Joged Bumbung Miliki Nilai Estetika dan Popularitas Tinggi

Joged Bumbung Miliki Nilai Estetika dan Popularitas Tinggi

Joged Bumbung sebagai salah satu kesenian tradisional Bali mengalami perjalanan sejarah cukup lama, sehingga mendapat pengaruh secara kental dan integral dari budaya pendukungnya, di mana kesenian ini lahir, hidup, dan berkembang. Joged Bumbung sebagai kesenian rakyat yang kaya akan nilai-nilai artistik dan filosofi serta daya pikat tersendiri, sehingga dapat difungsikan tak hanya sebagai hiburan, namun juga sebagai tontonan, tuntunan, dan tatanan. Dalam ajang PKB, joged bumbung sebagai pagelaran favorit dengan daya pikat dari penampilan gaya dari masing-masing kabupaten/kota.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. I Nyoman Cerita, SST.,MFA ketika menjadi narasumber pada Kriyaloka (Lokakarya) Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII di Wantilan Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (16/6). Saat itu, seniman asal Gianyar itu didamping oleh narasumber Ni Wayan Suartini, S.Sn.M.Sn dan dipandu oleh moderator Dr. Ni Luh Sustiawati, M. Pd. Kedua narasumber ini mengupas secara tuntas kesenian yang belakangan sempat menuai fenomena di masyarakat, hingga menjadi kesenian favotior dalam ajang PKB.

Nyoman Cerita mengungkapkan, joged bumbung dalam ajang PKB mendapat tempat dihatri masyarakat. Antosiasme masyarakat tidak hanya jumlah penonton yang berjubel, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam “ngibing”. Adegan ibing-ibingan inilah sebagai identitas pertunjukan joged itu sendiri yang dapat membangkitkan dan menghidupkan suasana setiap pertunjukan lebih bergaerah, interaktif, kreatif, dan dinamis dengan mengundang galak tawa para penonton dalam bentuk hiburan segar.

Joged bumbung sebelumnya diyakini sebagai seni pertunjukan Bali yang berkelas dan bermartabat. Namun, belakangan dijuluki berbagaimacam ungkapan, seperti: joged ngebor, joged forno, joged jaruh, dan lain sejenisnya. Lebih parah lagi, kesenian joged bumbung yang oleh masyarakat diakui sebagai bagian dari seni pertunjukan Bali yang memiliki nilai estetika dan popularitas tinggi, belakangan ini dijuluki sebagai kesenian murahan dan remeh.

Hal itu karena joged bumbung mengalami degradasi nilai-nilai, norma-norma disebabkan oleh pengaruh globalisasi, pesatnya perkembangan teknologi, telekomunikasi, dan informasi, sehingga sulit membendung perubahan-perubahan budaya yang begitu cepat. “Tari jogged itu bukan hanya sekedar menari tetapi disitu ada nilai serta rasa. Tari Jpged dilandasi dengan filosofi dengan tiga pilar, yaitu siwam (nilai kerohanian, kesucian), satyam (nilai kejujuran, kesetiaan ketulausan) kejujurandan sundaram (nilai keindaha). Tiga pilar inilah menguatkan tari jogged tradisi sehingga menjadi pertunjukan berkelas dan berematabat. Ketiga pilar itu menjadi pertujukan lebih hidup, komunikatif dan metaksu,” paparnya.

Dalam pentasnya, paling menonjol pada adegan ibing-ibingan yang didalamnya terdapat pengaruh dari kesenian jaepongan dari Jawa. Suasana Jaepongan digarap secara kreatif dan inovatif dengan menggunakan Kendang Sunda dipadukan dengan suara rindik (gerantang) yang harmonis. Namun, dominan suasana Jaepongannya. Dalam adegan ibingan-ibingan, seperti itu para penari joged bumbung dan penari pengibingnya melakukan gerakan improvisasi mengikuti suara gambelan dalam suasana romantis yang sangat kental dengan nuansa Jaepongan.

Namun di Balik itu, kalangan penonton yang tua-tua mengkwatirkan tentang keberadaan tari Joged bumbung yang telah diyakini memiliki nilai-nilai dan berkelas tinggi. Bergesernya joged bumbung belakangan ini, dari joged bumbung yang memiliki pakem yang kuat ke penampilan joged bumbung yang bernuansa Jaepongan. Para tetua, budayawan, agamawan, sastrawan, seniman, menjadi galau dan kwatir. Jangan-jangan kedepan tari joged bumbung yang merupakan kesenian tradisional Bali yang adiluhung akan tergerus oleh arus dari jurus-jurus yang merusak martabat dan kualitas dari tari joged bumbung itu sendiri.

Karena hal itu, perlu dijadikan bahan perenungan, introspeksi, evaluasi bagi semua pihak baik masyarakat dan pemerintah dengan tujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian joged bumbung ke arah yang positif sesuai dengan pakem yang ada. “Pemerintah Provinsi Bali, melalui pembinaan, seperti program revitalisasi, rekonstruksi, penggalian, pelestarian dan pengembangan. Kesenian joged bumbung dirangsang, dibangkitkan spirit dan rohnya untuk lebih bergairah, bersemangat meningkatkan entitas, dan kualitas pertunjukannya dalam upaya mengembalikan emage kesenian joged bumbung ke arah lebih baik dan terhormat seperti semula,” ujarnya.

Festival-festival, parade-parade dan pementasan-pementasan serta kesempatan-kesempatan lainnya untuk memberikan ruang yang lebih luas terhadap pelestarian dan pengembangan kesenian joged bumbung di Bali. Salah satu event yang paling bergengsi adalah Pesta Kesenian Bali (PKB). Banjar-banjar, Desa Pekraman, sanggar-sanggar dan sekaa-sekaa kesenian memiliki andil besar pula di dalam usaha pelestarian dan pengembangan kesenian joged bumbung di Bali. Bahkan kesenian joged bumbung sebagai bagian dari budaya lokal, dengan beranekaragam gaya dan jenisnya yang masing-masing memiliki daya pikat dan karakteristik tersendiri sudah menjadi milik masyarakat.

Gamelan joged bumbung dimainkan dalam tiga bagian, yaitu bagian pembukaan yang disebut tabuh petegak, bagian iringan tari yang mengikuti struktur tari joged bumbung, terdiri atas: pepeson (pengelembar), pengecet (ibingan-ibingan), bapang (nigtig), tetangisan (ambul-ambulan), dan pekaed bagian akhir bagian penutup yang disebut tabuh penyuwud yaitu sebuah musik instrumental sebagai pertanda mengakhiri pertunjukan joged bumbung.

Sementara Ni Wayan Suartini menegaskan, Tari Joged Bumbung sebagai sebuah tari pergaulan yang memiliki unsur sosial sangat tinggi. Tarian ini sangat popular menjadi seni hiburan paling merakyat dan hampir disukai oleh semua kalangan. Tari ini dilakukan secara berpasangan dengan melibatkan partisipasi penonton yang dikenal dengan istilah ngibing. Pola-pola gerak yang agak bebas, lincah dan dinamis yang diambil dari gerak-gerak tari Bali.

Gerak tarinya, seperti mungkah lawang, agem kanan, agem kiri, luk nerudut, ulap-ulap, nyeledet, ngegol, dan ngumbang. Pada saat ibing-ibingan tidak ada pakem gerak yang mengikat, semua dilakukan dengan improvisasi dan tidak menghilangkan etika, estetika dan logika sebagai penari yang mengedepankan kaidah-kaidah seni dalam menari. Adapun busana yang dipergunakan dalam Tari Joged Bumbung sangat sederhana, kain atau kamen, baju kebaya, gelungan dan selendang serta membawa kipas. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us