Generasi Muda Serius Ikuti “Krialoka Pengenter Acara Mabasa Bali”

Generasi Muda Serius Ikuti “Krialoka Pengenter Acara Mabasa Bali”

Semangat dan penuh bahagia. Ketika penyaji menampilkan materi, mereka tampak serius, tidak lain-lain ataupun ribut. Mereka fokus dan menikmati kegiatan itu dengan desiplin. Apalagi, narasumber yang ada didepa mereka betul-betul terpilih menjadi public pigur di dalam membawakan acara, sehingga waktu 3 jam terasa kurang. Itulah suasana Krialoka (workshop) Pengenter Acara (MC) Mabasa Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021 di bawah Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Selasa (16/2).

Pesertanya memang sangat antosias, terutama dari kalangan remaja dan dewasa. Namun, panitia membatasi peserta karena harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Krialoka ini menghadirkan narasumber yang memang ahli dibidangnya dan sudah menjadi publik pigur, seperti Dr. Drs. I Nyoman Suwija, M.Hum., Dosen Universitas PGRI Mahadewa Denpasar dan Putu Suprapti Santy Sastra, Praktisi Public Speaking serta dipandu Ayu Putri Suryaningrat SS., M.Hum dari Penyuluh Bahasa Bali.

Santi Sastra yang sudah menggeluti dunia MC sejak 1986 itu menyajikan materi tentang teknik teknik atau bagaimana prectis untuk menjadi seorang MC, termasuk body linguade, bahasa tubuh, suara, dan bagaiman persyaratan menjadi seorang MC atau pembawa acara yang profesional. “Kami senang, tanggapan dari para peserta sangat bagus dan antosias. Mereka mengikuti dengan baik. Artinya, keinginana anak-anak muda untuk belajar menjadi MC profesional sangat tinggi,” katanya.

Dari sekian peserta itu, bahkan sudah yang menjadi MC, presenter, dan sudah biasa menjadi pembicara. Itu artinya, mereka mau mengasah dan menimba ilmu lagi, sehingga sebagai narasumber dirinya sangat senang. Modal utama menjadi seorang MC itu adalah bakat, sehingga gampang untuk dipoles, dan langsung jadi. Tetapi, dari pengalaman-pengalamannya mengajar bukan hanya masalah bakat yang diperlukan, tetapi ketekunan untuk mau menjadi MC dijadikan profesi. “Perlu dilatih lagi, karena tidak mungkin akan setengah hari ini, para peserta itu langsung bisa menjadi seorang MC profesional,” imbuh guru khusus mengaar MC, penyiar dan preenter sejak 2004 itu.

Sementara Suwija mengatakan, sebagai akademisi sekaligus praktisi bahasa, aksara dan sastra Bali dirinya menekankan bahwa MC bahasa Bali, pembawa acara mesti menggunakan Bahasa Bali yang baik dan benar. Apalagi, dipakai dalam situasi formal, acara resmi adat Bali dan agama Hindu maka seorang MC itu mesti memakai Bahasa Bali Alus. Siapapun menjadi MC berbahasa Bali, maka dia harus lebih banyak belajar tentang kebenaran bahasa Bali terkait anggah ungguh basa.

Dalam kegiatan ini, pihaknya lebih banyak menekankan pada sekill bahasa. Misalnya intonasi, irama, ucapan Bahasa Bali, kosa kata Bahasa Bali yang baik dan benar. Termasuk anggah ungguh basa, serta laval, ucapan bahasa Bali yang benar. “Kami kemudian memberikan contoh naskah MC bahasa Bali yang sudah disusun bagus dengan aksara Bali yang baik dan benar, simpel, dan dapat digunakan dengan baik,” imbuhnya.

Suwija juga menyinggung tentang tetikes dan bagaiman penampilan seorang pembawa acara, karena sudah menjadi public pigur yang memimpin jalannya acara, baik itu acara formal ataupun tidak formal. Seorang MC itu harus tampil sebaik mungkin, enak didengar bahasanya dan enak dipandang saat dia mengolah tubuhnya untuk tampil dihadapan para peserta acara. “Ternyata mereka yang hadir betul-betul yang mempunyai kemampuan. Rata- rata dari peserta itu sdah pernah menjadi MC, baik di sekolahnya, di kampusnya atau di tingkan sekeaa teruna. Sekarang tinggal diberi tambahan motivasi untuk berlatih. Kunci sebuah keterampilan itu, harus banyak berlatih,” bebernya.. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us