Jangan Nodai Kebangkitan Pariwisata Bali

Jangan Nodai Kebangkitan Pariwisata Bali

Kebangkitan pariwisata Bali jangan dinodai dengan hal-hal yang negative. Apalagi itu masalah criminal, akan dapat mencoreng citra pariwisata Bali berbasis budaya. Hal itu juga dapat mengganggu kepercayaan masyarakat asing terhadap Pulau Dewata yang terkenal tenang, aman, nyaman dan damai. “Menjaga kepercayaan tamu itu sangat sulit,” kata General Manager Villa Kayu Raja, Gede Nik Sukarta saat menangapi belakangan ini sering terjadi penipuanm dan kecurangan yang dilakukan pemilik money changer (yang hanya sebuah rombongan kecil di tempat tertentu) tidak bertanggung jawab, , Jumat (2/9).

Menurut Gede Nik Sukarta, hal ini dapat mengganggu kondisi pariwisata yang bergerak pulih, juga sangat terkait dengan perekonomian masyarakat Bali. Karena itu, ia berharap kepada pihak keamanan mesti tegas menindak money changer yang tak berijin dan yang melakukan penipuan terhadap para tamu. Pengelola money changer bodong dan tidak bertanggung jawab, sering kali melakukan kejahatan dan penipuan terhadap wisatawan. Money changer yang tidak memiliki ijin dan yang telah melakukan kecurangan mesti ditindak tegas. “Wisatawan yang tinggal di sebuah kawasan petitenget sudah terkena tipu. Bahkan, bukan tamu yang menginap disalah satu property saja, namun di banyak property juga mengalaminya, seperti di wilayah Legian, Kuta, Seminyak dan lainnya sudah menjadi korban,” imbuhnya.

Syukurnya tamu tersebut sudah menginformasikan kepada hotel atau villa tempat mereka menginap. Lalu, bagaimana dengan tamu yang tidak mengadu atau melaporan? Itulah yang menjadi persoalannya. “Kami pelaku usaha pariwisata tentu berterimaksih juga ke para kepala lingkungan dengan aparaturnya, seperti Pecalang sudah mau mendengar dan melakukan tindakan di wilayah hukumnya untuk minimal memberikan teguran kepada para pelaku bisnis yang tidak sesuai dengan etika dan menyalahi hokum. Semoga kedepan ada kolaborasi baik dari Pemerintah Daerah (Pemda) dan Desa Adat juga pihak terkait, utamanya pemda dengan segala kebijkanya memberikan emphati kepada pelaku usaha pariwisata, sehingga kami pelaku pariwisata bisa terbantu,” ucapnya.

Gede Nik Sukarta lalu memaparkan beberapa kejadian, seperti tamu yang tinggal di kawasan Beraban dan dekat Lembaga Pemasyarakatan (LP) silaporkan dijambret, salah satu tamu yang stay di salah satu Villa di Kawasan Petitenget menginformasikan ke reception tepat pukul 21:45 pm ada tamu yang mengalami kejadian aneh, seperti hipnotis, sehingga uang tamu yang berupa dollar AUS diganti dengan uang asing dengan pecahan berbeda. “Itu terjadi di salah satu tempat di dekat Quik Laundry, depan Central Taum. Saat itu, tamu sudah diantar ke Polsek Kuta Utara oleh scurity kami,” ungkapnya.

Kejadian di money charger di sebelah coffe cartel itu, pada tanggal 21 Agustus lalu, ada tamu yang tinggal di Villa 8 pada pukul jam 10 pm melaportkan kejadian pula. Security selanjutnya memfollow up ke sana, tetapi money changer itu sudah tutup. Keesokan harinya tanggal 22 Agustuis security kembali ke sana untuik melalkukan komplin. “Uang itu dikembalikan Rp.1.000.000 kepada tamu. Nah, kejadian seperti ini dapat membuat citra pariwisata Bali buruk di mata dunia. Makanya, aparat keamanan ataupun petugas terkait bisa memberikan emphaty dan perlu menertibkan money changer nakal dan tak berijin agar Bali aman,” harap Penasehat Bali Villa Association (BVA) ini serius.

Bukan hanya itu, penjambretan terhadap tamu juga terjadi di jalan raya, ketika tamunya keluar property untuk jalan-jalan menikmati suasana. Penjambret yang menggunakan motor scoopy itu mengambil kalung pada Jumat 26 Agusts malam. Pada pagi harinya, Sabtu 27 Agustus, security memfollow up ke Polsek Kuta Utara untuk klaim asuransi. “Namun, dari pihak Polsek Kuta Utara meminta bukti kepemilikan kalung, tamu sebagai syarat klaim asuransi, Tamu tidak memiliki karena surat ada di negaranya. Nominal kalung menurut tamu, sekitar Rp.150.000.000 jika dirupiahkan. Tamu sudah diinfo tentang syarat tersebut untuk bisa klain asuransi,” sebutnya.

Gede Nik Sukarta menegaskan, ini hanya beberapa contoh keluhan para tamu. “Mungkin saja masih banyak yang tidak mau mengungkapkanya, menginformasikan kepada pihal hotel atau villa tempat mereka menginap atau melaporkan ke pihak berwajib,” pungkas Gede sukarta. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us