Mengkhawatirkan, Stok Pakan Monyet di Monkey Forest Sangeh

Mengkhawatirkan, Stok Pakan Monyet di Monkey Forest Sangeh

Setahun sudah pandemi Covid-19 merebak di Bali. Sebagian besar masyarakat merasakan dampak dari virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina itu. Terlebih, para pengelola hotel, restoran dan objek wisata serta usaha terkait pariwisata lainnya sangat merasakan sekali dampaknya. Mereka hanya bisa bertahan, dan dibarengi harapan pariwisata akan segera pulih. “Kami sangat khawatir, kalau pandemi ini berkepanjangan, maka stok pakan monyet akan segera habis,” kata Manajer Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Monkey Forest Sangeh, Made Mohon, Rabu (3/3).

Dalam setahun ini, jumlah kunjungan wisatawan ke DTW yang beralamat di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung itu terus saja menurun, sehingga tidak ada pemasukan bagi pengelola. Sementara, monyet sebagai daya tarik utama harus tetap makan serta menjamin kesehatannya tetap terjaga. Dalam menjaga itu harus ada dana. “Selama setahun ini, kami hanya menarik tabungan dari kas pengelola untuk pakan monyet. Karena, selama setahun ini tidak ada kunjungan maka tabungan kini mulai menipis. Jika tidak ada kunjungan hingga Juni 2021, maka kami perkirakan stok dana untuk membeli pakan monyet itu tidak mencukup, karena stok dana diperkirakan sampai bulan itu saja,” ungkap pria penjaga monyet ini serius.

Pada awal pandemi Covid-19, bantuan pakan monyet memang ada. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat silih berganti memberikan bantuan. Termasuk pula masyarakat Sangeh dan sekitarnya yang sanat peduli terhadap kebaradaan monyet penghuni htan pala ini. “Belakangan mulai berkurang, bahkan tidak ada sumbangan pakan monyet. Para donatur itu mungkin sudah merasakan pula dampaknya, sehingga untuk mereka kewalahan untuk menjadi bantuan. Kami tetap berharap sumbangan pakan bagi monyet itu tetap ada, sehingga monyet-mpnyet yang sudah jinak itu tidak menjadi liar dan nakal gara-gara tidak makan,” imbuhnya penuh harap.

Untuk menjaga stok pakan monyet itu, pihak pengelola tetap memberikan makan, tetapi volume dan jenisnya dikurangi. Adapun jenis pakan monyet itu, seperti ketela yang menjadi makanan pokok, pisang, roti, dan kadang-kadang beras. Dalam sehari, pengelola menyiapkan ketela sebanyak 200 Kg dan pisang 2 keranjang. Jika tidak ada pisang, bisa diganti dengan roti sebanyak 2 kampil. Ratusan monyet itu makan sebanyak 2 kali dalam sehari. Pagihari ketela, dan siang harinya makan pisang dan kadang-kadang roti atau beras. “Pengadaan makanan monyet itu dengan cara membeli dari warga sekitar. Pengelola membeli pada warga Sangeh, sehingga menjadi rejeki pula para petan. Jika dirata-ratakan, dalam sebulan pengelola membeli makan monyet saja, sekitar Rp 15.000.000,” imbuhnya.

Untuk kunjungan wisatawan, mantan pegawai hotel itu mengatakan, dalam sebulan jumlah unjungan wisatawan hanya 700 orang. Kalau dirata-ratakan perhari maka hanya jumlah kunjungan sebanyak 20 orang. Walau minim kunjungan, namun dibantu pula dengan foto prawedding. Sementara harga tiket tetap sama alias tidak ada diskon, yaitu untuk dewasa Rp 15 ribu, anak-anak Rp 5 ribu, sedangkan untuk asing dewasa Rp 30 ribu dan Rp 15 ribu untuk anak-anak. “Kami benar-benar tidak ada pemasukan, sehingga petugas yang menjaga objek secara bergiliran itu tidak mendapatkan gaji, alias ngayah,” tutupnya. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us