Isoman di Bali. Mengapa Tidak?

Isoman di Bali. Mengapa Tidak?

Hotel di Bali dijadikan sebagai tempat Isolasi Mandiri (Isoman) mendapat respon beragam dari pelaku pariwisata. General Manager (GM) – Sales Furama Bali, I Wayan Sumandia mengaku sangat mendukung selama itu nantinya akan mempercepat border international buka. Di Bali, mesti harus ada hotel yang dipakai sebagai tempat isoman. “Itu, saya setuju. Karena saat ini yang terjadi sangat tidak fair buat Bali. Seperti diketahui, Jakarta dari dulu zona merah dan sekarang sampai black zone. Kenapa dari dulu airportnya tetap dibuka. Warga Negara Asing (WNA) dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang masuk lewat Jakarta isoman di hotel di sana. Padahal kalau mau fair, di Bali juga harusnya bisa diberlakukan hal yang sama,” ucapnya, Kamis (8/7).

Jakarta sejak dulu menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSPB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM) dan isolasi juga, tetapi airport Soekarno Hatta tetap buka. WNA atau WNI yang baru masuk harus isoman di hotel dengan biaya sendiri. “Ini kan secara tidak langsug hotel-hotel di Jakarta hidup dan tetap menerima revnue. Kenapa hal ini juga tidak diberlakukan di Bali, Kalau memang pemerintah pusat mau memulihkan ekonomi Bali yang notabena 80% ekonomi Bali dari pariwisata,” tegasnya.

Wakil Ketua IHGMA Chapter Gianyar menambahkan, kalau hotel di Bali mau dijadikan tempat isoman, hotel-hotel itu sudah memenuhi standard Cleanliness, Health, Safety, dan Environment (CHSE). Pemerintah daerah atau pusat bisa memantau terus hotel tersebut dalam penerapan CHSE selama dijadikan tempat isoman. “Di Bali, banyak ada hotel yang dari dulu sudah siap dipakai isoman dan hampir 70% lebih hotel di Bali sudah tersertifikasi CHSR. “Harapan saya, pemerintah juga harus fair hotel-hotel yang djadikan tempat isolasi harus merata. Tidak hanya di satu lokasi saja. Mungkin harus di setiap kabupaten ada biar adil,” sarannya.

Sekarang ini, lanjut Sumandia pelaku pariwisata di Bali sudah sangat kecewa karena PPKM Darurat yang diberlakukan pemerintah pusat untuk Bali seakan dipaksakan. Dirinya sangat paham pemerintah juga memikirkan kesehatan rakyat, tetapi seharusnya Bali diberikan penanganan berbeda. Jangan disamakan dengan daerah lain. Apalagi dengan Jawa. Karena, tulang punggung ekonomi masyarakat Bali 80% dari pariwisata. “Harusnya pusat paham betul hal itu. Kami di Bali terutama para steak holder pariwisata sudah siap open border dari September tahun lalu dengan melakukan berbagai persiapan mulai dari verifikasi CHSE, berbagai FGD, penerpan prokes dengan sangat disiplin, vaksin sudah hampir 70%, apalagi?” tanyanya.

Pihaknya kemudian berharap, setelah PPKM Darurat hingga tanggal 20 Juli ini usai, Bali diberikan lampu hijau untuk buka border. Kalau ini sampai berkepanjangan, dirinya yakin ekonomi masyrakat Bali akan semakin terpuruk. Hal itu akan menjadi rawan kriminal karena saat ini, masyarakat Bali memerlukan kebutuhan dasar, yaitu pangan (makan). “Kesehatan memang penting, tetapi kalau kebutuhan dasar manusia sudah tidak terpenuhi bagaimana kesehatan bisa terjaga,” tutupnya.

Hal senada juga dikatakan Wayan Karta, GM Hotel Bintang 4 di kawasan wisata Kuta. Menurutnya, isoman di hotel untuk pasien tanpa gejala, penginapan tenaga kesehatan, karantina repatriasi secara bisnis sangat membantu bisnis hotel untuk mendapatkan revenue atau penghasilan. Namun, disisi lain biasanya kalau hotel tersebut menerima isoman atau sejenisnya, hotel tesebut tidak diijinkan menerima tamu yang lain. Artrinya wisatawan umum atau selain isoman. “Tamu umumpun kalau hotel atau penginapan yang sedang dipakai atau pernah dipakai untuk isoman walaupun sudah dilakukan pembersihan atau resteril, mereka cendrung tidak akan memilih hotel tersebut untuk menginap,” ucapnya.

Berbeda halnya dengan GM Grand Ixora Kuta Resort, Ketut Budhiratmanu yang mengatakan, hotel dipakai sebagai isoman yang positif Covid sangat beresiko atas brand hotel tersebut. Hal itu akan memberikan dampak negatif bagi customer saat ini maupun masa setelah berakhirnya pandemic. Hotel itu akan memerlukan waktu lama memulihkan status hotel tersebut dan biaya besar untuk bisa mensterilkan semua fasilitas hotel akibat adanya pasien Covid-19 itu. “Kami di Grand Ixora, lebih baik hanya menerima customer yang tidak bergejala Covid-19 untuk keselamatan karyawan dan tamu yang tinggal serta menjaga nama Brand Identity kita,” paparnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us