Penggiat Teater Ramaikan Workshop Drama Bali Modern BBB VI

Penggiat Teater Ramaikan Workshop Drama Bali Modern BBB VI

Workshop Drama Bali Modern yang berlangsung di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali diminati generasi muda, khususnya pecinta teater. Mereka mengikuti dengan serius, tanpa meninggalkan acara sebelum usai. Workshop serangkaian Bulan Bahasa Bali (BBB) VI ini diikuti oleh siswa SMA/SMK, penyuluh bahasa Bali, dan masyarakat umum. Tak sedikit peserta yang bertanya, sehingga suasana workshop menjadi lebih hidup.

Demikian pula pada kegiatan pratek, para peserta menyaksikan dengan teliti, bahkan ikut pratek untuk merasakan secara langsung. “Drama Bali Modern itu merupakan salah satu seni pertunjukan di Bali. Drama itu menyajikan seni yang mengangkat cerita melalui jiwa dan raga, seorang pemain drama,” kata Sastrawan Dr. A.A. Mas Ruscitadewi, M.Phil.H, yang tampil sebagai narasumber bersama narasumber I Made Sidia, S.Sp.,M.Sn seorang dalang yang juga seorang dosen Pedalangan ISI Denpasar.

Mas Ruscita mengatakan, ada dua bidang seni yang terkait dengan pertunjukan drama itu, yakni sastra (cerita) ibaratnya ayah, dan seni pertunjukan itu sebagai ibu. Kedua ini sangat berkaitan, seperti suami istri. Drama modern itu menggunakan bahasa Bali dalam menyampaijkan pesan, sehingga disebut dengan Drama Bali Modern. “Drama itu tidak berada di depan atau belakang, tetapi ada di dalam jiwa dan raga pemain,” ucapnya.

Ada tiga hal yang penting dalam pertunjukan dalam Drama Bali Modern itu, yakni Wirasa yang memiliki rasa, Wiraga memiliki raga, dan Wirama memiliki tembang, seperti ombak dan ayunan. Wirasa itu tidak dapat dilihat, tetapi dirasakan. Kalau Wiraga, itu adalah karya sastranya. Apakah itu karya sastra berupa kekawin, geguritan, cerita, cerita panjang, puisi, drama dan lainnya. Karema karya sastra itu mempenguruhi drama secara keseluruhan.

Sementara narasumber I Made Sidia, S.Sp.,M.Sn memaparkan tentang Drama Wayang Modern Bali. Drama wayang itu terdiri dari tradisi sesuai dengan pakem, drama wayang inovasi yang dibuat baru serta drama wayang konetmporer sesuai dengan perkembangan jaman (Bali Jani). “Kalau membicarakan drama, wayang itu adalah drama. Ketika pertunjukan wayang tradisi ini dimulai dengan wirama, ada yang disajikan dengan menggelegar dan ada pula yang halus,” sebutnya.

Pertunjukan drama tradisi pada umumnya tanpa naskah. Semua peran dan kisah itu dibagi di belakang panggung. Berbeda dengan drama modern yang memakai naskah. Sementara wayang memakai transkrip. Wayang tradisi itu biasa memakai kelir 3 atau 5 meter, tetap drama wayang moderm itu menggunakan genre layar seperti film. Drama wayang modern juga didukung dengan alat yang modern, seperti menggunakan lampu sport, proyektor yang kini disebut video mapping. Untuk meyakinkan para pesert, Dosen Pedalangan ISI Denpasar ini juga menyajikan contoh karya wayang kontemporer yang pernah digarapnya.

Kurator BBB VI, Drs. I Gede Nala Antara, M.Hum mengatakan, Workshop Drama Bali Modern serangkaian Bulan Bahasa Bali ini penting diberikan kepada anak-anak, khususnya penggiat seni drama dan teater. Dengan begitu, mereka bisa membedakan yang mani drama tradisi dan drama modern. Drama Bali modern itu utamanya isinya berbahasa Bali. Namun, semua pementas drama itu tidak murni bisa bahasa Bali. Sebut saja, ketika menyajikan cerita yang menampilkan tokoh menggambarkan seorang dari Jawa tentu berbeda bahasanya. “Maka itu bahasanya bisa dicampur,” ucapnya.

Demikian pula, kalau tokoh itu orang Bali maka tidak mesti menggunakan bahasa Bali yang standar. Sebab, kalau tokoh itu dari Buleleng maka bisa saja menggunakan bahasa Bali dengan dialek Buleleng, demikian kalau tokohnya orang asing, maka mereka menggunakan bahasa Inggris. Kalau pun nantinya orang asing itu belajar bahasa Bali, tentu kemampuan sutradara yang akan mengelola dialog itu. “Itulah warna dalam drama Bali modern. Nah, tergantung dari alur cerita dan tokoh-tokohnya termasuk pula settingnya,” ucapnya.

Lalu, mungkinkah drama Bali modern itu mengambil cerita dari teks tradisi yang diadaptasi menjadi modern. Bentuk teaternya modern, namun bisa mengangkat cerita modern dan bisa pula cerita tradisi yang diadaptasi kekinian. Itulah yang mesti dipahami para peserta workshop, dan terbukti mereka antusias mengikuti. “Peserta yang hadir sangat kritis. Hal itu bisa dilihat dari petanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada narasumber. Ada yang menanyakan Tokoh Rahawana yang digambarkan boldoser. Itu yang diadaptasi dasi dari tradisi ke seni modern,” ucapnya. (BTN/bud)

Anin Eka
AUTHOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Need Help? Chat with us