Ini Inovasi Pelayanan Publik di Buleleng

Ini Inovasi Pelayanan Publik di Buleleng

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana meminta kepada selurh kepala desa untuk terus menumbuhkembangkan inovasi dalam bidang pelayanan publik. “Saat ini sudah era 4.0. Era digital. Pengembangan inovasi menjadi penting di era ini,” ujarnya usai membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Strategi Keberlanjutan Inovasi Pelayanan publik yang dilakukan secara luring dan daring dari Gedung Wanita Laksmi Graha, Jumat (2/7).

Inovasi-inovasi dalam pelayanan publik harus terus ditumbuhkembangkan. Khususnya pada desa-desa yang ada di Kabupaten Buleleng. Inovasi yang dikembangkang juga harus berbasis data kemudian dilanjutkan dengan teknologi. “Pengembangan inovasi di era 4.0 menjadi sangat penting dan perubahan sangat cepat terjadi, sehingga harapan saya ke depan para kepala desa lebih banyak berinovasi,” jelasnya.

Rakor yang diselenggarakan sebagai wahana untuk berdiskusi antar kepala desa. Dalam rakor, dihadirkan dua kepala desa sebagai narasumber yaitu Kepala Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng dan Kepala Desa Tembok, Kecamatan Tejakula. Dua kepala desa ini telah melakukan inovasi dan meraih berbagai prestasi. Kepala desa lainnya yang hadir bisa bertanya jika ada kemampuan masing-masing, kondisi serta pangkalan data yang berbeda. “Akan didiskusikan dalam rakor yang baru saja saya buka tadi,” ucapnya.

Agus Suradnyana mengatakan, Kepala Desa Baktiseraga akan memaparkan bagaimana penanganan sampah yang berbasis sumber di desa setempat. Kemudian, Kepala Desa Tembok akan memaparkan bagaimana mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) dengan Jaminan Kesehatan Desa (JKD). Termasuk pembentukan Pos Kesehatan Desa. “Dua inovasi ini memang sangat strategis untuk diterapkan di desa karena desa saat ini memiliki dana desa sebagai sumber daya keuangan,” paparnya.

Kondisi topografi di Buleleng memang sangat berbeda dengan daerah lainnya di Bali. Wilayah Buleleng menjadi yang terluas dengan mencakup sepertiga wilayah Bali. Desa-desa juga luas sekali dan tempatnya berbukit-bukit. Oleh karena itu, desa yang belum berkembang akan didorong dan dalam rakor akan didengar permasalahannya. Dengan ditemukannya masalah tersebut, diharapkan jika sudah teratasi, program dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). “Begitu pula di SKPD. Program dan inovasinya berasal dari umpan balik yang disampaikan para kepala desa,” tutup Agus Suradnyana. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us