Ini Nilai Lebih Lansia di Desa Lebih

Ini Nilai Lebih Lansia di Desa Lebih

Siapa bilang orang Lanjut Usia (Lansia) itu tidak produktif. Lihat saja para Lansia Desa Lebih, Kecamatan Gianyar mengikuti lomba di Aula Kantor Desa Lebih, Sabtu (12/12). Lomba yang digelar Pemerintah Desa Lebih
menggandeng Lembaga Bantuan Hukum – Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Provinsi Bali Pemerintah Desa Lebih melaksanakan berbaga lomba, seperti Lomba Foto, Lomba Membuat Banten Pejati serta Lomba Pidato terkait Hak Dasar Lansia.

Pesertanya merupakan Lansia se Desa Lebih dari tiga banjar yakni, Banjar Lebih Kelod, Banjar Lebih Duur Kaja dan Banjar Kesian. “Sekitar 50 lansia se-Desa Lebih sudah saya buatkan SKnya. Sehingga para lansia nantinya bisa ikut dalam Musrenbangdes dan menyampaikan apa saja yang mereka perlukan. Ini juga merupakan salah satu bentuk perhatian kami,” kata Kepala Desa Lebih, Ni Wayan Geria Wahyuni.

Selama kurun waktu setahun masa kepemimpinannya, keberadaan lansia di Desa Lebih menjadi salah satu perhatian dan menjadi program prioritasnya. Selain mengalokasikan dana di dana desa, upaya tersebut juga dilakukan dengan menggandeng pihak swasta maupun pemerintah kabupaten.

Ketua LBH APIK Bali, Ni Luh Putu Nilawati mengatakan, awal program tersebut terdapat tiga provinsi di Indonesia dengan jumlah lansia terbesar yakni, Bali, Sumatra Utara dan Yogya. Untuk Provinsi Bali, APIK Bali memilih pelaksanaan program di Desa Lebih dan Desa Singapadu Kaler. “Desa Singapadu Kaler kami pilih karena budaya dan pariwisatanya tinggi. Sedang Desa Lebih karena memiliki mata pencaharian penduduknya heterogen. Ada jadi pelayan, ada jadi petani. Jadi harus dua desa yang berbeda,” kata Nilawati.

Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan para lansia tentang hak-hak dasar mereka sebagai lansia sesuai dengan UU No 13 Tahun 1998 yang memuat 8 hak dasar lansia. Selain itu juga di masing – masing desa dibentuk kelompok Lansia Berdaya sehingga terdapat kader – kader lansia serta Posyandu Lansia di masing – masing desa yang benar – benar bermanfaat bagi lansia. “Lansia itu sebenarnya kebutuhannya adalah teman curhat. Jadi dia lebih membutuhkan bantuan berupa psikologis daripada sembako. Kebutuhan lansia itu spesifik. Alangkah baiknya jika semua desa ada seperti itu,” imbuhnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us