“Menget” dari Sekeha Topeng Prembon Natar Ayun

“Menget”  dari Sekeha Topeng Prembon Natar Ayun

Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menuntaskan pelaksanaan pembinaan Duta Kesenian Kota Denpasar di ajang PKB XLIII di Wantilan Banjar Saba Penatih, Jumat (18/6). Sekeha Natar Ayun, Banjar Saba, Kelurahan Penatih menjadi duta kesenian terakhir mengikuti pembinaan dalam rangka Rekasedana (Pergelaran) Topeng Prembon. Pembinaan dihadiri Ketua TP. PKK, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Istri Wakil Walikota Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Kadisbud IGN Bagus Mataram, Kabag Humas dan Protokol I Dewa Gede Rai, Prajuru Desa Adat Penatih Puri, Prajuru Banjar Saba serta Tim Pembina Disbud Kota Denpasar.

Kadisbud, IGN Bagus Mataram mengatakan, secara umum persiapan Sekaa Kesenian Duta Kota Denpasar yang akan tampil di ajang PKB XLIII Tahun 2021 khususnya pada Sekeha Topeng Prembon yang dilaksanakan pembinaan telah siap untuk tampil. Namun, dalam upaya penyempurnaan penampilan seni perlu diperhatikan poin-poin penting atau uger-uger dalam sebuah pementasan seni tabuh yang terbentuk dalam sebuah pakem tertentu. “Secara umum Duta Kota Denpasar, khususnya Sekehe Topeng Prembon telah siap untuk tampil, namun perlu dilaksanakan penyempurnaan dan penjiwaan saat penampilan,” jelasnya

Kordinator Sekeha, I Nyoman Purna menjelaskan, pada intinya Sekeha Natar Ayun, Banjar Saba siap tampil di PKB XLIII tahun 2021. Hal ini lantaran persiapan dan penajaman materi terus dimaksimalkan sejak tiga bulan terakhir. “Untuk materi saya kira sudah siap, dan sekarang tinggal proses penajaman sehingga saat tampil dapat lebih maksimal,” jelasnya

Purna mengatakan, dalam sajian pementasan Topeng Prembon tahun ini pihaknya mengangkat judul ‘Menget’ yang mengandung makna Eling. Cerita ini bermula dari datangnya Ki Dukuh Sakti Paang, sebagai mertua dari Kiai Agung Anglurah Pinatih ke Puri Kertalangu menghadap kepada menantunya Kiai Agung Anglurah Pinatih dengan tujuan mohon pamit berpulang ke alam sunia dengan jalan moksa.

Mendengar ucapan Ki Dukuh Sakti Paang, Kiai Agung Anglurah Pinatih menjadi murka karena mertuanya dianggap sombong, disanalah terjadi perdebatan antara Kiai Agung Anglurah Pinatih dengan Ki Dukuh Sakti Paang karena Kiai Agung Anglurah Pinatih tetap tidak percaya bahwa Ki Dukuh Sakti Paang mampu moksa.

Dari sana, murkalah Ki Dukuh Sakti Paang dengan mengeluarkan sesoben bahwa Kiai Agung Anglurah Pinatih akan direbut segerombolan semut. Disanalah Kiai Agung Anglurah Pinatih memanggil rakyatnya menyaksikan kepulangan Ki Dukuh Sakti Paang. Ternyata apa yang diucapkan Ki Dukuh Sakti Paang benar adanya, pulang ke alam sunia tanpa meninggalkan jasad. Dari sanalah mulai muncul kebingungan Kiai Agung Anglurah Pinatih terhadap sesoben Ki Dukuh Sakti Paang.

Setelah empat puluh dua hari lamanya muncullah segerombolan semut yang menyerang Kiai Agung Anglurah Pinatih, rakyat Kertalangu kebingungan sampai membatasi Puri dengan telaga, tenyata hal itu sia-sia. Mulailah Kiai Agung Anglurah Pinatih merencanakan mengungsi ngewanaprasta ke tempat lain di Desa Peninjoan. (BTN/bud).

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us