Menjaga Hutan, Sebuah Pesan Lewat Drama Gong “Candra Dwipa”

Menjaga Hutan, Sebuah Pesan Lewat Drama Gong “Candra Dwipa”

Rindu penonton terhadap pertunjukan daram,.pasti terhibur dengan penampilan Sanggar Seni Sekar Hati yang menyajikan Sekaa Drama Gong “Candra Dwipa” dalam Rekasadana (Pergelaran) pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII di Gedung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Selasa (15/6) malam. Sekaa seni yang beralamat di Banjar Kutuh, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar itu menyajikan pertunjukan seni yang sangat atraktif, kocak dan sarat pesan.

Penyajian tak jauh beda dengan drama gong tempo dulu, tetapi yang ini dikemas apik dan sarat pesan. Tema yang diangkat sesasui dengan tema PKB yakni “Purna Jiwa ; Prananing Wana Kerthi” yang lebih banyak menyampaikan pesan hutan beserta isinya sangat berguna untuk kehidupan, sehingga harus dijaga. Judulnya “Pusaka Murbeng Bumi” dan didukung sebanyak 14 orang pemain dan 19 penabuh. Menariknya, khusus untuk pemain drama melibatkan seniman dari tiga generasi, sebagai upaya untuk menciptakan regenerasi.

Penulis naskah, yaitu Ni Wayan Suratni, S.Sn, M.Sn yang juga sebagai koordinator serta pemeran Galuh Liku memadukan sistem manajeman lama dengan yang baru. Sebut saja, sistem pemababakan yang ditulis secara mendetail untuk megatur keluar masuk pemain. Berbeda dengan dulu, keluar masuk pemain berdasarkan ingatan, kesepakatan, sehingga cendrung berubah-ubah. Khusus untuk pembabakan dikekemas oleh Jero Mangku Suyadnya yang bertindak sebagai sutradara. Jero mangku berperan sebagi Dukuh merupakan pemain drama dong yang sudah sepuh, bertugas menggali ide, serta pesan-pesan moral yang ingin disanpaikan.

Adanya perbaduan antara sitem manejeman seni yang dulu dengan modern (sistem pendidikan seni pertunjukan sekarang) ini, membuat pementan drama ini menjadi sangat menarik, dan indah dipandang. Apalagi dipadu dengan para pemain senior, sehingga pembagian kalangan (pola lantai) menjadi seimbang dan sangat manis. Kekuatan acting dari para pemain sangat mendukung suasana setiap adegan, baik dalam suasana sedih saat desi pisah dengan ayahnya (dukuh), takut dan regang ketika adegan raksasa datang ke pedukuhan, jengkel ketika Patih Agung berupaya jahat, dan gembira saat Raja Muda berhasil membunuh raksasa dan bertemu Sang Putri. Suasana itu juga didukung dengan iringan gamelan yang menggunakan barunga gong kebyar.

Di dalam pentasnya, drama ini tak hanya sebagai pengobat rindu bagi penghobi drama gong, tetapi juga menyelipkan pesan moral utamanya mengajak semua orang untuk melestarkan alam, terutama tumbuh-tumbuhan. Para pemain senior, tampak piawai membeber kisah, baik yang berperan sebagai punakawan, patih ataupun raja hingga permaisuri. Semuanya tunduk kepada tema, sehingga apapun pembicaraannya pastinya menyinggung budaya masyarakat Bali dalam melestarikan hutan, seperti Tumperk Bubuh sebuah buadaya untu menghormati tanam-tanaman.

Empat punakawan, terdiri dari dua punakawan manis yakni Rawit dan Koplar dan dua punakawan Raja Buduh yaitu Topok dan Golek tampil kocak. Mereka terkadang menyelipkan dengan banyolan, sehingga mengundang gelak tawa penonton yang memang sedikit. Hal itu, bukan karena drama ini tidak memiliki penggemar. Tetapi karena penonton memang dibatas,i sebagai penerapan protocol kesehetan. Banyak masyrakat yang tidak bisa masuk karena kouta telah habis, sehingga disarankan menyaksikan lewat Chanel You Tube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Penonton yang hadir, mungkin rindu dengan penyajian seni yang mengutamakan akting dan vokal ini, sehingga menyiapkan segala syaratnya, seperti hasil swa negatif, chek suhu, bersihkan tangan dengan hand sanitizer dan memakai masker. Walau dengan penonton terbatas, Rawit dan Koplar mampu mngocok perut pengunjung PKB. Peonton yang terdiri dari orang tua, remaja itu terpingkal-pingkal dibuatnya. Belum lagi lawakan yang dilontarkan Topok dan Golak, dua punakawan raja buduh itu.

Pesan moral itu semakin kuat, ketika Dukuh menegaskan kepada anak-anaknya untuk tidak menyesali hidup di hutan. Ia lantas menjelaskan bagaimana suksmaning (beruntung) hidup di tengah hutan. Wana kertih itu artinya menjaga hutan dengan segala isinya. Hutan yang memberika kehidupan terhadap hidup manusia. Segala tumbuhan menjaga air, lalu diberikan kepada alam termasuk manusia. Maka itu, manusia mesti menghormati hutan. Dukuh lalu mengajak semua orang menjaga hutan secara bersama-sama. Putrinya mengerti dan siap menjaga hutan dengan segala isinya.

Adapun kisahnya. seorang raja di Kerajaan Buana Raja yang haus akan kedudukan. Semua raja-raja tetangga ditaklukan dengan berbagai tipu muslihat sampai dengan ilmu hitam. Melihat hal itu, para Dewata menurunkan seorang bidadari yang berupa raksasa bertempat di Alas Kutuh Ireng. Bidadari ini mendapat anugerah sebuah keris yang muncul dari Pohon Kutuh yang sangat besar yang bernama Pusaka Murbeng Bumi. Ia lantas menculik yang memiliki hubungan dinasti dengan raja-raja.

Pusaka itu kemudian diberikan kepada Raja Muda yang menjalankan darma ksatria untuk tetap menjaga keasrian hutan. Raksasa  kemudian melepaskan diri dari duniawi mwnuju dengan bantuan raja Muda itu. Raja Buana Raja dengan keris itu menyelesaikan berbagai rintangan. Raja Buana Raja dapat dikalahkan. Disamping kemenangannya, ia juga sangat bahagia karena bertemu dengan jodohnya Gusti Ayu Ulandari yang tidak lain adalah Diah Pradnyawati, sepupunya dari kerajaan Ratna Dwipa yang hilang sejak kecil. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us