Buka Pariwisata Bali, Ini Syarat yang Diajukan Pelaku Pariwisata

Buka Pariwisata Bali, Ini Syarat yang Diajukan Pelaku Pariwisata

Oktober bulan ini, pemerintah akan melakukan uji coba pembukaan pariwisata Bali untuk wisatawan mancanegara. Hal itu karena kondisi Bali sudah menunjukkan situasi kondusif dalam mengatasi pandemi Covid-19. Wacana tersebut mendapat sambutan hangat dari pelaku pariwisata di Pulau Dewata. “Wacana tentang pembukaan turis asing untuk Bali di bulan Oktober ini, sangat ditunggu-tunggu realisasinya oleh semua pelaku usaha di sektor pariwisata di Pulau Seribu Pura ini. Kami berharap hal ini tidak sekedar wacana, namun benar-benar dilakukan oleh pemangku kebijakan baik pusat dan daerah,” kata CEO Pramana Experience, I Nyoman Sudirga Yusa, Sabtu (2/10).

Karena sejatinya, jelas Sudirga dari tahun 2020, hal ini menjadi target yang belum bisa dilihat pembuktianya bisa terjadi sampai saat ini. Namun, pihaknya tetap harus mempersiapkan segala instrumen dan hal-hal terkait rencana dari pemerintah ini. Dengan penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) yang terukur dan managemen resiko bagi seluruh usaha terkait pariwisata, baik hotel, villa, restoran dan objek-objek wisata. “Disini, pentingnya komitmen bersama agar mengawasi menerapan prokes tetap dijalankan oleh seluruh stake holder untuk bangkitnya pariwisata Bali tercinta ini,” harap Team Promosi Perhimpunan Hotel dan Restaurant Republik Indonesia (PHRI) Klungkung ini.

Sementara General Manager The Vasini Smart Boutique Hotel, Pande Ketut Suartaya, SE.,CHA mengatakan, pembukaan pariwisata Bali yang sudah digaungkan dibeberapa acara webinar dan media social belakangan ini sangat intens sekali. Ini merupakan keinginan seluruh masyarakat Bali yang notabena 80% penghasilan mereka dari pariwisata. “Pemerintah pusat dan daerah sudah melakukan upaya-upaya persiapan untuk membuka pariwisata Indonesia dan Bali khususnya. Diantaranya, dengan melakukan program Prokesn dengan desiplin disemua lini, sertifikasi Cleanliness, Health, Safety & Environment (CHSE) untuk hotel, restaurant dan destinasi wisata. Ada 1.137 industry pariwisata certified CHSE, program vaksinasi minimal 70%. Itu semua, agar herd immunity tumbuh di masyarakat,” ucapnya.

Kreteria lain yang dibutuhkan untuk membuka border Bali, yakni dengan mengendalikan angka terpapar harian Covid-19. Termasuk Case fatality Rate (CFR) angka kematian akibat Covid-19 menurun, bila perlu 0%. “Kami berharap standard masuk Bali diperketat dan jelas. Tidak ada salam tempel oleh orang yang masuk Bali dengan oknum petugas jaga, sehingga entry border ketat dan tidak kebobolan. Setelah itu seluruh Hotel, restaurant dan destinasi wisata harus juga memiliki pola dan skema untuk para tamu yang masuk ke property masing-masing, sehingga memudahkan untuk pengecekan data digital melalui aplikasi yang sudah di standardkan pemerintah (Pedulu Lindingi),” ujarnya.

Selain itu, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali strata 2 in Tourism Bisnis ini berharap program mitigasi yang professional dan handal dari pemerintah untuk menghindari terjadinya ledakan baru terpapar Covid-19. Yakni menerapkan sistem super aplikasi yang terintigrasi diterapkan di seluruh industri pariwisata yang berfungsi untuk less people contact (mengurangi kontak satu sama lain). “Kami berharap adanya visitor guide line di setiap industri pariwisata untuk memandu seluruh kegiatan tourist, baik dalam memberikan informasi digital update keadaan disuatu destinasi wisata dan skema memasuki wilayah suatu negara,” harapnya.

Apabila sudah dilakukan hal tersebut diatas, lanjut Pande dengan support dan dukungan dari warga dan pemerintah, dirinya yakin Bali akan siap buka border dengan mengedepankan safety (keamanan) untuk semua orang dan tourist khususnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us