Lezatnya Tipat Cantok ala Gek Norma

Lezatnya Tipat Cantok ala Gek Norma

Tanda-tanda pulihnya pariwisata akibat pandemi Covid-19, belum tampak jelas. Hotel, restoran dan usaha pariwisata lainnya, sudah kehilangan nafas. Maka wajar, matinya pariwisata membuat para pekerja pada industri ini harus memutar otak agar bisa bertahan hidup, utamanya menjaga imunitas. “Saya kembali menekuni hobi sebagai pembuat bubur dan tipat cantok. Ini bakat dan kebiasaan tempo dulu, yang suka tidak suka harus dilakukan di masa sulit sebagai dampak pandemi Covid-19 ini. Habis, kalau menunggu pariwisata pulih, harus sampai kapan?” katanya penuh tanya.

Gusti Ayu Nyoman Sari Normadani, demikian namanya. Wanita kelahiran, Delod Peken, 5 November 1971 ini dulunya seorang pekerja pariwisata di Bintang Bali Resort. Ia dulunya bertugas di Departement Accounting bagian F & B Cashier. Pada saat pariwisata baik-baik, ia merasa pekerjaan ini akan dilakukan hingga masa pensiun. Namun, kenyataannya tidak. Wanita kalem ini harus rela meninggalkan zona nyaman untuk bangkit mengangkat budaya leluhur melalui Warung Pojok Sarima. “Saya jualan seperti jaman dulu, menyajikan menu-menu tradisional yang jarang dikenal anak-anak sekarang,” ungkapnya.

Warung Pojok yang beralamat di Banjar Delod Peken, Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali itu memang banyak pelanggannya. Mereka berasal dari berbagai daerah di Tabanan, bahkan ada dari luar Tabanan. Mereka merupakan para pelanggan yang fanatik, sehingga biasa memesan melalui media sosial. “Kami memiliki pelanggan tetap, karena ibu sudah berjualan dari saya belum lahir. Nah, saya yang melanjutkan kembali. Para pelanggan kami biasa memesan melalui FB dan IG Sari Norma dan telephone atau WA 081805476550 saja,” akunya polos. 

Jenis menu yang dijual, seperti bubur, tipat cantok, es campur dan lainnya. jenis menu yang dijual mungkin sama dengan warung lainnya, namun produk Warung Pojok memang memiliki taste yang beda. Sebut saja, menu bubur dengan rasa yang khas. Bubur dibuat dari beras dengan sistem pengolahannya secara tradisional. Beras mula-mula direndam mulai malam hari hingga pagi. Lalu, mengolahnya sampai menjadi bubur. Sementara untuk bumbunya, menggunakan bahan nyuh (kelapa) untuk membuat sambal, gecok, kuah pusuh mesantan ditambah sayur utik-utik, pepaya dan terkadang jepang (labu). Sayur itu ditambah kacang tanah dan kacang mentik, sesuai selera pembeli. Tak hanya itu, dutambah juga tepung goreng telor, sehingga menjadi nasi bubur Bali yang sangat enak.

Kalau untuk tipat cantok semuanya menggunakan bahan dan mengolahnya secara alami. Tipat dibuat dari busung (janur) yang diulat berbentuk tipat, lalu diisi beras. Lalu, memasak memakai panci presto, sehingga lebih cepat proses matangnya. Setelah matang, tipat ditiriskan dan siap dijual. Jika ada yang memesan, tipat dipotong menjad bagian lebih kecil, lalu disi tahu, sayur pepaya, klongkang (cipir) dan utik-utik. “Kami juga melangkapi dengan sambel cabe matang dan kecap manis, sehingga lebih enak. Demikian pula dengan es campur yang dipadukan dengan buah, ager-ager dan lainnya,” ungkapnya.

Dari semua itu, olahan rujak tibah (mengkudu) Sari Norma, sebutan wanita itu juga tak kalah menariknya. Mengkudu dengan 30 kasiatnya itu banyak peminatnya. Mengkudu itu diolah dengan cara membersihkan, lalu diremes. Air yang keluar kemudian direbus sampai mendidih. Selanjutnya rebus gula pasir, siapkan lunak (asem), dicampur cabai, kemudian disaring. Setelah semuanya siap, kemudian campurkan di air panas yang sudah didinginkan. Jangan lupa isi garam sesuai selera.

Wanita yang biasa disapa Gek Norma mengatakan, menjual menu tradisional ini cukup untuk menghidupi keluarga. Namun, jika dibandingkan dengan hasil bekerja di hotel, hasilnya memang jauh lebih rendah. Walau demikian, pekerjaan baru ini juga memberinya kesenangan di masa menjalani tatananan kehidupan era baru ini. Dismping untuk mendapatkan ekonomi, menjual menu tradisional sebagai bentuk melestarikan kuliner Bali. “Kegiatan ini juga untuk menjaga pikiran agar tidak stres yang akan berimbas pada turunnya imun. Jika pariwisata normal, saya kembali bekerja di hotel,” pungkasnya. (BTN/bud)

Anin Eka
AUTHOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us