“Makidung” itu Sebenarnya juga Yoga. Begini Penjelasannya

“Makidung” itu Sebenarnya juga Yoga. Begini Penjelasannya

Ada yang menarik ketika masyarakat Desa Adat Kebon menggelar upacara “Karya Agung Penyegjeg Jagat, Ngenteg Lingih, Mapeselang, Mupuk Pedagingan, Rsi Gana, Tawur Agung, Pedanan, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini” beberapa waktu lalu. Ibu-ibu dari Banjar Mukti menampilkan kidung-kidung, tembang tradisional yang bertuah. Walau baru belajar, namun wanita yang didominasi ibu rumah tanggai itu tampil mempesona. Suaranya lugas, ekspresi ada hingga penataan busana tang rapi menjadikan penampilannya sungguh memikat. “Sekaa Kidung ini memang baru dibetuk, tetapi mereka mampu tampil dengan baik,” kata Dr. I Komang Sudirga, SSn., M.Hum, salah satu mentor sekaligus penggagas kebangkitkan kaderisasi kidung di Banjar Mukti.

Dosen jurusan karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu sangat serius membangkitkan seni di banjar tersebut. Kegiatan ini dikaitkan dengan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sebagai bagian dari Tri Darma Pendidikan Tinggi ISI Denpasar. Peserta Kidung sebelumnya kebanyakan berusia lanjut, dan beberapa tokoh telah meninggal, sehingga mengumpulkan ibu-ibu muda untuk tergabung dalam Sekaa Kidung Banjar Mukti. Semangat tinggi, dan modal suara yang dimiliki juga sangat mendukung, sehingga kegiatan itu berjalan sesuai jadwal. “Kami mulai April 2021, mempersiapkan ibu-ibu itu untuk belajar kidung-kidung ritual keagamaan,” ucapnya.

Proses pelatihan tidak berjalan mulus. Persoalan yang ada, ibu-ibu itu merasa belajar matembang terutama jenis Kidung sangat sulit. Disamping materinya panjang, iramanya juga berliku-liku dan sulit, sehingga untuk mempelajari perlu ada hafalan. “Dari permasalahan itu, kami mencoba mencarikan solusi untuk dapat memotivasi proses pelatihan dengan menerapkan metode pembelajaran inovatif. Kami melakukan pendekatan keberbagai pihak terutama para pengambil kebijakan di tingkat Desa dan Banjar, baik Dinas dan Adat serta Ketua Penggerak PKK. Kami bersyukur, upaya kaderisasi Sekaa Kidung dengan melibatkan ibu-Ibu dari generasi muda ini gayung bersambut,” jelasnya.

Usaha dan upaya yang dilakukan itu mampu membuahkan hasil. Pelatihan Darmagita di Banjar Mukti Singapadu mampu menjadi momentum kebangkitan Kidung oleh generasi penerus terutama kaum ibu-ibu muda. Pembelajaran ini dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran inovatif berbasis Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM), dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi (media sosial) seperti: Instagram, WhatsApp Grup, dan perangkat ponsel.

Termasuk menerapan konsep metode tradisi meguru kuping, nuutin, dan analisis wiraga, wirama, wirasa, dan wiguna yang hybrid dengan metode pembelajaran modern berpayung Struktur Analisis Sintesis (SAS) menjadi metode pembelajaran yang efektif. Bahkan, telah menunjukkan keberhasilan signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. “Antusiasme peserta betul-betul terjaga dan tidak pernah merasa jenuh dalam latihan. Alokasi waktu yang ditargetkan selama dua jam setiap pelatihan dirasakan terlalu pendek,” ungkapnya.

Hal ini terjadi karena atmosfir belajar menyenangkan dan spirit motivasi antar peserta juga cukup tinggi. Secara kuantitatif materi yang berhasil dikuasai meliputi Kidung Bremara Ngisepsari, (pengaksama) Bremara Sangupati, Kawitan Wargasari, Pengawak Wargasari, Kidung Jerum, Aji Kembang, dan Kidung Turun Tirta. Dalam waktu yang singkat, para peserta mampu menguasai tujuh varian kidung. Hal ini sungguh menggembirakan sekaligus membanggakan.

Teknik olah vokal, aspek musikalitas, maupun estetika penyajian para ibu-ibu ini mununjukkan keberhasilan signifikan. Bahkan, secara kesehatan jasmani para peserta merasakan manfaatnya, bahwa belajar kidung mampu meningkatkan aspek kesehatan jasmani dan rohani. Mereka belajar yoga melalui nada-nada, mengatur penafasan (pranayama), serta “melajah sambilang megending” (menghibur).

Secara spiritual, belajar Kidung dapat menanamkan dan mengakumulasikan investasi simbolik berupa pahala mulia melalui tradisi ngayah (bakti marga). Penguasaan materi tersebut mampu difungsikan secara kontekstual kaitan teks dengan konteks dalam rangkaian pelaksanaan Karya Agung Ngusaba Desa Ngusaba Nini di Desa Adat Kebon Singapadu. “Kidung sebagai bagian dari pancagita memiliki makna teologis filosofis untuk meningkatkan kualitas yadnya, menginvestasikan modal simbolik, mengakumulasikan pahala mulia dan menebarkan vibrasi kesucian lingkungan agar memperoleh kesucian yang harmonis,” ujar Wakil Rektor III ISI Denpasar ini.

Untuk menyempurnakan hasil kegiatan PKM ini, pihaknya juga telah meakukan Forum Group Diskusi (FGD) yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, seperti Bendesa Adat Kebon, Perbekel Singapadu, Klian Dinas dan Adat, Anggota DPRD Gianyar Daerah Pemilihn (Dapil) Sukawati, Pakar Kidung seperti Nyoman Tjandri, Ketut Kodi, Putu Eka Guna Yasa dari FIB Unud, Gusti Sudarta, Ketut Sudhana, dan Anggota Seka Santi Segara Widya. Kehadiran para paker ini sekaligus memberikan evaluasi terhadap hasil kegiatan Pelatihan Dharmagita di Banjar Mukti. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us