pada tanggal 11 sampai 25 November 2011 dalam sebuah Festival Performance art International “Dawn-Dusk Live Art 2011”. Karya ini dikolaborasikan dengan lukisannya yang berjudul Pedanda Baka, dikarenakan adanya kedekatan konsep. Kali ini, pria asal Tabanan ini berkolaborasi dengan musisi DJ Kamau Abayomi (California America), seorang dalang wayang kulit dari Sanggar Seni Kembang Bali I Putu Purwwangsa Nagara (Wawan Bracuk ), D Jimmy Tedjalaksana (musisien dan founder Virama Music studio) dan I Kadek Dedy Sumantra Yasa (seniman).

Saat tampil, Surya Darma menutupi kolam renang dengan berbagai macam bunga, sebagai simbol dari paradise itu sendiri atau keindahan kehidupan duniawi. Sedangkan lukisan Pedanda Baka dibiarkan menggambang di antara taburan bunga di dalam kolam renang tersebut. “Saya ingin mengangkat kearifan lokal atau cerita rakyat seperti Pedanda Baka, yang banyak mengandung pesan moral yang bisa dijadikan sesuluh hidup,” ucapnya.

Surya Darma juga menebarkan print di atas kertas mengenai sejarah virus yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkan, merekonstruksi sejarah virus sebagai perenungan untuk selalu waspada. Ia mengawali dengan melantunkan tembang Alas Arum, yang biasa dinyanyikan seorang dalang sebelum pementasan cerita pewayangan. Ia memaknai itu sebagai symbol, bahwa Tuhan dalam menciptakan alam, diawali getaran atau alunan suara indah yaitu AUM atau OM. “Saya mencoba merefleksikan proses penciptaan alam itu dengan melantunkan tembang dan direspons alunan suara gender, gitar, Dj, musik Didgeridoo dan jimbe,” bebernya.

Menaburkan bunga ke dalam kolam renang sebagai simbol makrokosmos. Lukisan Pedanda Baka yang diambangkan di air itu sebagai simbol tatwa dari kearifan cerita Tantri itu sendiri. “Saya mengambang di permukaan air dengan tebaran bunga dan kertas yang diprint tentang sejarah virus melanda dunia. Mata saya ditutup sebagai symbol, tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah. Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu tersebutlah, saya ingin mengajak audience untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional Pedanda Baka, maupun cerita rakyat lokal lainnya, sebagai sesuluh hidup pada era kekinian,” paparnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us