Lomba Gender Wayang Anak-anak Selalu Menarik

Lomba Gender Wayang Anak-anak Selalu Menarik

Yogi, Yadi dan Genta, tiga anak setingkat SD tengah bergegas menuju Kalangan Ayodya, Taman Budaya Denpasar. Ketiga anak itu berasal dari desa berbeda, namun tinggal di sebuah perumahan di Desa Dalung ingin menyaksikan Wimbakara (Lomba) Gender Wayang Anak-anak serangkaian dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 itu. Yodi yang sesungguhnya memiliki hobi megamel, namun dua temanya ikut-ikut saja sebagai bentuk toleransi. Yogi penabuh gender wayang yang tidak pernah terpilih sebagai duta daerahnya, sehingga ia mengajak temannya untuk untuk menyaksikan penampilan gender wayang perwakilan dari kabupaten dan kota di Bali. “Enggal dik! Cepatan dikit,” katanya.

Lomba gender wayang anak-anak dalam setiap ajang Pesta Kaenian Bali (PKB) memang selalu menarik untuk ditonton. Setiap lomab tersebut digelar, memang sebagai gambaran terhadap perkembangan seni karawitan, khususnya dalam memainkan gender wayang di Pulau Dewata. Sebab yang tampil merupakan penabuh yang terbaik dari kabupaten dan kota di Bali, sehingga menjadi gambaran terhadap keberadaan kesenian gender wayang, baik dalam penggenerasian, kualitas dan teknik yang dimiliki, serta kaya keberagaman gaya (stiil) atau di masing-masing daerah yang tergali.

Anak-anak yang memainkan gender wayang dalam ajang PKB selalu berkembang. Maka tak salah. Lomba gender wayang menjadi tontonan menarik bagi pengunjung, khususnya seniman dan penghobi seni. Anak-anak dan remaja, hingga yang dewasa juga gandrung, termasuk kaum wanita. Sebab, tidak sedikit penabuh cilik wanita yang tak kalah enerjiknya. Termasuk pada lomba gender wayang yang berlangsung di Kalangan Ayodya, Senin 20 Juni 2022 ini pun dimeriahkan penabuh cilik wanita. Penampilan mereka, mampu membuat pengunjung terkesima dalam memainkan gamelan klasik dengan dua panggul itu.

Siang itu, ada tiga duta seni yang memang selalu eksis dengan generasi penabuh gender wayangnya. Ketiga peserta lomba itu dari Duta Kabupaten Badung yang diwakili Sanggar Seni Tapak Dara, Banjar Umalas Kangin, Desa Adat Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara, Duta Kabupaten Gianyar dipercaya Sanggar Suara Murti, Banjar Babakan, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, dan Duta Kabupaten Tabanan dari Sanggar Leklok, Banjar Pasekan Baleran, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan.

Penampilan ketiga duta seni itu tampil takjub. Semuanya menyajikan gaya dan teknik yang memikat. Setiap bilah gamelan gender yang dimainkan mengundang decak kagum penonton. Mereka tak hanya piawai delam memainkan bilah gamelan berlaras slendro itu, tetapi juga lihai bergaya sambil menabuh. Masing-masing peserta menampilkan Tabuh Pamungkah, Sekar Sungsang, dan Angkat-angkatkan. Walau nama gending itu sama, karena sudah menjadi warisan, namun dalam penampilan mereka memiliki kreasi dan gaya yang berbeda-beda.

Sanggar Seni Tapak Dara misalnya, lebih banyak mengangkat gending-gending khas Badung, utamnya dari Kuta. Walau atas nama sanggat, namun dalam penampilannya kali ini, lebih menguataman sebunan di Desa Adat Kerobokan, sehingga memiliki rasa yang sama seperti dalam kesehariannya. Prosesnya memang sedikit lama, namun sebunana menjadi ntujuan utama selain menyelamatkan tabuh-tabuh klasik yang ada. Untuk menampilkan gender wayang, sangat dituntut memiliki rasa yang sama, sehingga memiliki kekuatan yang merata, gaya dan ekspresi berimbang serta memiliki teknik bermaian yang seimbang. “Kami sudah berproses beberapa bulan sebelum pentas,” kata Koordinator I Putu Gede Kusuma Jaya.

Panabuh yang terpilih adalah yang terbaik dari yang baik. Walau sebelumnya belum ada yang memiliki lomba, tetapi mereka memiliki pengalaman ngayah dan rutin melakukan latihan hal ini akan menambah pengalaman baru baginya. Materi gending yang disajikan itu sama, tetapi dalam memainkannya berbeda, Badung juga memiliki stail tersendiri, sehingga penting diperkenalkan kepada masyarakat. Karena ini sebagai ajang bergengsi, Gede Kusuma Jaya juga melibatkan pembina yang dalam bidangnya, seperti I Made Martha dan Ida bagus Putu Tilem untuk memberikan warna karakter.

Duta Kabupaten Gianyar yang mempercayakan kepada Sanggar Suara Murti, Banjar Babakan, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati tampil penuh kreativitas. Selain menyajikan gending-gending gaya Sukawati, para pemain dituntut tampil dengan penuh ekspresi. Maka, keempat penabuh terdiri dari dua laki-laki dan dua wanita yang memiliki teknik bermain sangat seimbang. Pembina yang juga ketua sanggar Ketut Buda Astra, S.Sn, justru mengakui penabuh wanita justru memiliki kelebihan dalam memainkan gender wayang, karena gending wayang identik dengan kelembutan.

Bukan bermain mengandalkan power, karena kalau memukul terlalu keras, suaranya akan beda, tetapi mencari maksimal suara. Sekarang ini banyak yang pintar memainkan gender, tetapi belum tahu tehnik mencari suara, memukul ataupun menutup secara detail. Untuk menyatukan karakter mereka, mesti lebih sering diberikan kumpul berswama, walaupun melakukan aktivitas yang lain, sehingga memiliki rasa yang sama menyatu. “Sebelum mereka latihan, kami membrikan mereka bermain Hp atau game, sehingga keempatnya biswa saling bercanda, saling mengenal, saling mengisi untuk menjadi satu,” paparnya.

Duta Kabupaten Tabanan juga tak mau kalah, duta seni ini mengangkat gending-gending klasik gaya Tunjuk. Untuk mendapatkan stail yang asli, Pemilik Sanggar Leklok I Wayan Sujana meminta I Putu Purwwangsa Nagara, keturunan Dalang Tunjuk untuk membinanya, dengan harapan bisa menampilkan yang benar-benar khas. Maka itu, duta Kabupaten Tabanan juga tak mau kalah dengan penampilannya. Ketiga sekaa gender tersebut, tak menjadi duta daerahnya, tetapi juga sebagai penyelamat stai gending wayang didaerahnya.

Tak hanya puas sampai disitu, Yogi kembali menyajikan lomba gender wayang pada jadwal berikutnya saking penasaran. Kali ini, ia diantar orang tuanya menyaksikan lomba gender wayang dari Sekaa Gender Kumara Cita, Banjar Dinas Saren Anyar, Desa Budakeling, Duta Karangasem dan Sanggar Tabuh Kembang Waru, Banjar Abian Kapas Kaja, Kota Denpasar, Rabu (22/6). Tempat lombanya masih sama yakni di Kalangan Ayodya. Kedua duta ini juga lihai dalam memainkan bilah gender, sambil beraksi dengan gaya yang sangat pas sangat manis dengan teknik yang memikat.

Sama seperti lomba sebelumnya, para seniman cilik yang tampil memiliki teknik yang rata-rata tinggi karena memainkan gamelan gender itu paling sulit dibandingkan jenis gamelan lainnya. karena harus menggunakan dua tangan sekaligus dan harus dibarengi teknik menutup. Teknik pukulan dan menutup ini sangat susah dan harus seimbang, belum lagi seni memberikan volume pukulan supaya suara gamelan yang muncul lebih bagus.

Disamping memiliki teknik tinggi, duta Denpasar juga memberikan nuansa beda pada penampilannya, yakni dekorasi wayang sebagai bentuk kreativitas. Hal itu untuk sebagai upaya membangkitkan jiwa para penabuh dalam memainkan gending wayang, disamping menciptakan rasa indah. Materi yang dibawakan sangat pas, sebagai upaya membangkitkan gending-gending wayang klasik di masing-masing daerah. “Kami mengawali seleksi, lalu laihan. Kalau belajar megamel gender, kami gunakan teknik metode kelahiran, mulai dari merangkak, berdiri, lalu berjalan,” ucap Koordinator dan Ketua Sanggar, Ketut Radhita.

Sekaa Gender Kumara Cita, Desa Budakeling juga tampil menawan. Gending-gending yang disajikan tergolong klasik, mulai dari gending Sekar Sungsang, Pamungkah hingga gending Angkat-angkatan. Keempat penabuh cilik ini mampu mengekpresikan gending wayang melalui permainan nada dari gamelan klasik itu. Busana yang dipakai tertata rapi, tetapi sayang mereka tidak menyajikan gaya dari pada penabuhnya. “Versi Karangasem itu lebih focus pada suara dari permainan gender yang slow, sehingga bisa dinikmati. Kami memang jarang megender sambil menari, dan itu memang tidak diajarakan,” ungkap Ketua Sanggar I Nyoman Sutawa.

Koordinator Dewan Juri, Dr. I Gusti Putu Sudarta menyaksikan perkembangan teknik seniman cilik dalam memainkan gamelan gender wayang. Masing-masing peserta menyajikan karakter gending wayang dari daerahnya sendiri dengan penuh ekspresi. Tekniknya juga rata-rata tinggi. Dari segi gegedig, seluruh peserta memiliki teknik bermain yang canggih, sehingga dapat menghasilkan gending yang sangat manis. “Sayangnya, dari 9 kabupaten dan kota di Bali, hanya 5 duta yang mengirimkankan perwakilannya pada PKB ke-44 tahun ini,” ucapnya.

Walaupun gending yang dimainkan sama karena sudah menjadi warisan, namun dalam penampilannya memiliki kreasi dan gaya yang sangat khas. Para seniman cilik yang tampil memiliki teknik yang rata-rata tinggi karena memainkan gamelan gender itu paling sulit dibandingkan jenis gamelan lainnya. “Kami sangat bangga dengan kemampuan anak-anak memainkan gender wayang ini sudah bagus karena gender merupakan gamelan Bali yang paling sulit,” ungkapnya.

Kemampuan dan kecanggihan anak-anak memainkan gender wayang, diakui dua juri lainnya, yaitu I Made Kartawan SSn, MSi, PhD dan Dewa Gede Darmayasa. Mereka mengakui peningkatan kemampuan anak-anak memainkan gender wayang luar biasa dalam setiap tahun. Kualitas teknik anak-anak berkembang masip, bahkan jauh dari juru gender pada jaman dulu. Kreativitasnya juga tinggi, termasuk kreativitas para pembinanya sangat meningkat. Termasuk masipnya kemunculan penabuh gender wanita anak-anak. “Dulu ada stigma wanita itu lebih lemah, tetapi kenyataannya disini ada yang sama bahkan ada yang lebih unggul,” sebut mereka kompak.

Diakhir pertunjukan, Yogi tak mau diajak orang tuanya menyaksikan pameran karena ingin segera sampai di rumah. Ia penasaran ingin bertemu dengan teman-temannya, terutama Yadi dan Genta. Ia mau mengungkapan rasa lega, setelah menyaksikan anak-anak memainkan gamelan yang menjadi kesenangannya. Untuk menjadi yang terbaik, mesti selalu berjuang dengan disiplin latihan, tekun mempelajari tekni dan mengolah rasa. “Oh, harus rajin latihan,” guman Yogi tenang. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us