Mengenang Jejak Kaki Miguel Covarrubias di Bali

by -8 views

Dalam dunia seni pasti tahu Miguel Covarrubias. Pria yang dilahirkan di Mexico City pada, 22 November 1904 itu adalah buku berjudul The Island of Bali. Buku menceritakan perjalanannya ke Bali, sehingga buku ini lebih mirip sebagai sebuah laporan penelitian, sehingga diberi predikat sebagai antropolog. Sejak itu, tidak bisa dipungkiri karena buku The Island of Bali ini lah yang membuat Bali sangat terkenal di luar negeri, bahkan sampai orang-orang dulu lebih mengenal Bali dari pada Indonesia itu sendiri.

Hal itu terungkap di International Online Seminar to Celebrate the 90th Anniversarry of the first Visit of Miguel Covarrubias to Bali. Webinar ini diselenggarakan dalam mengingat 90th kedatangan Miguel Covarrubias ke Bali. Acara ini digelar Kedutaan Besar Mexico untuk Indonesia di Jakarta bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) di Denpasar, beberapa hari lalu.
Webinar ini menghadirkan pembicara, seperti Adrian Vickers University of Sydney (Miguel Covarrubias and Indonesian Art History), Dr Rita Eder Institute of Asethetic Research UNAM sebagai komentator, Nancy Lutkehaus Ph.D Proffesor of Athropology USC (Miguel Covarrubias Balinese Drawing) Prof Dr I Wayan Dibia (Miguel Covarrubias Great contribution to Bali – Indonesia), Dr Judith E Bosnak (Mexican Covarrubias Meets the Balinesse Barong) dan Philippe Augier Pendiri Museum Pasifika (Miguel Covarrubias Transoceanic Artist).

Philippe Augier Pendiri Museum Pasifika mengatakan, Covarrubias adalah seniman Mexico dengan buku The Island of Bali membantu mempromosikan kebudayaan Bali kepada dunia. Tulisannya memang luar biasa indahnya. Kutipan narasi yang dibuatnya, dijadikan narasi untuk sebuah film dokumenter yang berjudul Pulau Bali. “Satu-satunya tujuan membuat buku ini adalah untuk mengumpulkan dalam satu volume semua pengalaman pribadi seorang seniman, dan bukan seorang ilmuwan, mengenai satu budaya yang sekarang masih hidup, tetapi dikutuk untuk menghilang di bawah serangan komersialisasi dan standardisasi modern,” sebutnya.

Covarrubias mengenal Bali setelah memilih pulau munggil ini sebagai tempat berbulan madu bersama istrinya Rosa Rolanda. Miguel yang sangat tertarik pada ilmu antropologi lalu mencari beasiswa untuk dapat kembali ke Bali, kali ini dengan tujuan mempelajari budaya Bali. Hasil studinya di Bali dipublikasikan bersama 114 fotografi, 5 lukisan dan 90 gambar, serta foto-foto yang dibuat Rosa. Pada tahun 1937 buku itu (The Island of Bali) dipublikasikan dan mendapat sambutan yang luar biasa.

Philippe Augier sangat senang museum ini ada keterkaitan antara dua destinasi, Tahiti dan Bali. Museum Pasifika didirikan sebagai yang pertama dari jenisnya di belahan dunia ini yang mempertemukan karya seni dari kawasan Pasifik dengan karya seni Asia Tenggara, kepulauan Indonesia dengan pulau Bali berada di persimpangan kedua dunia tersebut. Terletak di Kompleks Nusa Dua di selatan Bali, Museum Pasifika dibangun di atas lahan seluas 12.000 meter persegi. Ini mencakup delapan paviliun dan 11 ruang pameran. Menampilkan 600 karya seni dari 200 seniman dari 25 negara yang tinggal di Asia Pasifik dan terinspirasi olehnya. Museum Pasifika menyimpan koleksi lukisan dan patung yang mengesankan dari seluruh Asia Pasifik. “Ini adalah pusat budaya dengan peran pendidikan dan sosial, daya tarik wisata berstandar internasional,” ucapnya. (BTN/bud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *