Jangan hanya Rakyat yang Disuruh Bersabar

Jangan hanya Rakyat yang Disuruh Bersabar

Penambahan penerbangan langsung dari Singapura – Bali sesuai dengan berita yang beredar belakangan ini tidak akan memberikan efek positif, jika persyaratan wisatawan mancanegara masuk ke Bali masih ketat. Terutama syarat karantina. Demikian pula skema travel bubble bisa disepakati dengan negara lain yang telah memenuhi syarat keamanan kesehatan, maka penambahan penerbangan bisa menyesuaikan. “Saya pribadi mendukung hal itu, meskipun hotel saya belum tentu kebagian dari kebijakan bubble ini,” kata Regional Director of Operations and General Manager SereS Hotels and Resorts, Nyoman Prabawa kemarin.

Adanya kebijakan itu, paling tidak dapat menaikan moral atau psikologi warga Bali yang bertumpu pada pariwisata. “Itu sangat penting buat kami yang sedang terpuruk sekarag ini, baik secara moral ataupun psikis. Para pejabat tidak cukup peka untuk merasakan kepedihan ini, karena mereka masih digaji penuh. Sedangkan rakyat hanya diminta untuk bersabar saja. Kami yang mengelola hotel misalnya terus diminta untuk bersabar. Sementara Bank, PLN, PDAM, Telkom, dan Kantor Pajak tidak diminta untuk bersabar, sehingga dalam keadaan sesulit ini kami harus tetap dan tepat waktu membayarnya,” paparnya.

Berita tentang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan berencana menambah penerbangan langsung (direct flight) dari Singapura-Bali. Itu bersamaan dengan dibukanya travel bubble antara Singapura dengan Batam-Bintan itu tidak ada kaitannya dengan travel bubble karena pelaksanaannya diatur dengan Surat Edaran tersendiri. Tujuannya sangat jelas untuk memajukan pariwisata Batam-Bintan. “Sedangkan sejak Bali dibuka untuk wisatawan asing mulai 14 Oktober 2021, belum ada penerbangan dari Singapore langsung ke Bali,” jelas Prabawa.

Jika rencana Menko Marves akan menambah penerbangan, maka sia-sia saja. Sebab jadwal penerbangan Singapura-Bali yang telah dibuka belum berjalan maksimal. “Saya juga sudah double check ke sumber informasi yang dapat dipercaya, belum ada penerbangan dari Sngapura – Denpasar sampai detik ini. Mungkin saja judul dari artikel ini memang sengaja dibuat untuk memberikan harapan dan semangat kemajuan pariwisata, akan tetapi sebaiknya yang didorong adalah kesepakatan travel bubble Singapura-Bali, dan Bali dengan negara lain yang menerapkan Travel Bubble,” sarannya.

Dengan dibukanya travel bubble antara Singapore, Bintan, Batam dan Bali, pasti akan berdampak positif terhadap pariwisata Bali. Tetapi, hal itu tidak akan mampu mengangkat tingkat hunian hotel secara merata. Sebab, yang akan menjadi pertanyaan, apakah pemerintah serius akan membuka travel bubble ini? Jangan-jangan cuman prank aja. Sebab, syarat karantina masih dirasakan sangat berat. “Jika pemerintah ingin memajukan kembali pariwisata di Bali, maka yang didorong bukan penambahan penerbangan, tetapi kesepakatan pariwisata tanpa syarat yang selama ini memberatkan wisatawan. Dengan pariwisata skema travel bubble, saya pikir wisatawan akan mulai berdatangan. Selama ini yang menghambat justru kewajiban karantina ini,” tegas pria kalem ini.

Banyak juga yang berpikir, dibukanya penerbangan Singapura – Bali sebagai sebuah bunuh diri karena kasus omicron sangat tinggi di luar negeri. Prabawa menegaskan, kata bunuh diri itu mungkin kurang tepat, karena bagi wisatawan yang hendak masuk ke Indonesia melalui skema travel bubble, diberlakukan sejumlah syarat, diantaranya sudah 2 kali vaksin, menunjukkan hasil negatif PCR yang sampelnya diambil dalam kurun waktu 3×24 jam, memiliki visa kecuali bagi Warna Negara Asing (WNA) asal Singapura yang merupakan bagian dari ASEAN, memiliki asuransi 30.000 Singapore Dollar, menggunakan aplikasi PeduliLindungi dan BluePass. “Dengan persyaratan ini, saya rasa sudah memberikan keamanan bagi pelaku pariwisata yang akan terkait langsung dalam pelaksanaan kegiatan pariwisata,” ungkapnya.

Disamping itu masyarakat di Bali juga telah mendapatkan vaksin. Cakupan vaksin dosis 1 hingga November 2021 telah mencapai 100,61 persen. Angka ini setara dengan 3,43 juta peserta vaksin dari target yang ditetapkan sebanyak 3,41 juta orang. Sementara untuk vaksinasi dosis 2 hingga kemarin telah tercapai 87,28 persen dari target. Dengan cakupan ini, Bali sudah memenuhi syarat sebagai tujuan wisata dengan skema travel bubble. Hotel-hotel di Bali juga sejak lama menerapkan Cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainability (kelestarian lingkungan) yang disingkat CHSE,” beber Prabawa serius. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us