Pariwisata Budaya, Pilihan Krama Bali

Pariwisata Budaya, Pilihan Krama Bali

Hampir dua tahun dua dibekap pandemic Covid-19. Tak pelak, kondisi ini membuat perubahan yang signifikan bagia perkembangan dunia. Tidak ada Negara yang tidak  terdampak. Baik secara social, kultural, finansial serta lainnya. Fenomena pandemic ini tak pelak membuat semacam tata baru dalam kehidupan umat manuisa.  Ahli mengatakan bahwa virus ini akan selamanya ada, tinggal bagaimana manusia mempersiapkan diri untuk beradaptasi.

Bali sebagai bagian dari masyarakat dunia, pengaruh pandemic ini memang sangat luar biasa. Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik dunia mengalami mati suri. Hampir tidak ada denyut nadi wisata yang terdeteksi. Walaupun ada, itu sifatnya sangat sporadic dan tidak menimbulkan efek esensial.

Nah, ketika kondisi ini berlanjut dan semua pihak sudah berjuang untuk segera keluar dari krisi ini, muncul semacap opsi, apakah Bali tetap bertahan dis ektor pariwisata budaya ini ataukan ada alternative lain Misalnya, back to basic lagi ke sector pertania seperti  dulu di era 1970-an?

Sebagai seseorang yang mengais rezeki di pariwisata dari tahun 1969, saya tergelitik untuk sekadar urun pendapat. Manakala krama Bali di hadapkan kepada dua pilihan seperti ini, sebaiknya kitai memilih pariwisata budaya. Pariwisata budaya yg bernafaskan Agama Hindu, serta diwarnai oleh budaya agraris yang tidak bisa tidak mesti ada dalam ingkai pariwisata budaya tersebut..

Pilihan saya ini didasarkan pada apa yg ditulis di Bali Post yg menguraikan bahwa minat wisman datang untuk berkunjung ke Bali sangat tinggi yg didukung oleh daya saing dalam aspek 3A2P (Attraction, Amenities, Accomodation, People and Promotion). Hal ini sangat luar biasa, apalagi kita punya menteri yang khusus untuk mengurus pariwisata.

Pariwisata Bali mempunyai sejarah yg panjang.  Sektor lplesiran di Pulau Dewata ini dimulai dengan didirikannya Koninlijke Paketvaart Maatsscappij (K.P.M), sebuah perusahaan pelayaran Belanda yang beroperasi di Hindia Belanda. KPM  mengurus pegawai Belanda yang datang dari Batavia (Jakarta) untuk berlibur ke Bali . Untuk menunjang kondisi ini maka didirikanlah Bali Hotel di Denpasar, walaupun kapal mereka berlabuh di Buleleng.

Selain pegawai Belanda itu, datang juga wisman umum yang tidak jarang merupakan tokoh besar dunia. Misalnya Miguel Covarrudias yang datang bersama istrinya dan menulis buku yg sangat phenomenal berjudul ‘THE ISLAND OF BALI. Kemudian ada juga artis dan ‘scholar’ yg datang ke Bali, seperti Walter Spies, Margareth Meads, DR Goris, dan sederatan nama yg beken d idunia internasional. Merekalah yang turut andil memperomosikan Bali di pentas global.

Beberapa tahun yg lalu, datang seorang wisatawan dari Belgia, Eric Domb, yg mendirikan pura yang sangat besar di Belgia, yakni Pura Santi Bhuwana yang  dikunjungi banyak turis asing. Orang-orang pariwisata di Bali, tentu tidak akan lupa dengan nama Le Mayour sebagai pelukis Belgia, menetap di Bali dan menikah dengan  Ni Polok  yg merupakan modelnya. Mayeur kemudian  menyerahkan musiumnya yang berlokasi di sanur kepada pemerintah.

Sebelum pandemi melanda,  Bali memberikan devisa yg luar biasa kepada pemerintah sehingga ada yg mengatakan, Bali ibarat ayam bertelur emas. Atas dasar semua yg diterangkan di atas maka saya sangat optimistis untuk memilih Bali tetap di bidang pariwisata budaya. Saat ini memang sangat sangat berat. Tetapi, dengan kerja keras kita, dengan menerapkan protocol kesehatan emmakai masker, sering cuci tangan di air mengalir dan menghindari kerumunan, saya yakin atas ptuduh Hyang Widhi kasus Covid ini akan cepat turun.  

Membandingan pariwisata Bali sekarang dengan pada saat era 1970- ketika saya masih memulainya tentu sangat sangat beda. Baik dari sisi infrastruktur, fasilitas, kondisi destinasi, kebijakan pemerintah, factor sumber daya manus dan sebagainya. Kini, kita sudah sangat kompetitif dan sudah saatnya kita tetap optimis dan lebih semangat untuk tetap berada di jalur pariwisata budaya. Kalaupun ada kekurangan, kekeliruan, mari saling emberikan masukan demia kecintaan kita kepada Bali.

Sekali lagi saya tekankan, krama Bali yang saya cintai tidak meninggalkan pariwisata budaya. Kita mesti sering berdiskusi dengan berbagai  sudut pandang yg berbeda. Namun hendaknya,  sudut pandang yg berbeda dipakai untuk memperluas cakrawala dan mempertajam wawasan. Semoga pandemi Covid 19 cepat berlalu.

I Gusti Kompyang Pujawan MBA, Panglinsir Pasemetonan Denpasar-Fukuoka

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us