“Jegog Mabarung” PKB XLIII di Masa Pandemi

“Jegog Mabarung” PKB XLIII di Masa Pandemi

Jangan kaget ketika menyaksikan penabuh Jegog yang tak mengumbar senyum pada dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-43 di Gedung Nawanatya, Kampus ISI Denpasar, Senin (14/6) malam. Padahal, penabuh laki-laki itu menari-nari riang hingga memngangkat badannya, mengayun panggul lebih tinggi saking gembiranya. Maklum, semua penabuh memakai masker, sehingga menutup mulut dan hidung yang biasanya mengumbar senyum manis itu. Kecuali pemain suling yang memakai mulut untuk menghasilkan suara. Ya, itu karena tampil di masa pandemi yang wajib menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes), Walau demikian, penampilan Duta Kabupaten Jembrana ini tetap mempesona.

Pada pelaksaanaan PKB hari ketiga itu, menyajikan Jegog Mebarung dari dua sekaa Jegog, gamelan khas dari Bali barat. Kedua sekaa itu, Sekaa Dau Mekar Desa Manistutu dan Yayasan Kesenian Jegog. Kedua sekaa ini masing-masing menyajikan tiga garapan tabuh dan tari. Pementasa diawali dari Sekaa Dau Mekar Desa Manistutu yang menyajikan Tabuh Truntungan Mekar yang menggambarkan dau, sebuah pohon yang tumbuh di hutan dan berbunga di musim kemarau.

Kemudian menyajikan Tari Penyambutan Puspa Gargita yang penuh ekspresi sebagai luapan rasa kegembiraan. Tari ini dibina oleh Ketut Wijana Raga dan Made Subarwanta sebagai pembina tabuh. Selanjutnya menyajikan Tabuh Petegak Sekar Gadung, sebuah bunga berwarna ungu yang indah dan menawan. Garapan musik dengan media alat musik gamelan jegog menonjolkan permainan kekotekan, namun tetap terbingkai dalam melodi dan jajar pageh pada gending-gending jegog.

Sementara Yayasan Kesenian Jegog menampilkan Tabuh Trungtungan “Ngelangun Semeng” yang menggambarkan hijaunya pepohonan bergoyang gemulai tertiup angin menyambut Sang Surya terbit di ufuk timur. Suasana itu, di iringi dengan siulan burung yang menyapa pagi. Selanjtnya menapilkan Tabuh Petegak Jalak Putih, yang menggambarkan seekor burung jalak putih dengan warnanya yang indah, sifat dan karakteristik burung yang kadang
hinggap di pepohonan dengan loncat ke atas, ke bawah ke samping serasa tanpa batas.

Selanjutnya menyajikan Tari Mekepung, merupakan garapan tari karya I Ketut
Suwentra, SST. Tari ini menggambarkan atraksi balapan kerbau sebagai bentuk keceriaan dan kegembiraan para petani ketika mengangkut hasil panennya dari sawah menuju rumah mereka masing-masing. Tari ini sangat terkenal ang sering ditampilkan untuk menyambut wisatawan, baik di Bali, luar daerah dan luar negeri. Untuk tampil diajang PKB ini, sekaan ini menurunkan pembina tari Pekak Rindu dan Mbah Rindu sebagai pembina tari.

Sajian pamungkas, kedua sekaa jegog memainkan gamelan secara bersama-sama (mebarung) dengan memainkan gending maisng-masing. Suara gemuruh kedua jegog saling bersahutan dan menggema di Panggung Natya Mandala. Penampilan ini tentu mengundang decak kagum penonton yang menyaksikan, tidak saja di Gedung Natya melainkan penonton di rumah melalui Chanel You Tobe Dinas Kebudayaan Provinsi Bali..

Kedua Permainan mereka sungguh atrakltif, suarana menggema hingga ke hati setiap penonton. Namun, sambutan penonton secara langsung memang sedikit, karena penonton memang dibatasi hanya 100 orang. Itupun didahuli dengan menyetor hasil swab negatif, cek suhu dan wajib membersihkan tangan dengan hand sanitizer serta memakai masker sebagai penerapan prokes bagi penyunjung. Demikian pula para penabuh yang didahuli dengan tes swab, sebagai syarat untuk tampil diajang bergengsi dan dimasa pandemi ini. Walau demikian, di dunia maya animo penikmat seni jegog secara daring cukup antusias. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us