Mencari Jejak Manusia Purba di Gilimanuk

Mencari Jejak Manusia Purba di Gilimanuk

Rindu berwisata ke Museum Manusia Purba Gilimanuk? Datang saja, karena museum ini selalu dibuka untuk wisatawan. Hanya saja, di masa pandemi ini, ada syarat berkunjung yang harus dipatuhi, yaitu para pengunjung wajib menerapkan protokol kesehatan (prokes), memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Karena itu, museum ini telah menyiapkan fasilitas prokes untuk memberi rasa aman dan nyaman dalam berwisata. Apalagi, museum yang memajang benda-benda tinggalan masa prasejarah itu telah menerapkan tatanan kehidupan era baru, sehingga menerapkan prokes wajib dilaksanakan bagi pengunjung.

Museum Manusia Purba terletak di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, merupakan satu-satunya museum yang ada di Bali yang merupakan situs permukiman sekaligus kubur (Nekropolis) dari masa prasejarah. Berwisata ke Museum Manusia Purba, akan lebih baik pada akhir pecan, sehingga merupakan waktu yang tepat untuk menikmati bersama keluarga. Menjajal tempat baru sekaligus belajar mengenal jaman prasejarah juga dapat menjadi pilihan. Nah, jika sedang berada di wilayah Gilimanuk dan sekitarnya, cobalah berkunjung ke Museum Manusia Purba Gilimanuk. Khusus, wisatawan domestik yang datang dari Pulau Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk bisa mampir ke sana.

Museum ini memajang benda-benda hasil peninggalan yang bersifat arkeologis yang merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Dari peninggalan tersebut, maka dapat mengetahui sejarah kehidupan manusia dan membandingkannya dengan kehidupan masa sekarang. Peninggalan arkeologis ini sebagai hasil dari pelaksanaan Ekskavasi yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Denpasar. Disamping itu, ada beberapa dari temuan tersebut  merupakan hasil penemuan yang tidak sengaja oleh masyarakat sekitar situs Gilimanuk. “Penemuan yang tidak sengaja ini di daerah pemukiman penduduk serta di daerah pesisir pantai Teluk Gilimanuk, karena di pesisir ini masih banyak terdapat tinggalan-tinggalan Arkeologis,” kata Plt. Kapala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Ir. AA Ngurah Mahadikara Sadhaka, M.Si.

Museum yang dibangun di atas kawasan situs Gilimanuk ini, selain sebagai satu-satunya museum manusia purba di Bali. Museum ini memiliki peran penting dan strategis sebagai salah satu media untuk tempat menimba ilmu, membentuk karakter bangsa dan dapat dikembangkan menjadi tempat pertunjukan. Letak geografis Museum Manusia Purba Gilimanuk sangat strategis, karena terletak di pintu masuk Bali bagian barat. Hal ini, tentu menjadi modal yang sangat penting untuk menarik kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan domestic maupun mancanegara. Menikmati benda-benda kuno yang ada, akan memberikan pembelajaran utamanya terkait sejarah.

Ngurah Mahadikara Sadhaka memaparkan, benda-benda koleksi Museum Manusia Purba Gilimanuk, terdiri dari 8 (delapan), yaitu pertama, Kerangka Manusia Purba, yaitu Manusia Purba Gilimanuk bersifat Homo Sapiens berasal dari Ras Mongoloid. Posisi penguburan saat itu seperti bayi dalam kandungan. Karena hal ini berkaitan karena sistem kepercayaan bahwa orang yang telah meninggal akan kembali keasalnya yaitu kandungan ibu, untuk suatu saat akan terlahir kembali (reinkarnasi).

Kedua ada Sarkovagus (Kubur Batu), adalah wadah kubur batu padas yang digunakan oleh masyarakat purba Gilimanuk. Khusus bagi orang-orang yang dianggap berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Namun kubur orang biasa di kubur tanpa menggunakan kubur batu, dengan posisi sikap yang sama. Hal ini menunjukkan Stratifikasi Sosial. Ketiga, ada Manik-manik Perhiasan dengan warna dan bahannya beragam mulai dari Kaca, batu, dan petunggu Manik-manik ini diperkirakan dulunya berasal dari kalung, anting-anting dan gelang pada masa lalu uang disertakan dalam proses penguburan. Nantinya setiap proses penguburan bekal kubur disertakan, di dalam gerabah di sertakan manik-manik,kerang(sisa makanan).

Keempat Peralatan Gerabah yang berupa pedupaan, periuk, anglo (keren) lekeh dan cubek. Ini digunakan sebagai tempat makanan ataupun sebagai sarana dalam melakukan ritual yang berkaitan dengan sistem kepercayaan. Kelima, Anglo dan Tatakan Periuk yaitu Anglo (keren) terbuat dari tanah liat yang digunakan sebagai tungku perapian. Bentuk badannya melingkar, bagian bawah lebih besar dari bagian atas, pada badan anglo ini terdapat hiasan, dan pada bibir atas terdapat beberapa bagian yang menonjol. Anglo ini digunakan sebagai tempat memasak, tonjolan yang terdapat pada bagian bibir atas sebagai tumpuan periuk. Tatakan periuk merupakan alat yang terbuat dari tanah liat yg di bakar (teracota) bentuk badannya melingkar dan di hias dengan ornamen, lingkar bagian bawah lebih sempit dari pada bagian atas, alat ini digunakan untuk meletakkan periuk agar tidak terguling apabila dipergunakan sebagai wadah suatu makanan.

Kelima, Alat dari Batu dan Alat Tulang berupa Kapak persegi banyak ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara. Kapak ini terbuat dari bahan dasar batu dengan cara dihaluskan dan diasah, diperkirakan masuk kewilayah Indonesia melalui jalur baratdari Yunan ke Semenanjung Malaka kemudian masuk ke Pulau Jawa lewat Sumatra, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara. Para arkeolog memperkirakan benda ini dibuat sebagai lambang kebesaran, alat upacara, alat tukar, dan jimat. Kapak persegi merupakan istilah pertama yang diberikan Dr. Van Heine Geldern. Disebut kapak persegi karena alat ini mempunyai penampang alang yang berupa persegi panjang.

Keenam, Contoh Tanah dan Hiasan Gerabah dari penggalian situs Gilimanuk dapat diketahui adanya beberapa lapisan tanah seperti, humus warna hitam, tanah campur pasir halus berwarna kelabu kuning, tanah dan pasir warna coklat, pasir halus warna kelabu, sisa biota laut dan pasir halus berwarna putih. Pecahan gerabah Gilimanuk ada yang berhias geometris dan terajala. Ketujuh, Alat-alat dari Logam berupa besi dan perunggu di duga berfungsi sebagai alat untuk bekerja sehari-hari, dan sebagai sarana upacara yang erat kaitannya dengan sistem kepercayaan masyarakat pada jaman perundagian.

Sedangkan kedelapan Wadah dari Tanah Liat, sebuah Tekhnik pembuatan benda-benda dari tanah liat yang terdapat di Gilimanuk diperkirakan mempergunakan teknik tatap landas dan roda putar lambat mendapat pengaruh dari Asia Tenggara sejenis dengan gerabah Sa-Huinh Kalanay. Dan beragam jenis periuk yang ditemukan di Situs Gilimanuk menunjukkan tingginya tingkat peradaban mereka. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us