Ini Makna di Balik Tradisi Mekotek Masyarakat Desa Munggu

Ini Makna di Balik Tradisi Mekotek Masyarakat Desa Munggu

Ribuan warga Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali turun ke jalan. Mereka membawa kayu (tongkat) jenis pullet dengan panjang 4-5 meter. Mereka tampak besemangat dan saling mengacungkan kayu yang dibawa. Mereka berteriak sambil menyatukan kayu yang mereka bawa membentuk gunungan. Salah seorang warga kemudian menaiki gunungan itu, lalu menari-nari kegirangan.

Menartiknya, orang yang naik tak selalu mulus. Ada pula yang akhirnya jatuh, dan tertimpa tumpukan kayu. Mereka tak menampakan raut wajah menyesal, bahkan mereka malah lebih bersemangat lagi melakukannya kembali. Itulah suasana tradisi Mekotek atau Ngerebeg di desa Adat Munggu pada Haru Raya Kuningan, Sabtu (14/1). “Ini, merupakan bentuk syukur dan lami percaya sebagai penolak bala terhadap segala bentuk wabah dan gangguan di Desa,” kata Bendesa Adat Munggu, I Made Rai Sujana.

Tradisi unik itu masih tetap digelar hingga saat ini, dan selalu menjadi magnet daya tarik bagi semua orang. Tradisi Mekotek atau Ngerebeg ini tetap dipertahankan meski pada zaman penjajahan Belanda, sempat dihentikan dan tidak diperbolehkan digelar. “Kegiatan ini, rutin digelar setiap 6 bulan sekali, tepat pada hari Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, atau hari raya Kuningan,” ujarnya.

Bendesa Adat Rai Sujana memaparkan, tradisi mekotek sudah ada sejak tahun 1700 an. Saat itu, Kerajaan Mengwi atau Kerajaan Mangupura yang dulu memiliki istana di Desa Adat Munggu, selain istana utama ada di Mengwi, pada zaman kejayaan kerajaan Raja Mengwi, wilayah kerajan sampai di Blambangan Jawa Timur. Konon saat itu, wilayah kekuasaan Raja Mengwi yang ada di Blambangan, ingin direbut oleh kerajan yang ada di jawa.

Mendengar informasi itu, maka diutuslah pasukan Taruna Munggu, berangkat ke Blambangan untuk mempertahankan kekuasan raja Mengwi yang ada di Blambanga Jawa Timur. Tepatnya pada hari Tumpek Kuningan, pasukan taruna Munggu ini mengadakan semedi di pura dalem Kahyangan Wisesa. Singkat cerita, berhasilkah pasukan taruna Munggu ini mempertahankan wilayah kekuasaan kerajaaan Mengwi yang ada di Blambangan.

Mulai saat itu, tradisi mekotek ini diperingati sebagai kemenangan pasukan taruna Munggu mempertahankan Blambangan. “Itu sekaligus sebagai penghormatan terhadap jasa pahlawan yang gugur di dalam mempertahankan wilayah mengwi yang ada di Blambangan,” kata Rai Sujana. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us