“Nyobyahang Artikel” Uji Kemampuan Generasi Muda Menulis Artikel Bahasa Bali

“Nyobyahang Artikel” Uji Kemampuan Generasi Muda Menulis Artikel Bahasa Bali

Bagai ujian sarjana saja. Para peserta “Wimbakara” (Lomba) Artikel Bahasa Bali wajib “Nyobyahang” (mempresentasikan) hasil karyanya di depan dewan juri dan peserta lainnya. Artinya, para peserta itu tak hanya dituntut piawai menulis, tetapi juga lugas menyampaikan hasil gagasnnya itu. Tegang, itu pasti ada. Itulah suasana “Nyobyahang” artikel bahasa bali serangkaian dengan Bukan Bahasa Bali 2021 di ruang Sinema, Art Center, Denpasar, Minggu, 14 Februari 2021. Ada 10 (sepuluh) peserta yang nyobyahang artikel Bahasa Bali.

Salah satu peserta, Kadek Mustika memaparkan artikel dengan tema “Usadhi Lata”. Tema itu telah diberikan sebulan jadwal lomba. Setelah pengkajian ke lapangan, ia kemudian menyampaikan hasil tulisanya yang berjumlah 4 halaman itu. “Saya menulis Taru Premana Ngertiang Wana Nguripang Jadma. Isinya, adalah keberadaan tananam obat yang Alasannya, generasi muda sekarang banyak yang tidak mengetahui tanaman obat, sehingga kalau sakit lebih banyak mencari dokter. Survey mengatakan, sebanyak 47 persen anak muda tak mengenal tanaman obat. Padahal, saat ini pemerintah telah melaksanakan program melestarikan tanaman obat. Sayangnya, anak-anak muda jarang mengetahui tanaman obat,” ujarnya.

Tim Juri, Made Sudiana (Balai Bahasa Provinsi Bali) mengatakan, lomba penulisan artikel berbahasa Bali dikuti oleh 34 peserta. Penilaian dilakukan dua kali. Pertama, menilai naskah dengan kriteria penilaian, seperti kesesuain judul, keorisinalan ide, penalaran artikel, penggunaan bahasa, dan teknis penulisan. Penilaian pertama ini untuk menentukan sepuluh besar yang akan masuk ke babak penilaian berikutnya. Kedua, penilaian presentasi artikel. “Pada penilaian kedua ini meliputi orisinalitas, penyampaian materi, dan aspek komunikasi,” ucapnya.
.
Peserta yang masuk sepuluh besar semuanya dapat menyajikan karyanya dengan baik. Dari sepuluh peserta setengah lebih anak sekolah setingkat sekolah menengah atas. Anak-anak muda saat ini sudah mampu menulis artikel dalam bahasa Bali dan bisa menyajikan artikelnya dalam presentasi di depan dewan juri. Selebihnya guru dari berbagai bidang ilmu, bukan hanya pengajar bahasa Bali. “Dalam artikel yang dipresentasikan itu, peserta banyak mengetengahkan istilah-istilah baru dan kekinian dalam bahasa Bali. Memang tidak mudah, menulis artikel dalam bahasa Bali mempunyai tantangan tersendiri karena peserta harus menuliskan hal-hal modern dengan bahasa Bali,” katanya.

Presentasi yang dilakukan para peserta itu memperlihatkan kemampuan berbahasa tulis dengan bahasa Bali dan mampu mempresentasikan tulisannya dalam bahasa Bali.
“Para peserta luar biasa. Walaupun ada yang masih harus diperbaiki dalam lomba tahun-tahun berikutnya. Hal yang perlu diperbaikai adalah kreteria peserta tahun ini untuk umum dengan tanpa batasan umur. Hal ini tentu membuat peserta tidak seimbang. Siswa bersaing dengan guru-guru yang sudah berpengalaman. Batasan umur untuk peserta perlu diperhatikan pada lomba tahun mendatang,” paparnya.

Pelaksana Teknis Bulan Bahasa Bali, Made Mahesa Yuma Putra mengatakan, wimbakara artiklel Bahasa Bali ini sebagai ajang untuk mendidik generasi muda untuk mencintai Bahasa dan Sastra Bali. Tema yang diangkat sesuai dengan tema ajang Bulan Bahasa Bali 2021 yakni Wana Kerthi. “Karena itu, artikel yang dibuat tentang alam, bagamana melindungi hutan. Artikel yang dibuat menggunakan Aksara dan Bahasa Bali. “Pada Bulan Bahasa Bali tahun ini melaksanakan program Wimbakara Artikel Bahasa Bali, disatu sisi untuk melestarikan Bahasa dan Aksara Bali, disisi lain untuk melatih generasi menyusun artikel berbahasa Bali,” katanya.

Dalam artikel itu memaparkan tentang kegunaan tumbuh-tumbuhan sebagai dasar pengobatan tradisi, sehingga masyarakat Bali lebih bersemangat untuk mengatasi pandemic. Hal ini juga untuk melindungi serta mengetahui peranan dari pada isi hutan (tumbuhan) sebagai dasar untuk pengobatan. “Artikel yang mereka buat mesti mengacu pada tema Bulan Bahasa Bali yakni Wana Kerthi dengan judul “Tambananin Sarwa Hutan” yang artinya, bagaimana hutan sebagai dasar dari pada pengobatan yang herbal, tanpa efek samping,” ungkapnya.

Pesertanya, dari katagori umum yang diikuti sebanyak 38 peserta. Para peserta mula-mula diberikan tema, lalu melakukan penelitiaan ataupun pengamatan lalu menyusun artikel. Setelah selesai dikumpul dan diseleksi, kemudian memilih 10 artikel untuk melakukan presentasi. Masing-masing peserta nyobyahang artikel sekitar 5 – 10 menit. Setelah itu akan memilih tiga besar menjadi pemenang. “Pemaparan artikel ini penting, apalah itu benar hasil penelitiannya, apakah nyambung antara yang mereka tulis dan yang dipresentasikan. Saat presentasi itu, para memaparkan hasil karyanya, apakah benar karya peserta itu sendiri atau tidak. Sekaranglah pembuktiannya,” ujarnya serius.

Selain I Made Sudiana, S.S., M.Hum. Staf Balai Bahasa Bali, ada pula Drs. I Wayan Westa Budayawan dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra., S.S., M.Hum., Dosen Universitas Udayana sebagai dewan juri. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us