Desa Pinge Menuju Desa Wisata Berkelanjutan

Desa Pinge Menuju Desa Wisata Berkelanjutan

Mewujudkan desa yang indah dengan menata taman dan fasilitas yang lengkap, itu belum cukup untuk mewujudkan desa wisata yuang berkualitas. Salah satu hal penting dalam mengelola desa wisata adalah bagaimana cara mengelola sampah sendiri, bukan menyerahkan kepada orang atau desa lain. Nah, itulah yang sedang gencar dilakukan oleh Pengelola Desa Wisata Pinge. “Kami terus berbenah untuk memperkuat daya saing secara global. Ini, usaha yang telah kami lakukan untuk mempertahankan lingkungan alam tetap asri, dengan mengolah limbah organik menjadi bernilai ekonomis,” kata Ketua Pengelola Wisata Desa Pinge, A.A Ngurah Arimbawa,” Kamis (31/12).

Dala pengelolaan sampah ini, pengelola menggandeng lembaga pendidikan yaitu Politeknik Negeri Bali untuk memberikan pelatihan dalam membuat alat pengolahan limbah organik berupa komposter. Pengolahan sampah dimulai dari pemilahan sampah organik dan non organik di masing masing dapur rumah tangga. Adanya pemilahan sampah di rumah tangga ini sangat membantu pengayah pengelola desa wisata untuk mengurangi sampah plastik di desa yang sudah dikenal oleh wisatawan ini. “Kami sangat dipermudah dengan adanya bantuan penampungan sampah organik dapur kapasitas rumah tangga oleh Politeknik Negeri Bali,” ucapnya.

Bukan hanya saja itu, pelaku usaha home stay juga diberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair dan padat dari sisa masakan atau sampah dapur, sehingga sampah anorganik dan plastik sudah terpilah dengan baik di masing-masing rumah tangga. Hal ini akan mempermudah untuk penanganan sampah plastik di desa Pinge. “Pengolahan sampah dapur ini masih kita uji cobakan di beberapa rumah tangga. Harapannya, dalam waktu dekat semua dapur akan mulai melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga, sehingga pengayah pengelola desa wisata akan diringankan dalam penanganan sampah. Kini, ampah dapur tidak perlu dibuang keluar lagi, karena bisa diolah untuk menghasilkan pupuk organik cair dan padat walau skala kecil,” terang Agung Arimbawa serius.

Perwakilan Politeknik Negeri Bali, Prof, I Putu Astawa mengatakan, Politeknik Negeri Bali mendukung terwujudkanya Pinge sebagai desa wisata yang berkualitas. Salah satunya dengan melakukan usaha untuk mempertahankan lingkungan alam tetap asri dengan mengolah limbah organik menjadi bernilai ekonomis. Selain menyiapkan sarana dan prasarana, juga dibarengi dengan memberikan pelatihan dalam membuat alat pengolahan limbah organik berupa komposter. “Dalam pelatihan itu, melibatkan 30 Kepala Keluarga sebagai pemilik homstay yang didampingi oleh ketua pengelola,” ujarnya.

Menurutnya, keterampilan ini sangat penting untuk mendukung bagi pengelola homestay dalam mempertahankan kebersihan dan pemanfaatan pekarangan sebagai alam wisata. Konsep ini mengubah dimana tebe (belakang rumah) yang dulu kotor, kini menjadi alam yang asri dan bernilai ekonomis. Hasil dari pengolahan limbah ini akan mengurangi penggunaan pupuk kimia, dan menggunakan pupuk organik. “Kami sangat bangga, karena antusias masyarakat yang tinggi dalam pelatihan mebuat serta memanfaatkan limbah untuk keperluan di sawah selain untuk di pekarangan,” tutup Prof. Astawa. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us