Menapaki Jejak Bencana di Bali Timur

Menapaki Jejak Bencana di Bali Timur

Kabupaten Karangasem menjadi tujuan lokasi Jelajah Jurnalistik 2021 dari Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana (Unud). Penjelajahan ini mengangkat seputar isu kebencanaan telah mengudara, sehingga menghasilkan 18 berita, 4 infografis, 2 video, 3 edisi mini newspaper, dan 1 buku menjadi luaran selama dua minggu menjelajahi desa. “Dari sana terbesit ide untuk membuat konvergensi media. Kami ekspektasikan bisa menghimpun seluruh SDM di Pers Akademika dalam artian menghasilkan satu karya terpadu,” ungkap Pimpinan Umum Pers Mahasiswa Akademika Unud, I Wayan Bagus Perana dalam konfrensi pers melalui zoom, Minggu (11/7).

Pemikiran akan adanya konvergensi media kemudian melahirkan sebuah kegiatan
ekspedisi bertajuk Jelajah Jurnalistik 2021, yaitu berupa perjalanan ke suatu wilayah untuk menggali potensi hingga problematika yang kemudian dapat diolah menjadi berbagai karya-karya jurnalistik. “Kami mulai awal Maret sampai awal April 2021. Ini program baru yang dilakukan Pers Akademika. Setelah rembuk, menghasilkan tiga fokus kegiatan, yaitu konvergensi media, pengabdian masyarakat, dan penguatan internal,” terang Ketua Panitia, Gede Iyan Merta Rustanaya.

Kegiatan konvergensi media sebagai upaya mengintegrasikan media-media guna mewujudkan arah tujuan pada topik tertentu. Sebenarnya konvergensi bisa mentabulasi berbagai isu, namun dikonkritkan menjadi satu isu besar yakni kebencanaan. Isu kebencanaan ini paling relevan, lantaran belakangan ini Indonesia, khususnya Bali, hidup bertaut daerah rawan bencana. “Isu kebencanaan paling relevan jika kita tarik benang merahnya ke belakang, seperti adanya pandemi hingga erupsi gunung berapi. Bali lekat dengan hal tersebut, terutama Bali bagian timur,” paparnya.

Kabupaten Karangasem menjadi daerah yang disepakati untuk dijelajahi. Karangasem menjadi salah satu wilayah yang memiliki risiko kebencanaan yang tinggi di Bali. Berbagai cara merespons baik berdasarkan sains maupun spiritual menjadi hal yang menarik untuk diulik. Menengok pada sisi lain, meski diterpa bencana letusan Gunung Agung pada 1963, erupsi pada 2017-2018, hingga adanya pandemi Covid-19, Karangasem juga memiliki banyak potensi daerah. “Kami menilik bagaimana kondisi pra, saat, dan pasca bencana di Karangasem untuk kemudian dijadikan evaluasi bagi Bali dalam manajemen risiko kebencanaan,” terangnya.

Rangkaian Jelajah Jurnalistik dimulai dengan melakukan jelajah 10 desa yang ada
di Kabupaten Karangasem. Kesepuluh desa tersebut adalah Desa Rendang, Desa Sebudi, Desa Tri Eka Buana, Desa Sibetan, Desa Bhuana Giri, Desa Amertha Bhuana, Desa Besakih, Desa Tulamben, Desa Ban, dan Desa Dukuh. Peliputan pun dimulai sejak tanggal 14 Juni 2021 hingga 29 Juni 2021 dengan jumlah peliputan sebanyak 6 kali.

Proses pencarian bahan tidak hanya dilakukan secara luring dengan langsung mampir ke desa, melainkan turut pula dilakukan secara daring dengan mengontak narasumber-narasumber terkait. Luaran dari rangkaian peliputan dapat disimak sebagai berikut:

Kegiatan kemudian berlanjut dengan puncak acara Jelajah Jurnalistik berupa penguatan
internal dan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 2, 3, 4 Juli 2021 di Bali Kuno Camp, Desa Tangkup, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. “Puncak acara full kegiatan penguatan internal seperti games, outbond, dan perayaan malam puncak sebagai peringatan Hari Ulang Tahun Pers Akademika,” ujar Iyan.

Salah satu tim konvergensi media, Ni Komang Yuko Utami membagikan ceritanya kala turut menjelajahi Desa Sebudi. Baginya, desa tersebut adalah desa terjauh yang dicapainya selama ke Karangasem. Lebih-lebih, ada papan informasi ‘anda memasuki kawasan rawan bencana Gunung Agung’ melekat dalam ingatannya. “Karena aku tidak pernah mendaki, sebab dulu punya riwayat vertigo, jadi tidak nyangka lagi sedikit sudah bisa masuk jalur pendakian,” ujarnya seraya diselingi tertawa.

Bagian yang menjadi tantangan besar baginya ialah beberapa desa yang sulit ditemukan,
termasuk data-data dan kontak yang dapat dihubungi, saking terpencilnya. “Narasumber yang tidak kunjung membalas chat, bahan-bahan yang didapatkan di lapangan tidak maksimal, sehingga di sini daya kreativitas kita dan penggalian sumber secara riset kepustakaan amatlah diuji,” ungkap Yuko. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us