Ini Cara Gubernur Lindungi Produk Garam Tradisional Lokal Bali

Ini Cara Gubernur Lindungi Produk Garam Tradisional Lokal Bali

Produk Garam Tradisional Lokal Bali telah dikenal sebagai garam yang higienis, berkualitas tinggi, dan memiliki cita rasa yang khas, sehingga telah terbukti aman dikonsumsi oleh Krama Bali secara turun-temurun, telah memperoleh pengakuan, dan diminati di dunia kuliner, serta telah dipasarkan secara nasional dan internasional melalui marketplace, dan telah diekspor antara lain ke negara: Jepang, Korea, Thailand, Prancis, Swiss, Rusia, dan Amerika Serikat
Meski sudah dikenal bermutu, memiliki rasa gurih, dan diakui mengandung mineral yang cukup, garam Bali tidak dapat diserap dan dipasarkan di pasar ritel modern dan swalayan. Garam yang diproduksi petani garam dengan cara tradisional belum memiliki label Standar Nasional Indonesia atau SNI.
Kendala persyaratan edar untuk garam lokal Bali diakui Gubernur Bali Wayan Koster menghambat pendistribusian dan pemasaran produk lokal di pasar ritel modern ataupun dipasarkan ke daerah lain. Di sisi lain, Koster menyebutkan, pasar di Bali juga dibanjiri produk garam impor yang banyak dijual di toko modern, swalayan, hingga pasar rakyat.
Garam Tradisional Lokal Bali di produksi di wilayah Kusamba, Klungkung; wilayah Amed dan Kubu, Karangasem, wilayah Tejakula dan Pemuteran Buleleng, wilayah Gumbrih, Kabupaten Jembrana; wilayah Kelating, Kabupaten Tabanan; dan wilayah Pedungan dan Pemogan, Kota Denpasar telah ada sejak berabad-abad yang lalu, dan masih dengan aktif digeluti sebagai sumber penghidupan bagi Krama Pesisir Bali
Dalam upaya perlindungan produk garam tradisional lokal Bali khususnya di Kabupaten Buleleng agar tetap terjaga kualitasnya, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST, bersama Wakil Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG, dan Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Gede Supriatna, SH mendampingi Gubernur Bali Dr. Ir I Wayan Koster dalam acara Pencanangan Pemberlakuan Surat Edaran (SE) Gubernur Nomor 17 tahun 2021 tentang pemanfaatan Produk Garam Tradisional Lokal Bali, di Dusun Suka Darma, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Selasa (28/9).
Pada kesempatan itu, Gubernur Koster dalam sambutannya mengatakan SE Gubernur ini supaya kedepannya para petani garam yang terdapat di wilayah pesisir pantai dapat mengembangkan produk garam lokal Bali yang higienis, berkualitas tinggi, dan memiliki cita rasa yang khas. Sehingga sudah terbukti aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat Bali secara turun temurun, serta telah dipasarkan secara nasional maupun internasional melalui media, marketplace.
“Pemerintah dan masyarakat Bali harus berkomitmen sumberdaya lokal dengan berperan aktif untuk melindungi, melestarikan, memberdayakan, dan memanfaatkan produk garam tradisional lokal Bali yang nantinya salah satunya dapat mengembangkan perekonomian di Bali,” ucap Koster.
Maka dari itu, Koster mengajak masyarakat Bali khususnya yang bekerja sebagai pelaku usaha makanan di Bali agar menggunakan produk garam tradisional lokal Bali.(BTN/ery)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us