Desa Wisata Blimbingsari, Wajah Bali yang Lain di Jembrana

Desa Wisata Blimbingsari, Wajah Bali yang Lain di Jembrana

Kalau bosan dengan suasana kota, tinggalah sesaat di Desa Blimbingsari dengan suasana adem, tenang dan damai. Masyarakatnya hidup rukun dengan aktivitas kesehariannya. Apalagi lokasinya sangat strategis, masih berbatasan dengan Taman Nasional Bali Barat yang dikenal sebagai desa yang berpenduduk mayoritas Kristen. Desa ini berada di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali dengan luas 4,43km2 dengan jumlah penduduk 1061 jiwa (Data Pemerintah Kabupaten Jembrana Desember 2017).

Ketika memasuki Desa Wisata Blimbingsari, suasana terasa beda. Para pengunjung disambut dengan gapura megah yang berdiri tepat di pintu masuk desa Blimbingsari. Nuansa kebudayaan Bali yang cukup kental sangat dirasakan. Di desa ini terdapat dua bangunan gereja yang megah, yakni di Banjar Blimbingsari dengan nama Gereja PNIEL, dan di Banjar Ambyarsari bernama Gereja Imanuel. Bangunannya tidak pada umumnya, arsitektur gereja bergaya khas Eropa.

Gereja di Desa Wisata Blimbingsari ini dibangun dengan ornament-ornament khas Bali yang menyerupai pura dengan ukiran-ukiran yang menggambarkan sejarah dari terbentuknya Desa Wisata Blimbingsari. Oleh sebab itu penduduk setempat pada sebelum tahun 1970 menyebutnya sebagai “Pura Gereja”. “Gereja di desa ini dikenal sebagai salah satu gereja terunik di dunia, menurut Presiden WCC (World Church Council atau Dewan Gereja Dunia) sewaktu berkunjung ke desa Blimbingsari pada tanggal 11 November 2011,” kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi, Rabu (28/4)

Toleransi beragama sangat kuat terasa di Desa Wisata Blimbingsari ini. Bahkan ketika perayaan Natal atau perayaan hari raya Kristiani lainnya, seluruh masyarakat desa antusias untuk memasang hiasan berupa jejaitan Bali. Karena sesungguhnya penduduk Blimbingsari adalah orang-orang yang memang lahir dan besar di Bali dan berasal dari berbagai daerah di Bali, sehingga wajib melestarikan budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam kegiatan keagamaan. Ketika umat Kristen di Desa Blimbingsari mengadakan kebaktian di gereja pada minggu pertama di setiap bulannya, merela menggunakan pakaian adat Bali, lengkap dengan kamben, udeng, kebaya dan lainnya. Para pendeta yang memimpin kebaktian juga berkhotbah mengunakan Bahasa Bali.

Tak berbeda dengan desa wisata lainnya, Desa Wisata Blimbingsari juga memiliki keindahan khas pedesaan Bali yang sangat terjaga. Suasana desa sangat rapi, hijau asri, dan bersih. Setiap homestay memiliki taman sederhana di pekarangan rumahnya. Taman-taman atau kebun di pinggir jalan tertata rapi, sehingga sangat indah dipandang mata. Bahkan tak terlihat sampah-sampah berserakan di desa yang seluruh penduduknya menganut agama Nasrani ini.

Tamu yang ingin berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari diajak mengunjungi Gereja, berkeliling desa melihat aktivitas warga, trekking di sekitar hutan kawasan taman nasional, dan juga bisa beraktifitas di waterpark Nyiur melambai. “Khusus program live in dari sekolah internasional, siswa menginap di homestay 3 – 4 malam dan melakukan berbagai aktifitas baik dengan keluarga pemilik homestay maupun kegiatan yang diatur panitianya.
Untuk kuliner akan disiapkan oleh kelompok ibu-ibu disana. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us