Koster Luncurkan Buku Ekonomi Kerthi Bali Membangun Bali Era Baru. Simak Paparannya

Koster Luncurkan Buku Ekonomi Kerthi Bali Membangun Bali Era Baru. Simak Paparannya

Alam Bali, Manusia/Krama Bali, dan Kebudayaan Bali merupakan tiga unsur utama yang harus dipahami secara komprehensif tentang Bali. Ketiga unsur utama tersebut menjadi satu-kesatuan tata cara kehidupan Krama Bali yang berkebudayaan tinggi.

Alam Bali terdiri dari lahan pertanian (sawah dan bukan sawah) dengan luas 353.400 hektare dan lahan bukan pertanian dengan luas 210.266 hektare, kawasan hutan dengan luas 136.832 hektare (24,3%), yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi, 2 taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya dan hutan cagar alam. Garis pantai yang mengelilingi Pulau Bali dan pulau-pulau kecil lainnya, yakni sepanjang 633,2 Km meliputi 8 Kabupaten/Kota (kecuali Bangli) dan dengan luas laut 9.440 Km2.

Pertanian Bali menghasilkan produk yang berkualitas dan sangat terkenal, seperti, beras Bali, salak Bali, jeruk Bali, kopi Bali, kakao, manggis, dan anggur. Kelautan dan perikanan menghasilkan produk yang berkualitas dan sangat terkenal, seperti, ikan tuna, cakalang, krapu, udang, kepiting, lobster, cumi-cumi, dan berbagai ikan hias, serta garam tradisional lokal Bali.

Secara historis dan sosiologis menunjukkan Krama Bali adalah manusia unggul yang memiliki kualitas, integritas, dan loyalitas dengan nilai-nilai kebudayaan tinggi. Dari sisi kualitas, keunggulan Krama Bali tersebut tercermin dalam potensinya yang luar biasa, yaitu: rajin, tekun, kreatif, dan inovatif. Dengan kualitas tersebut Krama Bali mampu menghasilkan karya-karya berbasis budaya berupa kerajinan rakyat yang kreatif dan inovatif serta bernilai tinggi sehingga menarik perhatian masyarakat dunia.

Kebudayaan merupakan sumber daya utama, penting dan strategis yang dimiliki oleh Bali. Keseharian Krama Bali dengan budayanya yang unik, senantiasa menampilkan kontur budaya lokal dan semua itu menunjukkan bahwa perjalanan Bali telah melewati alur sejarah yang panjang. Indikasi tersebut dapat dilihat dari sekian banyak temuan arkeologis di berbagai wilayah Bali yang menceritakan tentang masa lalu perjalanan panjang Bali.

Kehidupan budaya Krama Bali juga tercermin dalam pertanian berupa Sistem Subak sebagai manifestasi dari filosofi nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yang merupakan suatu kearifan lokal dengan budaya sangat tinggi sehingga dikagumi oleh dunia. Sistem Subak sebagai suatu sistem pertanian budaya Bali mendapat pengakuan dan pelindungan dari UNESCO, sebagai Warisan Dunia (World Heritage).

Oleh karena itu, masyarakat dunia, bahkan pemimpin dunia memberi sebutan untuk Bali yaitu: The Island of Gods (Pulau Dewata), The Island of Thousand Temples (Pulau Seribu Pura), The Morning of the World (Mentari Pagi di Pulau Bali atau Paginya Dunia), The Paradise Island (Pulau Surga), The Last Paradise (Surga Terakhir di Bumi), dan The Island of Love (Pulau Cinta).

Alam Bali, Krama Bali, dan Kebudayaan Bali yang sangat kaya, unik, dan unggul secara historis dan tradisi turun-temurun sesungguhnya merupakan sumber daya perekonomian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Bali.

Sejak 1930-an, kekayaan, keunikan, dan keunggulan kebudayaan Bali dalam berbagai karya seni di Ubud, telah menjadi daya tarik masyarakat dunia sehingga Bali dikunjungi masyarakat dari berbagai negara di dunia. Sejak saat itu, Bali semakin dikenal, kemudian berkembang menjadi destinasi wisata dunia. Dalam perkembangan selanjutnya, pariwisata berkembang dengan pesat yang ditandai dengan meningkatnya wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Bali, meningkatnya pembangunan fasilitas dan sarana prasarana pendukung pariwisata, semakin berkembangnya usaha jasa pariwisata.

Sektor pariwisata memberi konstribusi paling besar terhadap pertumbuhan perekonomian Bali, bahkan Bali menjadi semakin bergantung dari pariwisata. Pembangunan pariwisata diselenggarakan dengan arah kebijakan yang kurang tepat, dan tidak menghidupi/memberi manfaat sektor pertanian, kelautan dan perikanan, serta industri kerajinan rakyat berbasis budaya. Akibatnya sektor pertanian, kelautan dan perikanan semakin ditinggal oleh masyarakat, beralih ke sektor pariwisata.

“Sektor pariwisata sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal, seperti: gangguan keamanan (bom Bali 1 dan bom Bali 2), bencana alam (erupsi Gunung Agung), dan bencana nonalam (virus SARS, Flu Burung), dan munculnya Pandemi Covid-19 yang melanda hampir semua negara di dunia. Kejadian yang menimpa sektor pariwisata ini, berdampak langsung yang mengakibatkan perekonomian Bali terpuruk,” ungkap Gubernur Bali, Wayan Koster.

Bertitik tolak dari dinamika tersebut, sudah saatnya Bali menata ulang perekonomian untuk menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali: kembali kepada keorisinilan dan keunggulan sumber daya lokal meliputi Alam, Krama, dan Kebudayaan Bali terutama di sektor pertanian, kelautan dan perikanan, dan industri kerajinan rakyat berbasis budaya branding Bali. Pariwisata diposisikan sebagai sumber tambahan (bonus/benefit) dalam perekonomian Bali yang harus dikelola agar berpihak terhadap sumber daya lokal Bali.

Selain itu, hendaknya pengembangan perekonomian Bali mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) termasuk teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi kreatif dan digital. Perkembangan IPTEK juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian agar berkualitas, bernilai tambah, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Ketidakseimbangan struktur dan fundamental perekonomian Bali mengakibatkan perekonomian Bali di satu pihak, sangat tergantung dan sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal dan di pihak lain, pertumbuhan kapasitas ekonomi Bali kurang berkembang secara optimal.

Guna memperkuat struktur dan fundamental perekonomian Bali diperlukan suatu konsep ekonomi yang komprehensif yaitu Ekonomi Kerthi Bali. .

Menurut Koster sekaligus penulis buku Ekonomi Kerthi Bali ini menjelasakan konsep tersebut merupakan implementasi visi membangun Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, yang mengandung makna:

“Menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sakala-niskala menuju kehidupan krama Bali dan gumi Bali sesuai prinsip Trisakti Bung Karno, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah, dan terintegrasi dalam bingkai negara kesatuan republik indonesia berdasarkan nilai-nilai pancasila 1 juni 1945,” tambah Koster.

Visi tersebut untuk mewujudkan keseimbangan/keharmonisan Alam Bali, Krama Bali dan Kebudayaan Bali sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yaitu enam sumber utama kesejahteraan/kebahagiaan kehidupan manusia meliputi, penyucian jiwa (Atma Kerthi), penyucian laut (Segara Kerthi), penyucian sumber air (Danu Kerthi), penyucian tumbuh-tumbuhan (Wana Kerthi) penyucian manusia (Jana Kerthi) dan penyucian alam semesta (Jagat Kerthi). Prinsip ini untuk mewujudkan Bali Berdikari dalam Bidang Ekonomi, dibangun dan dikembangkan berlandaskan nilai-nilai filosofi Sad Kerthi dengan menerapkan sebelas prinsip.

Belajar dari pengalaman dalam berbagai kejadian, sudah waktunya Bali mengembangkan perekonomian yang tidak lagi menggantungkan sektor pariwisata. Bali harus mengambil pilihan mengembangkan perekonomian yang bersumber dari keorisinilan dan keunggulan sumber daya lokal meliputi: Alam, Krama, dan Kebudayaan Bali sebagai sumber daya potensial pada sektor pertanian, kelautan/perikanan, dan industri kerajinan rakyat.

Selain itu, pengembangan perekonomian Bali hendaknya mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan digital sesuai dengan potensi Krama Bali secara efektif, efisien, produktif, serta bernilai tambah.

Dalam mengembangkan perekonomian Bali, sektor pariwisata diposisikan sebagai sumber tambahan (bonus/benefit) dalam perekonomian Bali. Bahkan sektor pariwisata harus berperan menghidupi/memberi manfaat untuk bergeraknya sektor pertanian, kelautan/perikanan, dan industri kerajinan rakyat sehingga secara nyata memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan Krama Bali. Dalam hubungan tersebut, diperlukan arah kebijakan, pendekatan, dan prinsip untuk menata serta mengembangkan perekonomian Bali dengan struktur dan fundamental yang berbasis pada sumber daya lokal Bali, lebih berkualitas, bernilai tambah, tangguh, berdaya saing, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Pembangunan pertanian dalam arti luas termasuk perikanan dan sumber daya kelautan perlu ditata dan dikelola dengan baik dari hulu sampai ke hilir sesuai dengan potensi yang dimiliki Kabupaten/ Kota, menuju kedaulatan pangan dalam upaya pemenuhan jumlah dan kualitas yang memadai untuk kebutuhan Krama Bali maupun wisatawan, dan berorientasi ekspor. Bahkan untuk menjamin kualitas dan keamanan/kesehatan pangan akan diterapkan sistem pertanian organik menuju Bali Pulau Organik.

Dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi Bali perlu dibangun/dikembangkan Industri Branding Bali dari hulu sampai ke hilir, Ekonomi Kreatif berbasis budaya Branding Bali serta Ekonomi Digital. Pembangunan/pengembangan perekonomian tersebut dilakukan sesuai dengan potensi Kabupaten/Kota dalam rangka menyeimbangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi antar wilayah se-Bali, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan daerah, membuka lapangan kerja baru, dan mengurangi tingkat kemiskinan.

Untuk memperkuat struktur dan fundamental perekonomian Bali diperlukan pengembangan dan penguatan Industri Kecil Menengah (IKM), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan Koperasi terutama Koperasi Produksi serta Lembaga Perekonomian Adat dalam pengelolaan hasil pertanian, perikanan, perkebunan, dan industri kerajinan rakyat.

Konsep Ekonomi Kerthi Bali memiliki enam sektor unggulan sebagai pilar perekonomian Bali, yaitu, sektor pertanian dalam arti luas termasuk peternakan dan perkebunan, sektor kelautan/perikanan, sektor industri, sektor Industri Kecil Menengah (IKM), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Koperasi, sektor ekonomi kreatif dan digital, dan sektor pariwisata.(BTN/ery)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us