Ini Usulan Pelaku Pariwisata untuk Meningkatkan Perekonomian Bali

Ini Usulan Pelaku Pariwisata untuk Meningkatkan Perekonomian Bali

Sudah 15 bulan pandemi Covid-19 melanda Pulau Dewata, dan selama itu pula pariwisata Bali mati suri. Kunjungan wisatawan belum juga memberi nafas, untuk menggerakan aktivitas pariwisata, sehingga berdampak pada perekonomian Bali yang jauh merosot. Bahkan dikabarkan sampai minus 9.85 persen. Itu artinya, pariwisata memang benar-benar menjadi tulang punggung perekonomian Bali selama ini. Lalu, apakah membangkitkan perekonomian masyarakat Bali, meski didahului dengan menghidupkan sector pariwisata?

Ketua DPD Asita 1971 Bali, I Putu Winastra, S.Sos mengatakan, Bali ini tulang punggungnya pariwisata. Seluruh perekonomian yang ada di Bali tergantunng dari pariwisata. Karena itu, patiwisata membentukan daun efek yang sangat luar biasa dari segala isu. Misalnya saja, sector pertanian. Gara-gara pariwisata macet, hasil produk para petani tidak bisa disalurkan, karena masyarakat tidak bekerja dan hotel pada tutup. “Pariwisata mesti dibuka, dan rencana buka border internasional jangan dibatalkan,” katanya.

Keberanian pemerintah daerah bersama-sama pemerintah pusat membuka border internasional sedang ditunggu. “Saya meyakini pada Juni ini border internasional tak akan dibuka. Tetapi, kami berharap Juli mesti dibuka. Kami sangat memahami, ketika border Bali dibuka tidak serta merta wisatawan mancanegara itu dating. Karena negara lain sebagai pemasok pariwisata akan mempersiapkam paling tidak 2 sampai 3 bulan untuk jalan-jalan ke luar negeri. Mereka pasti melakukan persiapan matang, seperti menyiapkan biro perjalanan, air line juga melakukan promosi,” paparnya.

Pembukaan pariwisata Bali ini mesti dibarengi dengan protocol kesehatan yang lebih ketat. Terutama kepada masyarakat Bali. Artinya, prokes itu tak hanya ketat kepada sektor pariwisata, tetapi juga sector-sektor lain, sehingga nantinya muncul keyakinan wisatawan untuk berwisata ke Bali yang aman dan nyaman. “Ketika pariwisata Bali dibuka, maka 2 atau 4 dan 6 bulan kemudian wisman pasti akan datang. Kepastian dibukanya pariwisata, itu dapat menghilangkan keragu-raguan wisman dating ke Bali,” tegasnya.

Sebagai pelaku pariwisata, dirinya mendorong pemerintah membuka border lebih cepat. Sebab, yang menjadi kekhawatirannya nanti, ketika pariwisata tak dibuka, kemudian terjadi soplud tak ada, maka aset pasti pindah tangan. Karena pelaku pariwisata punya hutang. “Pemerintah harus hadir untuk bisa memuligkan pariwisata. Dulu, ketika bagusnya pariwisata Bali disayang, tetapi ketika terpuruk jangan ditendang,” pintanya.

Kelompok Ahli IHGMA DPD Bali, I Gede Nik Sukarta mengaku, saat ini pihaknya hanya melakukan doa-doa, sehingga minimal Juli sudah ada tamu di semua hotel dan villa minimal 30% itu sudah lumayan. Jika sampai akhir tahun pariwisata belum juga dibuka, maka pengelola hotel akan mati kelaparan. “Apakah pemerintah sudah antisipai sistem pangan dan siapkan situasi Bali biar kondusif? Hal itu perlu, agar tidak ada revolusi social. Itu juga mesti dibarengi dengan “nunas pengampunan ke Ibu Pertiwi dan Dewa Langit,” ucapnya.

Melihat di media sosial yang beredar terkait kerumunan di tempat-tempat wisata, seperti di Ancol dan Pengandaran atau mungkin juga di tempat-tempat lain yang tidak ter-expose. Itu sepertinya semakin jauh harapan untuk dapat memutus rantai pandemi. Mudah-mudahan Pemerintah Daerah (Pemda) Bali sudah mempersiapkan rencana antisipasi untuk menangkal arus balik yang akan segera datang mulai minggu-minggu ini, sehingga tidak terjadi peningkatan kasus Covid, karena akan dapat mempengaruhi rencana dibukanya border. “Kalau pemerintah tidak buka border sampai Juli, maka mati kelaparan atau aati karena Covid?” tanyanya.

Adanya aturan wisatawan yang berwisata ke Bali harus dikarantina minimal 5 hari. Hal itu membuat para wisatawan mengurungkan niatnya datang ke Bali, karena akan kehilangan 5 hari waktu mereka berwisata. “Kami, IHGMA dan stake holder pariwisata mengusulkan Package khusus bagi yang terkena karantina, sehingga mereka tidak bosan tinggal di kamar hotel sertatak merasa rugi. Dengan begitu Pemda Bali dapat melakukan kerjasama dan menyediakan tempat kuliner khusus bagi tamu karantina, transport dan tour guide dilengkapi dengan alat pelindung diri.

Selain itu, menyiapkan shopping online platform yang menghubungkan para wisawatan yang dikarantina dengan toko-toko souvenir atau drugstores untuk kebutuhan mereka, sehingga dilayani khusus dengan prokes. Wisatawan yang dikarantina, mesti disiapkan gelang electronik yang dapat melacak keberadaan mereka yang dinyatakan positif, untuk mengijinkan mereka ke tempat-tempat yang dibolehkan serta menyiapkan Half Day Tour ke objeck yang diblock khusus untuk tamu yang dalam status karantina. “Dengan begitu ada pemasukan bagi hotel, restaurant, object wisata yang dikelola khusus untuk tamu yang masih menjalani karantina,” pungklasnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us