“Ksatria Wastra Avirama”, Perca Endek yang Mempesona

“Ksatria Wastra Avirama”,  Perca Endek yang Mempesona

Berbicara tentang fashion, memang tidak akan ada habisnya. Fashion atau berpenampilan yang tepat dan sesuai sudah menjadi kebutuhan saat ini. Trend fashion bergulir dengan sangat cepat membuat orang terkadang kewalahan untuk mengikutinya, yang sering disebut dengan fast fashion. Hal tersebut mendorong lahirnya karya-karya busana baru yang unik dan menarik. Sebut saja salah satunya karya busana yang berjudul “Ksatria Wastra Avirama”. Karya busana ini lahir dari sebuah penelitian oleh Dewa Ayu Putu Leliana Sari, S.Pd., M.Sn, bersama Dr. Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, S.Sn., M.Erg., dan Drs. I Gusti Bagus Priatmaka, M.M, Dosen Program Studi Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Ksatria Wastra Avirama merupakan satu koleksi karya busana smart casual yang berasal dari kombinasi kain perca tenun endek Bali dan kain tenun endek seseh. Karya ini terdiri dari 5 set pakaian dengan berbagai warna sebagai berikut, seperti merah, kuning-coklat, biru-ungu, hitam dan hijau. Kain dari warna-warna tersebut berasal dari kain perca tenun endek yang dikumpulkan dari beberapa penjahit di beberapa kota besar di Bali. “Ksatria Wastra Avirama berasal dari Bahasa Sansekerta, yang berarti prajurit, orang yang gagah berani dalam memperjuangkan, melestarikan kain tradisional nusantara secara terus-menerus,” ujar Leliana Sari, belum lama ini.

Pagelaran busana dikemas dalam diseminasi karya “Ksatria Wastra Avirama” telah berlangsung pada Kamis, tanggal 9 September 2022, di Plaza Renon. Tempat ini memang tepat sebagai pengenalan karya, karena lokasinya strategi berada di tengah kota Denpasar, tempat berkumpulnya generasi mileneal. Diseminasi koleksi karya desain busana “Ksatria Wastra Avirama” ini didukung oleh model, make up artist dan tim panitia lainnya oleh mahasiswa program studi Desain Mode FSRD ISI Denpasar Angkatan tahun 2020 dan tahun 2021 (Himpunan Mahasiswa Jurusan Desan Mode). “Pagelaran ini merupakan hasil diseminasi Penelitian dan Penciptaan seni (P2S) LP2MPP berupa hibah yang didanai oleh DIPA ISI Denpasar tahun 2022,” imbuhnya serius.

Leliana Sari mengatakan, berawal dari pesatnya perkembangan pemakaian tenun endek sebagai seragam kantor sesuai dengan aturan Pergub No. 04 Tahun 2021, ternyata ada satu permasalahan yang timbul, yaitu limbah tekstil atau sering disebut kain perca kain tenun endek yang menumpuk di penjahit. Hal itu sangat dirasakan oleh pencipta (tim pengusul), karena mempunyai usaha di bidang menjahit busana smart casual yang memiliki limbah perca kain tenun endek. “Itulah yang mendorong kami memanfaatkan limbah perca kain tenun endek sebagai busana menarik. Limbah kain perca merupakan anorganik yang sulit diurai oleh lingkungan, sehingga membutuhkan pengolahan untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan,” sebutnya.

Limbah kain perca ini kerap kali menjadi permasalahan, karena banyaknya industri produksi busana yang hanya membiarkan limbah itu menumpuk untuk kemudian dibakar dan menjadi pencemaran lingkungan dari asap dan gas yang tidak baik bagi kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pemanfaatan kembali limbah kain perca tenun endek itu menjadi produk-produk yang memiliki daya jual dan nilai estetika. “Kami mencoba mencarikan solusi dengan menawarkan trend mode ramah lingkungan ini,” jelasnya.

Sebagai seorang desainer, lanjut Leliana Sari ini merupakan tuntutan salah satu aktor dalam membuat produk fashion, sehingga perannya dalam menciptakan fashion yang sustainable sangat bermanfaat dalam ikut menyelamatkan planet bumi. Karena itu, dirinya mengusulkan konsep ini bisa menjadi alternatif dalam menciptakan fashion yang sustainable berupa upcycling dengan aplikasi teknik rekacipta tekstil. “Penciptaan busana ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pekerja yang bergerak di industry fashion, termasuk generasi mileneal tentang produk upcycling dari kain tenun endek berupa desain busana smart casual. Semoga ini menjadi inspirasi untuk pengembangan produk industry lokal budaya Indonesia selanjutnya,” pungkasnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us