Panji Tisna, Sastrawan dan Pencetus Pariwisata Bali Utara

Panji Tisna,  Sastrawan dan Pencetus Pariwisata Bali Utara

Anak Agung Nyoman Panji Tisna dikenal sebagai seorang sastrawan dari Bali Utara. Kiprahnya tercatat sebagai sastrawan besar sekaligus pencetus pariwisata Bali Utara. Novel karyanya, ada yang ekspresi dan fleksibilitas lokal dan mengusung kebudayaan lokal Bali ke halaman depan sastra Indonesia. Karya-karyanya memiliki lokalitas sastra Indonesia yang menyelamatkan modalitas sastra di Indonesia, seperti Swasta Setahun di Bedahulu, hingga Sukreni Gadis Bali.

Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Djoko Saryono pada diskusi bertutur tentang sepak Terjang Panji Tisna, dalam agenda ‘Tribute to Panji Tisna’ Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (13/10). Dalam agenda FSBJ IV kali ini, Tokoh Panji Tisna kembali dikenang sebagai bentuk penghormatan kepada sang maestro. Disamping diskusi, ditampilkan pula tari kontemporer diambil dari cerita Sukreni Gadis Bali.

Panji Tisna, kelahiran Buleleng pada tanggal 11 Februari 1908, dan meninggal pada usianya di 70 tahun, tepatnya 2 Juni 1978 silam. Panji Tisna juga merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, dan ayahnya adalah Raja Buleleng X, Anak Agung Jelantik. Sementara pada tahun 1947 Panji Tisna turun dari tahta kerajaannya karena permasalahan yang ada waktu itu, sehingga tahtanya digantikan oleh adiknya yang bernama Anak Agung Ngurah Ketut Jelantik, atau dikenal Gusti Ketut Jelantik.

Prof. Dr. Djoko Saryono, menjelaskan karya Anak Agung Panji Tisna bukan dari sekedar dari novelnya saja. Hadirnya novel-novel Panji Tisna tentu pengarang lain memberikan warna dan culture sastra Indonesia, dan menumbuhkan multikulturalisme. Pelaksanaan FSBJ IV tahun 2022 ini sudah seharusnya diakui berkat karya sastra Anak Agung Panji Tisna dapat ditempatkan sebagai pengarah klasik sastra Indonesia. “Sastra Indonesia berhutang budi pada karya-karya Panji Tisna sebagai salah satu tonggak sastra Indonesia. Selalu kita ingat, selalu kami dan merenungkan kembali agar kita tahu bagaimana perjalanannya,” imbuh Saryono.

Panji Tisna juga seorang tokoh perintis pariwisata Bali, yakni di pantai Bali utara, sehingga diakui sebagai Bapak Pariwisata Bali. Hal itu pun diakui oleh narasumber dialog penghormatan kepada maestro Panji Tisna, yaitu Wayan Artika yang merupakan sastrawan. Artika menegaskan, Panji Tisna tidak dikenal bukan lagi sebatas pengarang dan sastrawan, namun pada pariwisata Bali.

Panji Tisna meninggalkan puri ingin dekat dengan masyarakat dan berkebun jeruk sambil mendalami bahasa dan pengetahuannya waktu itu. “Beliau juga merintis bioskop di Bali utara, dan tidak kalah penting mengembangkan destinasi kecil di wilayah Kaliasem. Beliau membangun penginapan pertamanan dan resto pertama di Buleleng yang bernama Puri Tasikmadu, itu sayangnya runtuh, tapi 0 Kilometer Lovina masih ditemui,” tegas Astika.

Astika mengatakan Festival Seni Bali Jani ini harus dibuka lembaran baru, dan cara pandang maestro yang dikenal sastrawan juga sosok tokoh pariwisata. Salah satunya perintis daerah pariwisata Pantai Lovina dan dolphin ikon khasnya, ternyata Lovina sebuah nama wilayah kecil awalnya, tetapi sekarang juga sudah menjadi merek dagang, meluas hampir sampai ke seririt.

“Saya juga tengah membangun museum beliau, literatur sedang kami kembangkan petanya. Bali, Buleleng khususnya tidak pariwisata budaya, pariwisata alam, tapi kami mengembangkan menjadi destinasi baru, yaitu destinasi pariwisata sastra,” tandas Artika. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us