Parajin Patung JAS Terancam Tinggal Kenangan

Parajin Patung JAS Terancam Tinggal Kenangan

Pada tahun 70-an hingga 90-an, patung hasil produksi para perajin di Desa Jagapati, Angantaka dan Sedang (JAS) sangat terkenal. Masyarakat, terlebih wisatawan sangat menyukai patung JAS yang berwujud nelayan (mencari ikan menggunakan jaring), nelayan mancing serta bapak tua dengan kurungan (ayam jantan dalam sangkar). Maka tak heran, hampir seluruh masyarakat yang terlibat dalam produksi patung berbahan kayu itu. “Tahun 70-an hingga 90-an adalah masa jayanya kerajinan Patung JAS,” kata Ketua Perajin JAS, Nypman Sutapa, Senin (2/10).

Sayangnya, lanjut pria kalem yang tinggal di Desa Angataka, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali ini, kondisi perajinan patung JAS semakin memprihatinkan. Patung JAS yang sudah terkenal puluhan tahun itu, nasibnya kini tak semakin baik. Bahkan, semakin suram, dan mati suri. Keberadaan patung JAS ini terancam punah, kartena tidak ada regenerasi. “Mungkin angkatan saya ini sebagai generasi terakhir patung JAS ini. Anak-anak muda sekarang, hanya satu dua yang peduli dengan patung khas Badung Tengah ini,” ungkapnya.

Menurut Sutapa, generasi patung JAS ini pada awalnya menekuni kerajinan patung untuk melanjutkan kerajinan patung dari generasi sebelumnya. Artinya, profesi ini dilakukan secara turun temurun. Saat itu, memproduksi patung adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan, karena setiap membuat patung selalu laku dipasaran. Hal itu sangat membantu perekonomian masyarakat dari menjual patung. Hal itu juga berimbas pada biaya sekolah untuk kalangan anak-anak di tiga desa tersebut. “Saat itu, untuk biaya sekolah kami dari menjual kerajinan patung ini,” kenangnya.

Di desa Angatka saja, hampir 80 persen penduduknya menggeluti profesi sebagai perajin patung. Itu memang sangat menjanjikan. Patung yang diproduksi itu, di pasarkan di Ubud, sehingga hampir setiap hari mengirim patung ke desa seni itu. “Namun, setelah Bom Bali 2002, kondisi pasar patung JAS kemudian menurun karena pengaruh dari kondisi pariwisata Bali. “Setelah Bom Bali itu terjadi pergeseran pasar. Jujur, kami tak bisa mengikuti trend yang ada. Kami tetap fokus pada kekhasan patung JAS ini,” ucapnya serius.

Perajin JAS memang tak mau mengikuti selera pasar, sehingga produktivitas para perajin semakin menurun. Pada saat itu, pemerintah Kabupaten Badung sempat memberikan bantuan peralatan kerja untuk kerja di kawasan JAS. Bukannya semakin maju, melainkan kondisinya terus merosot. “Peran pemerintah untuk membantu para perajin JAS itu cukup ada. Ide-ide yang disodorkan pemerintah juga sangat bagus. Hanya saja kebijakan itu perjalanannya tidak semulus yang diinginkan,” imbuhnya.

Harga patung kecil, dengan lama pengerjaan sering tak sesuai. Patung kecil itu minimal dijual seharga 750. Walau bentuknya kecil, namun patung ini tak bisa dikerjakan buru-buru, agar cepat selesai untuk mengejar kos. Membuat patung ini, adalah bahasa seni bahasa kerajinan yang dapat dilihat dari proses berproduksi. “Bahasa art dan bahasa bisnis itu memang beda. Ini memang betul- betul rumit dalam pengerjaannya,” yakinnya

Kalau dilihat dari kerumitan dalam memproduksi, sesungguhnya harga itu masih kurang. Proses mengerjakannya yang cukup lama. Kalau dibandingkaan dengan ongkos tukang harian ini memang tak sesuai. Artinya harian para perajin ini jauh lebih rendah jika dibanding dengan harga harian para tukang bangunan. “Maka, wajar masyarakat lebih memilih pekerjaan lain, dari pada sebagai perajin patung. Itu memang menjadi salah satu kendala,” lanjutnya.

Saat ini, perajin JAS juga difasilitasi showroom oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung yang berada di Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung. Para perajin JAS melakukan display peroduksinya di kawasan ini. Lokasinya, memang sangat bagus karena sangat dekat dengan tamu tamu Pemkab Badung. Hanya saja lakunya yang kurang, sehingga membuat patung ini semakin sulit diproduksi.

Jika dulu, pada tahun 70-an da 90an julah perajin patung JAS sangat banyak, bahkan hampir semua masyarakat di tiga desa ini memproduksi patung. Namun, mulai bom itu banyak yang meningglkan profesi ini. Ada yang beralih sebagai petani bunga, tukang bangunan, guide, Satpam dan pegawai pariwisata yang memang menjanjikan. “Kami memohon bantuan semua pihak, agar kerajinan patung JAS tidak punah. Kalau bisa bantu disalurkan, sehingga kegiatan para perajin JAS masih ada. Ada yang memiji saja, maka semangat para perajin JAS pasti muncul,” ucapnya.

Sutapa kemudian berharap, semoga ini bisa didengar oleh Pemkab Badung atau Pemerintah Provinsi Bali. Karya perajin JAS ini bisa diikutkan sebagai kegiatan pameran, sehingga patung khas ini tidak punah. “Yang penting ada yang berminat melihat patung JAS, juga menikmati hasil karya ini, sehingga kami tak hanya memprosuksi. Jika ada yang menikmati, kami sangat senang, sehingga kekayaan ini tidak punah,” pungkas Sutapa. (BTN/bud)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us