Mengapa Pantai Kedonganan Penuh Sampah? Begini Penjelasannya

Mengapa Pantai Kedonganan Penuh Sampah? Begini Penjelasannya

Setiap tahun pada bulan Nopember – Maret, disaat musim barat, Pantai Kedongnan selalu berubah menjadi lautan sampah. Pantai berpasir putih itu berubah menjadi kotor, karena dipenuhi sampah plastik dan kayu-kayu glondongan. Tak hanya dipenuhi sampah, laut juga bergelombang besar, sehingga rawan untuk melaut. Sampah-sampah itu menggunung yang tidak mampu dibersihkan secara manual yang hanya mengandalkan tenaga manusia. Begitu sampah diambil, sebentar lagi datang lagi dari laut dalam jumlah yang sama. Kenapa fenomena sampah itu terus terjadi?

Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha menjelaskan, Pantai Kedonganan merupakan salah satu lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) siklus alam dari gerakan sampah yang sumbernya bisa darimana saja. Dari dulu, sampah ini sudah datang ke Pantai Kedonganan setiap tahun, umumnya pada bulan Nopember – Maret. Hanya saja, dulu sampah kiriman itu organik, sehingga membuat warga Kedonganan mendapat berkah dari sampah ini. “Sampah kiriman itu menjadi salah satu sumber makanan kami karena juga ada yuyu gampil di dalam pongpongan. Tetapi, itu sudah berlalu dan punah. Kini, tidak ada lagi karena pencemaran lingkungan terjadi dimana-mana. Sampah yang ada saat ini, lebih banyak sampah plastik, karena revolusi pemanfaatan plastik di seluruh dunia luar biasa, namun perilaku membuang sampah kita tidak berubah,” jelasnya.

Kedua, apakah sampah di Kedonganan, Kuta, Legian dan pantai barat lainnya di Bali berasal dari masyarakat Bali, Jawa, Lombok, atau daerah lain? Hal itu bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Karena laut itu merupakan ekosistem yang tidak bisa dipisahkan dari ekosistem daratan. Sebagian besar aktivitas alam dan manusia di darat akan bermuara di laut. Jadi orang dari seluruh dunia yang ada lautnya, jika mereka buang sampah sembarangan (atau sengaja), suatu saat sampah itu bisa sampai ke Pantai Kedonganan melalui putaran arus di laut.

Ini merupakan siklus tahunan yang berulang. “Jadi kalau kita mencari sumber sampahnya darimana, ini menurut pendapat saya rada-rada sulit. Karena ekosistem ini terhubung. Kita belum tahu siapa di dunia ini yang sembarangan buang sampah. Dia bisa orang Amerika, orang Malaysia, Philipine, Vietnam, atau orang Jawa, Bali, Lombok, Papua, dan sebagainya. Sampah daratan yang bermuara di laut itu, akan berputar di alam sesuai putaran arus laut, dan pada Nopember-Maret akan singgah di pantai barat kita di Bali,” imbuhnya.

Penjelasan ketiga, pada bulan Maret-April siklus ini berubah. Laut barat akan mengamuk, ombak besar dan menggerus serta mengambil sampah yang disinggahkan di pantai. Selama 10-14 hari proses pembersihan ini berlangsung. Semua sampah seolah-olah dikeruk dari bibir pantai dan ditarik serta dihanyutkan ke laut, dan diputar entah kemana, dan disinggahkan di pantai mana di dunia kita belum tahu (perlu penelitian ahli oceanografi) . “Yang jelas di bulan kedase (setelah Nyepi, tahun baru çaka) penanggalan Bali, pantai kita akan kedas alias bersih,” yakinnya.

Keempat, kegiatan bersih-bersih dan gotong royong yang kita lakukan selama ini di pantai, sifatnya hanya membantu meringankan tugas alam saja. Coba perhatikan, berapapun kekuatan yang diturunkan untuk membersihkan sampah saat siklus itu datang, maka sampah itu akan datang lagi dalam jumlah yang hampir sama. Tetapi alam pasti berterima kasih, karena sudah membantu meringankan bebannya. “Kalau mau benar-benar membantu alam, maka “Hentikan Buang Sampah Sembarangan dan Stop Pemakaian Plastik”. Alam menangis sedih karena kita membuanginya sampah plastik, sampai alam tersengal-sengal sesak nafas karena plastik yang aujubilah luar biasa banyaknya itu,” ajaknya.

Merta malanjutkan, untuk penjelasan yang kelima, dirinya sering merenung dan berfikir, tentang fenomena alam ini. Barangkali manusia harus rela menghentikan kegiatan dan memberikan waktu serta kesempatan kepada alam untuk bernafas dan beristirahat, tidak penuh setahun kita eksploitasi. “Kapan waktunya, ya itu saat dia menitipkan sampah di pantai kita. Ini adalah bagian dari pengorbanan kita atas penghormatan kita kepada alam. Inilah yang dilakukan oleh nelayan-nelayan kami dahulu di Kedonganan. Mereka hentikan semua kegiatan menangkap ikan, mereka hanya perbaiki peralatan mereka, seperti: jaring, jukung, dan sebagainya. Malahan mereka sampai menggadaikan peralatannya saat musim barat itu. Mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga saja, karena mereka tidak melaut mencari ikan,” kenang pria ini. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us