Disbud Bali Siapkan Buku Pedoman Penyempurnan Ejaan Bahasa Bali dengan Aksara Latin

Disbud Bali Siapkan Buku Pedoman Penyempurnan Ejaan Bahasa Bali dengan Aksara Latin

Bali perlu memiliki sebuah buku pedomnan yang baru berkaitan dengan penyempurnan ejaan bahasa Bali dengan akasara latin. Selain itu, kamus yang berkaitan dengan aplikasi, bahkan terkait dengan unsur-unsur bahasa lain ke bahasa Bali juga penting, bahasa Bali tidak ditinggalkan oleh generasi muda. Beberapa aturan disederhanakan, sehingga lebih mudah dipelajari, bahkan lebih interest belajar bahasa Bali utamanya dari generassi muda. Hal ini juga sebagai upaya pelestarian dan mencintai bahasa Bali.

Hal itu terungkap pada Forum Discussion Group (FGD) Pasamuhan Ajang Basa Bali VII tahun 2023 bertajuk “Ejaan Huruf Latin Basa Bali” di Kantor Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali, Selasa (18/4). FGD ini menghadirkan narasumber yaitu Anak Agung Gde Putera Semadi, Dosen Megister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Dwijendra dan I Ketut Ngurah Sulibra, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana. Sementara Ida Ayu Iran Adhiti sebagai moderator serta dihadiri para tokoh aksara dan bahasa Bali.

Putera Semadi mengatakan, buku pedoman dan kamus ini diharapkan ejaan bahasa Bali kedepan menjadi lebih baik. Alasannya, pertama ingin ada perubahan dari pengucapan, namun mengacu pada pasang aksara Bali yang sudah ada. Kedua tanda bacanya juga tak bisa terhindar begitu saja dari ejaaan bahasa Indonesia yang sudah disempurnakan. “Jadi landasan pemikiran kita untuk mewujudkan pedomana bahasa Bali yang baik kedepan, dan tidak membuat kesusahaan kepada masyarakat ataupun di dunia pendidikan,” katanya.

Apa yang dibicarakan pada saat FGD kali ini, nantinya dituntaskan pada pesamuan agung. Hasil pesamuan agung yang sudah menjadi pedoman iru, kemudian disosialisasikan oleh pemerintah melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan lembaga perlindungan bahasa dan aksara Bali kepada masyarakat, termasuk ke sekolah-sekolah. “Dengan begitu kita mempunyai persepsi yang sama, dan masyarakat tidak akan merasa kesusahan untuk mendalami dan mengimplementasikan pedoman ini kedepan,” harapnya.

Ngurah Sudibra menambahkan, buku pedoman dan kamus itu menjadi dasar untuk menuliskan hurup Bali latin dan ejaan Bali latin itu berdasarkan tradisi tulis pasang aksara Bali. Karena memang pembinaan dan tanggung jawab sudah dilimpahkan pada daerah. “Jadi otomatis kita berharap bahasa dan aksara Bali itu semakin lebih menarik lebih bergaerah untuk dipelajari, dan yang terpeting untuk pelestarian,” ucapnya.

Sesungguhnya, ejaan hurup latin bahasa Bali ini sudah diajarkan disegala lini. Hanya saja pendalamannya berbeda-beda tingkatannya. Saat, SD, dan SMP diajarkan bagaimana menuliskan sebuah kata yang istilah dalam nasional itu ada awalan, namun di Bali latin itu namanya pengiring. “Nah, seperti itulah diajarkan untuk semua lini. Makanya, buku pedomana ini nantinya akan memudahkan dibidang pendidikan dan pengajaranya, mulai tinggkat dasar, menengah bahkan perguruan tinggi,” sebutnya

Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Kebudayaan Disbud Provinsi Bali, AA Ngurah Bagawinata mengatakan, FGD ini sebagai penjabaran Pergub 80 tahun 2018 yang salah satu dari Pergub pelaksanaan pesamuan agung. Namun, pesamuan agung baru bisa terselenggara ditahun 2023 ini karena dampak pandemic Covid-19. Maka itu, baru bisa dilaksanakan tahun ini. “Dari kegiatan pesamuan agung ini harus diawali dengan FGD sebanyak 3 kali yang focus pada ejaan, bahasa bukan ke sastranya,” ungkapnya.

FGD ini fokus agar masyarakat mampu melaksanakan dan mambuat aksara latin dan aksara Bali, sehingga pada kurun waktu 3 bulan atau setelah FDG ini akan mengadakan pesamuan agung selama 2 hari. “Hasilnya nanti akan kita buat buku pedoman yang mengacu pada hasil pesamuan yang telah ditetapkan itu,” ucapnya.

Buku pedomana itu disusun oleh Tim khusus, selanjutnya disosialisasikan kepada masyarakat. Sosialisasi ini mulai bari sembilan kabupatn kota di Bali, kerpada stake holder masyarakat dan lembaga yang banyak menggunakan hasil dari pesamuan itu. “Mudah-mudah selama tiga bulan ini selesai. Buku pedoman ini merupakan rambu-rambu yang harus diajarkan di sekolah. Kalau pun nanti guru-guru membuat buku pelajaran, itu harus berpedoman pada buku pedomana ini,” tutupnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us